Hello, I Am Bryan

Hello, I Am Bryan
Alexander Bryan Hartadinata


__ADS_3

"Ngapain loe Lex? Nongkrong di jendela?"


"Ga ngapa ngapain, loe dah kelar?"


"Udah nih, rapatnya juga ga lama lama, cuma seputaran penerimaan siswa baru aja, loe beneran ga mau terlibat panitia penerimaan?"


"Ga deh Cal, gue ngamatin dari jauh aja"


"Tapi tetep ya, mereka harus minta tanda tangan loe, mereka harus kenal juga sama loe"


"Harus banget ya Cal? Gue males berhubungan sama ribetnya penerimaan itu Cal"


"Ga bisa, loe udah ga ikut jadi panitia, setidaknya loe bantuin jadi penyelenggara"


"Itu sih sama aja"


"Lex ayolah, mau sampai kapan loe ngurung diri gini, ga mau berhubungan sama dunia luar, coba buka mata loe dan lihat dunia diluar itu tuh seru banget Lex"


"Gue ga seperti loe Cal"


"Lex..."


"Cukup Cal, gue ga mau berdebat lagi sama loe, kita pulang aja"


Kata kata Alex membuat Caleb terdiam, sebenarnya Alex bukanlah anak yang pendiam dan pemurung, sejak kecil Alex adalah anak yang ceria, lincah dan sangat jenius, hanya saja semenjak kejadian liburan akhir semester 2 tahun lalu, Alex menjadi orang yang sangat tertutup, tidak mau membuka diri untuk apapun yang berasal dari luar lingkungannya. Caleb semakin teriris melihat tingkah Alex, dalam hati Caleb sudah berjanji untuk tidak akan pernah meninggalkan Alex apapun yang terjadi, Alex sudah seperti saudara kandungnya sendiri. Ditambah lagi keadaan Alex yang seperti ini sedikit banyak ada andil Caleb di dalamnya. Caleb sudah berulangkali meminta maaf dan meminta Alex untuk menumpahkan semua kekesalannya pada Caleb. Tapi Alex tidak pernah bergeming, Alex malah tenggelam semakin dalam pada pemikiran pemikiran yang hanya Alex sendiri yang tahu. Tidak ada yang tahu apa yang bisa dilakukan untuk mengembalikan Alex ceria yang dulu, termasuk orang tua Alex.


"Ayo Cal, loe dah nelpon Pak Min kan?"


Suara Alex membuyarkan lamunan Caleb


"Udah gue kabarin, Pak Min dah di bawah, ayo, loe mau langsung pulang ke rumah atau ke Cafe dulu?"

__ADS_1


"Gue mau pulang"


"Anak anak mau ngerayain kenaikan kelas kita lho Lex, loe ga mau ikut?"


Alex tidak menjawab Caleb, hanya tatapan dingin yang menjawab pertanyaan Caleb, dari tatapannya Caleb sudah paham Alex ga akan mau ikut


"Loe kalo mau ikut, ikut aja, gue mau di rumah"


"Gue temenin loe aja"


"Loe bukan pengawal gue Cal, loe pergi aja, bersenang senang dulu, gue ga papa"


"Tapi Lex"


"Gue ga papa Cal, loe paham kan?"


"Ya, gue paham"


Mobil yang ditumpangi Caleb dan Alex masuk ke pekarangan luas salah satu rumah di Kawasan Langit Biru, rumah itu terletak di sudut Kompleks dan terlihat lebih luas dari rumah lainnya, wajar saja karena Orang Tua Alex adalah orang terkaya nomor satu di Kota A dan pemilik dari Kawasan Langit Biru. Sesampainya di depan rumah bak istana itu, Alex dan Caleb turun.


"Loe ga diantar Pak Min aja?"


"Ga usah, biar Pak Min istirahat, gue mw bawa motor aja, biar cepet. Loe beneran ga mau ikut Lex"


"Loe tau gue ga ngomong dua kali Cal"


"Oke, gue duluan, Pak Min makasih ya..."


"Ya Den Caleb"


Selepas perginya Caleb, Alex memasuki rumahnya, luas, nyaman, bersih tapi sepi. Alex anak tunggal, semasa kecilnya Alex hanya ditemani oleh Bik Ijah, istri dari Pak Min supir pribadi keluarganya. Orang tua Alex sibuk berbisnis keluar negeri dan hanya sesekali datang untuk menengok anak semata wayangnya. Hanya Caleb yang selalu menemani Alex bermain, meski begitu Alex tidak pernah mengeluh, Alex tumbuh menjadi anak laki laki yang periang dan lincah, kejeniusan yang ditunjukkan dalam setiap perkembangannya membuat siapapun yang melihat akan terpana, bakatnya ini menurun dari kedua orang tuanya. Seiring berjalannya waktu Caleb dan Alex tumbuh bersama layaknya saudara kandung, Caleb menghabiskan sebagian besar waktunya di rumah Alex, Caleb adalah anak dari kolega orang tua Alex yang juga tajir melintir, Caleb memiliki 2 saudara perempuan, karena tidak sepermainan dengan saudari saudarinya, Caleb lebih memilih bermain bersama Alex bahkan tinggal serumah. Orang tua mereka tidak keberatan, malah semakin mempererat hubungan antar dua keluarga mereka.

__ADS_1


Namun semua berubah setelah kejadian 2 tahun lalu, keriangan dan keceriaan Alex seolah sirna tertelan bumi. Alex berubah 180 derajat, menjadi anak yang sangat tertutup dan tidak mudah berkompromi dengan orang. Hanya Caleb yang menemaninya setiap saat dan tanpa lelah menemani Alex meski terus menerima penolakan dari Alex. Alex akhirnya berdamai dengan keadaan dan mau menerima Caleb meski masih sedikit tertutup.


Alex kemudian naik ke kamarnya di lantai atas, di perjalanan menuju ke kamarnya, Alex bertemu Bik Ijah


"Siang Bik"


"Siang Den, mau makan siang Den, bibik siapin ya"


"Minta tolong bawain ke kamar aja ya Bik"


"Baik Den"


"Makasih Bik"


Alex kembali melangkahkan kakinya menuju kamar, meninggalkan Bik Ijah yang masih menatap tuan mudanya dengan tatapan sayang namun terkesan sendu.


Dalam hati Bik Ijah sangat bersedih... Ya Allah Den... Sampai kapan aden jadi pemurung begini, bibik sedih liat Den Alex seperti ini, Bibik pengen liat Aden seperti Den Alex Ceria yang bibik kenal dulu. Mau bermain main bersama Bibik, cerita semua yang terjadi sama Aden di sekolah, Bibik rindu semua itu. Dengan langkah pelan, Bik Ijah menuju dapur dan menyiapkan makan siang untuk tuan muda kesayangannya itu. Dalam hati bik Ijah berdoa semoga ada keajaiban tangan Tuhan yang mampu mengembalikan keceriaan tuan mudanya lagi.


Alex sampai dikamarnya, menanggalkan tangan kanannya, ya Alex kehilangan tangan kanan Alex 2 tahun silam, sejak saat itu kemana mana Alex harus menggunakan tangan palsu itu. Alex kehilangan kepercayaan dirinya, Alex benci jika harus menjawab serentetan pertanyaan tentang kejadian yang merubah hidupnya ini. Alex benci tatapan kasihan dari semua orang yang Alex tau terkadang mereka tidak tulus, mereka hanya berharap memiliki hubungan baik dengan orang tuanya. Alex benci menerima kenyataan hidupnya harus berjalan seperti ini. Alex menanggalkan pakaiannya dan mengganti dengan pakaian rumah, meski hanya memiliki tangan kiri, Alex tidak membutuhkan atau lebih tepatnya tidak menginginkan bantuan dari orang lain. Alex dari kecil memang kidal, tapi tetap saja kehilangan tangan kanan melambatkan semua pergerakannya. Membuatnya menjadi manusia yang tidak sempurna.


Setelah berganti pakaian, Alex membaringkan badannya di ranjang empuk miliknya, pernah terlintas dalam pikirannya untuk mengakhiri hidupnya, bagi seorang pria sepertinya, menjadi "TIDAK LENGKAP" adalah hal yang sangat memalukan. Namun Alex berusaha keras menepis pikiran buruknya itu. Alex selalu mengulang ulang perkataan Papanya, yang dia tahu, pasti papanya juga sangat terpukul menerima kenyataan ini, namun berusaha membesarkan hatinya. Orang tua Alex memang sibuk, tapi tumbuh kembang Alex tidak pernah luput dari perhatian kedua orang tuanya, Alex tidak merasa kekurangan kasih sayang orang tuanya, karena sosok mereka selalu hadir disetiap saat Alex membutuhkan mereka.


Papa Alex pernah berkata, "Bagaimanapun keadaanmu Nak, kamu tetap anak Papa dan Mama, darah daging Papa dan Mama, keadaan mu ini jangan mengecilkan hatimu Nak, kelak kau tetap akan menggantikan Papa, dimata Papa dan Mama, kamu tetap anak kebanggaan kami Lex, kamu harus selalu ingat itu, kamu tidak akan pernah sendiri, apapun keputusan kamu, kami akan selalu ada di belakang kamu Nak... Bangkitlah Nak... Kamu pasti bisa menemukan hal hal yang baik dengan ketentuan yang diberikan Tuhan padamu sekarang". Saat itu Alex hanya mampu terdiam dan tak bergeming dari ranjangnya, pikirannya masih melayang dan mempertanyakan rasa sayang Tuhan padanya. Alex larut dalam pemikirannya sendiri, tidak menyadari Bik Ijah yang masuk ke kamarnya membawakan makan siang.


"Den ini makan siangnya"


"Terima Kasih Bik"


"Bibik pamit ya, habis makan aden istirahat saja, nanti sore baru bibik ambil piringnya"


"Iya Bik"

__ADS_1


Alex menghabiskan makan siang yang sudah disiapkan oleh Bik Ijah, merapikannya kembali ke nampan dan duduk kembali di meja kerjanya, merenung. Tanpa sadar, Alex terbawa ke alam mimpi, ke ruang waktu dimana dia ingin saat tersadar kembali, kejadian yang telah menimpanya ternyata tidak terjadi dan hanya terjadi di dalam mimpi.


__ADS_2