Hello, I Am Bryan

Hello, I Am Bryan
Percakapan Menyenangkan!!


__ADS_3

Jam dinding di Hall sudah menunjukkan pukul 11.30, artinya 30 menit lagi waktunya istirahat. Harap harap cemas sudah mulai menghinggapi pikiran dan jantung Val...


"Bentar lagi jam istirahat Archie, sudah dapat berapa tanda tangan?" Tanya Vina


"Bukunya di Nayla kan terakhir"


"Nay, dah berapa tanda tangan yang kita dapat?"


"Lumayanlah, sudah 23 tanda tangan, tinggal 12 lagi, masih mending kita dibanding kelompok lain"


"Masih banyak ya..."


"Iya, coba kamu bisa ngikutin note kakak kelas itu, kita sisa cari 2 lagi Val"


"Sudah, jangan dibahas dulu, masih ada setengah jam, kita coba yuk" Timpal Archie


"Mau coba apalagi Archie, berapa jam kita muter muter tadi cuma dapat 12 org nih... Apalagi cuma setengah jam, kita juga udah pada capek dari nyari kakak kakak itu, belum ngerjain syarat syaratnya... Kaki aku udah meronta Archie..."


"Vin, apa aku ikutin aja ya notenya? Toh dia juga ga akan berani macam macam kan ya? Apalagi ada kamu"


" Ya kalo menurut aku, kamu ikutin aja dulu, kamu juga bisa meluruskan kesalahpahaman yang dulu kan?"


"Kok dia masih inget ya Val, padahal ini udah hampir setahun lho, aku aja udah lupa?"


"Ga ngerti juga Val"


"Ya deh aku coba Vin. Nay, habis makan siang, bukunya kasih aku, aku mau ketemu kakak ketua panitia"


"Serius Val?"


"Serius Nay... Mana bukunya? Selesai makan siang aku bawa ya... Nama namanya dah dicatat kan?"


"Iya Val, udah semua, tinggal tanda tangannya aja..."


"Oke"


Mereka kemudian berjalan beriringan menuju lokasi makan siang di taman belakang Hall mereka berkumpul, selesai makan dan istirahat sebentar Val dan Vina pamit ke teman kelompoknya untuk bertemu kak Caleb.


"Kami pamit ya"


"Semoga berhasil ya kawan kawan" Aidil melambaikan tangannya sambil tetap mengunyah makanan yang masih memenuhi mulutnya


"Dasar kamu itu emang mau enaknya aja"


"Lahhh, kamu kan ngajak Vina bukan ngajak aku, aku cuma bisa bantu doa dong"


"Terserah ah"


Tak sengaja mata Val bertatapan dengan Archie, ada raut wajah lain ditunjukkan Archie padanya, marah bukan, sedih apalagi bukan, terus kenapa Archi, Val mau bertanya tapi tangannya keburu ditarik Vina.


Diperjalanan menuju ruangan yang ditunjuk kak Caleb, mereka bertemu Cindy


"Kalian mau ke mana?"


"Val dipanggil kak Caleb Cin, kamu mau ikut nemenin?"


"Hah yang bener? Kak Caleb masih ingat kejadian itu Val?" Yang dijawab anggukan oleh kedua sahabatnya

__ADS_1


" Aku sih mau banget ikut Vin, Val, tapi aku udah janji sama teman sekelompok aku buat nyari tanda tangan lagi, takut kita masih ada utang tanda tangan di akhir MOS, bisa kena hukuman kelompok aku. Besok besok takut udah ga seluang sekarang waktunya, apalagi besok udah mencar mencar kan sesuai kelas materi"


"Ga papa Cin, lanjut aja, ada Vina..."


"Semangat ya Val... Vin besok aku jemput lagi, aku malas perjalanan jauh sendirian"


"Sipp, aku tunggu Cin"


"Kami jalan ya..."


"Iya Val, Vin..."


Mereka berpisah menuju tujuan masing masing. Val dan Vina menaiki tangga yang membawa mereka ke lantai 3 gedung sekolah ini. Lantai 3 bukan untuk kelas, lantai 3 kebanyakan digunakan untuk kelas ekskul dan homebase club club yang ada di SMA ini...


Setelah sampai di lantai 3, mereka langsung menuju ruangan yang berada di sudut kanan tangga. Ruangan itu lebih luas dari ruangan lainnya. "Ya ampun orang kaya mah bebas ya, di sekolah aja pake ada private room nya" (Val Vop)


Disinilah mereka berdua mematung di depan pintu coklat besar itu, mencoba menenangkan detak jantung yang kembali tak berirama, rasanya ingin berlari turun kembali ke Hall bergabung dengan kelompoknya dan tinggal minta maaf aja ke kak Caleb besok, tapi apa bisa selesai dengan cara begitu aja. Vina hanya bisa memandang sahabatnya yang terlihat semakin pucat, seperti ga ada aliran darah di wajahnya. Setelah lama berragu ragu ria, akhirnya Val memberanikan diri mengetuk pintu coklat itu.


Tok tok tok (tidak terdengar apapun, Val kemudian mengetuk lagi)


Tok tok tok (masih tidak ada tanggapan lagi, apa tidak ada orang ya)


"Vin, aku ketuk sekali lagi aja ya, kalo ga ada jawaban kita balik aja, yang penting kan kita sudah ke sini, tapi orangnya yang ga ada" Ucap Val mencoba membela diri dan berharap ketukan ketiga pun tak ada jawaban, agar bisa cepat kembali bergabung dengan teman temannya di bawah.


Tok tok tok (beberapa detik tidak ada suara, Val sudah mulai berbalik dan melangkah menjauh, tiba tiba....)


"Masukk..."


(Matilah aku, kenapa harus ada orang sih)


Perlahan Val mendorong pintu coklat itu dan menunggu Vina masuk, Val melongo melihat isi dalam ruangan itu...


"Kalian siapa?"


"Eh maaf kak, kami siswa baru kak"


"Mau apa kesini?"


"Sapa juga yang mau kesini, kalo ga karna paksaan dan bonus tanda tangan mana mau aku kesini" Rutuk Val dalam hati (hanya dalam hati lho yaa...)


"Kenapa diam?"


"Busett dahhh, nih kakak, obrolannya dikit tapi nyelekit" (Val vop)


"Ehh... kami dipanggil kak Caleb kak" Vina membantu Val yang wajahnya sudah mulai tidak bisa dikondisikan


"Oh kalian sudah sampe?" Suara dari arah pintu di belakang mereka mengagetkan keduanya


"Iya Kak"


"Lho cuma berdua? Kemarin itu kan bertiga"


"Beda kelompok kak"


"Ooo..." Caleb menjawab sambil menuju meja laptopnya, tak butuh waktu lama dia terlihat serius mengutak atik sesuatu di laptopnya. Sementara kakak satu lagi asyik dengan bukunya.


Hening untuk beberapa lama, Val bingung harus apa, apa dia dipanggil hanya untuk jadi patung. Val menoleh ke Vina yang wajahnya sama bingungnya dengan Val.

__ADS_1


"Ini apa apaan sih, nyuruh datang tapi ga ngapa ngapain, terus ngapain suruh datang, padahal aku udah siapin mental baja buat kesini, terus apa ini??? Kami berdua cuma jadi patung cantik sedangkan mereka asyik sendiri. Orang ini sakit jiwa ya? Apa kurang kerjaan?? (Val ngomel sendiri dalam hati)


Karena lama menunggu tidak ada tanda tanda kehidupan berjalan, akhirnya Val memberanikan membuka suara


"Maaf kak... Kalo boleh tau kami dipanggil untuk apa ya kak?"


Setelah Val bersuara barulah Caleb mengangkat pandangannya dari laptop


"Oh iya, aku lupa kalo aku manggil kamu, kamu tau kenapa aku panggil?"


"Engga kak"


"Kamu kan anak sok jagoan yang maki maki kami di dekat rumah Mr. Howard?"


"Iiya kak, tapi maaf kak, itu cuma kesalahpahaman aja kak"


"Maksudnya??"


"Aku ga bermaksud berani ke kakak, maksud kami hanya untuk melerai sebenarnya kak"


"Oh ya? Perasaan omongan kamu kemarin ga mencermikan maksud kamu tuh ya..."


"Ya elah pendendam banget ya ini cowok satu, bukannya cowok itu mikir pake otak, bukan hati ya, kok yang ini sensitif banget sih" (Val vop)


"Tapi aku hargain nyali gede kamu berani datang ke sini, ga sembarangan orang berani ke sini, apalagi siswa baru, tapi kamu unik sedikit ya, atau kamu memang salah satu siswa yang pansos?" Lanjut Caleb lagi


"Maksud kakak?"


"Ya Pansos? Kamu ga ngerti juga arti pansos? Mau aku jelasin?"


"Aku ngerti arti pansos kak dan aku ga tau kenapa datang ke sini bisa dibilang pansos? Aku kesini karena kakak yang nyuruh kan?"


"Hahahahaha... Iya aku yang nyuruh tapi kan kamu masih bisa bilang tidak"


"Aku ke sini karena kakak yang minta"


"Sudahlah... semua yang liat kamu ke sini pasti udah paham maksud kamu, sini mana bukunya? Sebentar aku kasih salah satu kakak panitia, kamu ga perlu lagi kesini untuk ambil buku itu lagi"


"Apa?? Aku ke sini bukan karena alasan yang kakak tuduhkan, kalo bukan demi tanda tangan ini cepat selesai juga ga bakalan aku ke sini"


"Mau sok jadi pahlawan untuk kelompok ceritanya? Pintar juga, sambil menyelam minum air ya"


"Makasih, tapi aku ga butuh bantuan kakak untuk tanda tangan ini, yuk Vin"


Val berlalu sambil menarik tangan Vina yang sedari tadi hanya bisa bengong.


"Kamu yakin ga kasih bukunya? Yakin bisa selesai? Satu kata dari aku, dan semua panitia ga akan tanda tangan lagi"


Val terdiam di tempat, ragu untuk menyentuh gagang pintu, terlalu gengsi untuk balik, tapi wajah kecewa teman teman kelompoknya terbayang di depan mata. Sementara Val dalam kebimbangan, terdengar suara laki laki selain Kak Caleb


"Udah ambil aja bukunya Cal, biar dia cepat keluar dari sini, suaranya lumayan berisik"


Val semakin menegang, tapi bingung harus berbuat apa. Tak berapa lama buku ditangan Val sudah berpindah posisi. Val hanya bisa diam sambil mengepalkan tangannya.


"Saat ini kamu sudah sadar kan, sedang berurusan dengan siapa, mulai besok anggap kita tidak saling kenal dan jangan mencampuri urusan yang bukan urusan kamu, paham kamu?"


"Tanpa kamu tanya dia juga sudah paham Cal, saat masuk ruangan ini pun dia udah ngerti kok, posisi dia dan kita di sini"

__ADS_1


"Aku paham, permisi"


Tanpa menunggu aba aba lagi, Val langsung menarik tangan Vina dan bergegas meninggalkan ruangan itu, sesak rasanya dada Val harus menghirup udara yang sama dengan mereka. Val berjanji ga akan pernah lagi kenal dengan mereka berdua, apapun alasannya.


__ADS_2