Hello, I Am Bryan

Hello, I Am Bryan
Maaf, Karena Aku Baru Mengenalmu


__ADS_3

Benar saja, semua kehidupan sekolah Val berubah sejak pertandingan itu, banyak hal dirasakan Val berbeda dari sebelumnya, mulai pandangan orang ketika dia melintas, bahkan dengungan dan tatapan sinis yang biasa dia alami jarang terjadi, meski masih ada yang tidak menerima perubahan itu. Segelintir siswi menganggap Val sebagai saingan dalam merebut hati cowok cowok idola mereka. Val bahagia, dia tidak perlu mengubur mimpinya karena masalah di sekolah.


Tak terasa waktu berlalu, saat ini Val menginjak Tahun kedua di sekolah, Val sudah berjanji kepada mamanya ikut bimbingan belajar saat menginjak kelas 2, meski sedikit protes, mau tidak mau Val mengikuti keinginan Mamanya. Val berjanji untuk pulang lebih awal hari ini karena akan ikut mamanya mendaftar di GameX salah satu bimbingan belajar terfavorit di kota A ini.


"Aku balik cepet hari ini ya..." Ujar Val pada kedua sahabatnya


"Iya, kamu udah bilang tadi"


"Kalian ga mau ikut daftar bareng aku biar rame?"


"Val, kamu sendiri tau jadwal aku bakalan lebih padat lagi nanti, mama aku udah nyusunin jadwal les yang puadat merayap, ga tau deh aku masih bisa bareng kalian lagi atau ga"


"Sama Val, aku juga udah diaturin bimbingan privat di rumah, jadi ga ikut kamu"


"Padahal kita masih kelas 2 kan ya? Masih ada setahun buat kita belajar intens, kok sekarang udah dibuatin jadwal menumpuk gini sih"


"Yaaahhh... namanya juga sayang Cin, ikutin aja, aku juga kalo ga terpaksa ga bakal ikut, tapi karena mama aku udah berusaha sekuat tenaga biar aku ikut bimbel, terpaksa aku jalanin"


"Huuuffftttt..." Serempak mereka membuang napas panjang, tanda perpisahan mereka pada kebebasan saat kelas satu.


Selepas bel berbunyi, Val bergegas keluar sekolah, karena mamanya sudah mengabari dari 15 menit yang lalu mama sudah menunggu di parkiran. Dengan langkah sedikit berlari Val keluar kelas setelah berpamitan pada kedua sahabatnya.


Sesampainya di parkiran, Val masuk, dan mamanya langsung mengarahkan mobil menuju GameX yang terkenal selalu mencetak juara itu. Hampir 100% lulusannya lulus dengan nilai yang baik dan masuk di universitas yang mereka inginkan.


Setelah kurang lebih setengah jam perjalanan mereka sampai, maklum saja jam begini jam macet di jalan, sedangkan GameX terletak di pusat kota. Sesampainya di tempat bimbel, mama Val mengurus semua keperluan pendaftaran, saat akan memilih jadwal, mama nanya Val mau masuk hari apa saja, karena bimbel ini menawarkan 3 kali pertemuan selama seminggu.


"Mau hari apa aja Val? Senin Rabu Jumat aja ya"


"Rabu Val ada les Mah"


"Kan bisa diatur jamnya, kelas ini tentornya katanya bagus bagus Val"


"Yee Mama, semua baguslah orang satu tempat bimbel"


"Ya udah, jadi gimana? Ini mama pilihin kelas buat persiapan ujian akhir, makanya dikasih dua pilihan, Senin Rabu Jumat, apa Selasa Kamis Sabtu?"


"Ya udah Senin rabu Jumat aja" Val ga bisa ngebayangin hari Sabtu menjelang liburnya harus ikut bimbel, padahal siswi lain udah mengisi jadwal weekend mereka.


Setelah menyelesaikan administrasi, mereka kembali ke rumah karena kelas akan dimulai hari senin depan.


* * * * * * *


Dengan langkah gontai Val memasuki ruang bimbelnya, baru ada beberapa murid saja yang datang. Val kecepatan, tau gini Val masih bisa ngehabisin bekal yang dibawa mama tadi. "Ini karena mama terlalu bersemangat sih", gerutu Val dalam hati.


Hari ini Val memulai bimbelnya, beruntung Val mengenal beberapa teman sekelasnya karena satu sekolah, itupun Val yakin mereka kenal karena insiden kemarin. Val berusaha ga terlalu menonjol, kecuali dalam urusan Mata Pelajaran, Val menyadari ada beberapa anak cowok di kelas bimbelnya yang tertarik dengannya, bukan sombong tapi Val masih bisa dibilang di atas standar kalo soal penampilan, kata Vina Val cantik, dengan rambut sedikit coklat ikal yang selalu Val ikat ekor kuda, kulitnya putih bersih, tingginya sedikit di atas rata rata anak seusianya, body yang kata Cindy aduhai, tercetak dengan sempurna, namun begitu, Val jarang tersentuh make up, paling standar ya lip balm atau lip gloss dan sedikit bedak saja di wajahnya. Kesan yang natural dan sederhana selalu tersaji di wajah Val. Namun Val ingin menyelesaikan bimbelnya tanpa insiden apapun, sehingga Val menutup segala kemungkinan yang menjurus ke arah sana. Hal ini yang mungkin membuat mereka berpikir dua kali sebelum mendekat, karena Val ga nanggepin.


Seusai mata pelajaran kedua, bel tanda pulang berbunyi, Val membereskan perlengkapannya dan bersiap mencari angkutan untuk pulang. Val biasa menyewa ojek atau angkutan umum.


Saat akan keluar dari kompleks, Val tidak sengaja melihat sekitar 5 orang cowok mengerumuni satu cowok di kelas ujung koridor. Val berusaha menghindar, tapi karena rasa ingin tahu serta ketidak sukaannya pada pembullyan, Val memberanikan diri melangkah mendekati kelas itu. Samar samar Val bisa mendengar percakapan mereka.


"Mana bodyguard loe? Ga jagain?"


"Ternyata ada nyali juga loe datang bimbel sendiri"

__ADS_1


"Mana dia? Kok ga kelihatan? Ga takut sohib kentalnya ini babak belur jadi adonan?"


"Kenapa?? Loe takut kan sama sahabat gue? Makanya dari tadi loe cari, gue yakin kalo dia disini habis loe loe pada"


"Suara ini sepertinya aku kenal" Ucap Val dalam hati


"Aduh sory Bro, gue sebenarnya ga tega sama orang cacat, tapi karena loe belagu jadi aturan itu ga berlaku buat elo"


"Gue ga butuh rasa kasihan loe"


"Bacot loe gede juga, ga sadar tuh tangan tinggal satu?"


Mereka tertawa terbahak bahak sambil terus mengolok olok cowok itu. Cowok yang sepertinya pemimpin kelompok itu bersuara lagi.


"Tampang loe emang oke, tapi maaf tangan loe cuma satu, kalo meluk cewek, ga bakal anget, kasian pasangan loe nanti"


"Kayaknya loe ga jujur soal cacat loe, denger2 masih jadi inceran cewek2 sekolah elit itu"


"Iya, makanya pake ginian nih" Timpal cowok lain sambil menepuk nepuk tangan kanan cowok yang di bully itu, mereka kembali tertawa


"Mau gue patahin lagi ga satu? Kasian yang sebelah ga ada temennya"


Val baru akan maju, laki laki yg di bully berdiri dan membuka jaketnya, lalu menggulung lengan baju kanannya, "Kak Bryan..." Pekik Val dalam hati, "Jadi selama ini..." Val termenung sendiri.


"Gue emang pake ini" Ujar Bryan sambil menunjukkan tangan palsunya. Terlihat beragam ekspresi di sana, ada yang sedikit kaget, ada yang jijik, ada pula yang biasa aja.


"Kenapa emang kalo satu tangan? Kalian pikir dengan satu tangan gue ga bisa lawan kalian?"


"Waahhh sok jago loe... Boleh, kita buktiin bacot loe sama kuat ga dengan tangan satu loe" Ujar salah satu cowok langsung menyerang Bryan dan ditangkis olehnya


Val tak ingin hal lebih buruk terjadi, Val menerjang masuk dan berdiri di antara Bryan dan kelompok itu.


"Eh, sapa loe, berani ikut campur? Kalo ga mau kena bogem, mundur loe"


"Kalian yang mundur, aku udah lapor satpam bimbel, kalo ga pergi habis kalian"


"Ehhh, cantik cantik nyolot ya, berani banget loe, loe kenal dia? Loe ga tau nih cowok cacat?? Jangan tertipu sama wajah doang, ntar loe nyesel"


"Tau, aku tau"


"Loe apanya? Teman sekolah?? Ga mungkin lahhh, sodara??"


"Bukannn, aku... aku tunangannya, aku datang buat jemput dia, kenapa kalian semua di sini?"


"Hah?? Tunangan??? Cantik juga tunangan loe... Nemu di mana?"


"****** aku, Val, Val, kalo bertindak dipikir dulu lahh... Kalo Kak Bryan ga mau kerja sama, kamu yang habis" Val merutuki dirinya


"Teman kecil" Jawab Bryan


Val bernapas lega mendengar jawaban Kak Bryan


"Oke, kali ini loe lolos lagi, tapi lain kali habis loe sama kita, dan loe cewek cantik, gue saranin loe pikir dua kali, kalo loe ga mau jadi pelayan seumur hidup"

__ADS_1


Ucap Si "Bos" sambil berlalu bersama kelompoknya


Setelah mereka berlalu, Val berbalik ke Bryan


"Kakak ga papa?"


"Ga papa, kamu ngapain disini?"


"Aku bimbel disini"


"Ngapain kamu ikut campur urusan aku? Ga ada kerjaan?"


"Uuuhhhh Tuh kan, kalo dasarnya sombong ya sombong aja, ga bakal berubah walau habis ditolong, menyesal aku ke sini" Sungut Val dalam hati


"Maaf Kak, aku kebetulan lewat, ga tau itu kakak, ga niat ikut campur, kakak bisa sendiri kan?? Ada yang jemput kakak kan? Kalo gitu aku pulang ya"


Ucap Val sambil melangkah keluar kelas, beberapa langkah tidak ada jawaban, Val menoleh, tampak Kak Bryan masih terduduk dilantai dan berusaha berdiri, "Uuuhhh, kenapa aku paling lemah liat pemandangan begini" sungut Val sembari berjalan mendekat ke arah Bryan.


"Sini aku bantu Kak"


"Kenapa kamu masih disini?" Sambil berusaha berdiri dan dibantu Val. Setelah Kak Bryan duduk di kursi, dia mengeluarkan ponselnya, mengetik sebentar lalu mulai membereskan perlengkapannya.


"Nihh cowok, asli bikin orang salah terus ya, dibantu salah, ga dibantu salah, mana bicaranya irit lagi, bilang makasih aja ga" Rutuk Val dalam hati sambil membantu Kak Bryan membereskan perlengkapan dan mengambil jaket yang tadi dia lempar.


Setelah semua beres, Val pamit lagi


"Udah beres kak, aku pamit pulang" sambil melangkah pergi


"Terima Kasih"....


Whatt!!! Val ga salah denger?? Kak Bryan bilang makasih?


"Iya Kak, sama sama" Langkah Val kembali berhenti saat Kak Bryan bicara lagi


"Kamu bisa temani aku sampai penjemputku datang?"


"Hahh, apa lagi ini?? Bukan masalah baru kan?" Ucap Val dalam hati


"Tapi kalo kamu ga mau, ga papa"


"Bukan ga mau kak, tapi kalo kesorean susah cari angkot kosong"


"Nanti aku antar"


"Ga usah kak, aku temenin kakak, tapi nanti aku pulang sendiri" Ucap Val, Bryan hanya diam sambil berusaha memakai jaketnya. Val akhirnya membantunya memasang jaket.


"Maaf kamu harus liat pemandangan tadi"


"Ga papa kak, ga sengaja, tapi kalo aku boleh tanya, tangan kakak..."


"Ini udah hampir 3 tahun, kecelakaan, selama ini aku berusaha tampil sempurna, ga mau ada rasa kasihan saat ngeliat aku, aku tau aku pasti butuh orang, selama ini aku sudah bekerja keras untuk mandiri, tapi tetap saja, aku kalah dengan keadaan, aku ingin semua orang melihat betapa sempurna hidupku, aku benci dilihat sebagai orang cacat, walau kenyataannya seperti itu"


Val hanya bisa diam mendengar semua cerita Kak Bryan, Val menemani Bryan sampai supirnya datang, karena masih belum terlalu sore, Val tidak ingin diantar, Val pulang naik angkot, ada yang berubah dari pandangan Val akan hidup, ternyata mereka yang terlihat sempurna, tidak selamanya bahagia. Selama ini Val menilai segelintir orang dari materi dan gaya hidup mereka. Ternyata hidup tidak sesederhana itu.

__ADS_1


"Maaf Kak... Karena aku baru mengenalmu sekarang..."


__ADS_2