
Saat yang ditunggu pun tiba, bel tanda istirahat berbunyi, mereka segera menuju kantin dan mengambil menu favorit mereka masing-masing. Cindy tampak sedang menelepon seseorang, mereka menunggu sambil menyantap makan siang mereka sambil menunggu Cindy kembali
"Iiiihh,kok udah makan duluan"
"Lapar Cin, buruan makan"
"Yeee, kamu sih bukan lapar, tapi stress kan Val?" Yang hanya dibalas cengiran oleh Val
"Gimana Cin? Kamu udah kasih tau Kak Caleb?"
"Udah Vin, katanya mereka udah mau ke kantin, nanti kita ke lantai 3 aja, ruangan mereka, tapi jangan sampe kelihatan aja sama cewek-cewek itu, makanya kita naik duluan, kan mereka pasti ngekorin Kak Bryan dan Kak Caleb... Val nanti bisa ngobrol enak sama Kak Bryan"
"Oke, kamu dah denger kan Val? Sebaiknya sekarang kamu udah mulai susun apa apa aja yang jadi permasalahan kamu, jangan setengah setengah, langsung sampaikan semuanya, kalian berdua harus selesaikan secara dewasa, jangan kayak gaya pacarannya anak esde"
"Iya, iya, Makasih ya... Tapi kalian ikut ke atas juga kan?"
"Iyaaa..."
Tak berapa lama, datanglah rombongan Kak Bryan dan Kak Caleb, mereka bertiga buru buru menyelesaikan makannya kemudian berjalan menuju lantai 3 gedung ini, agar tak terlihat, mereka berpura pura masuk ke salah satu ruangan Club baru masuk ke ruangan privat Kak Bryan dan Kak Caleb.
"Aku baru bener-bener memperhatikan, ruangan ini sepertinya didesain khusus sebagai fasilitas bermain pribadi mereka ya, ternyata sekolah bisa mempersiapkan ini di sekolah"
"Kok heran Cin? Bukannya kamu satu kompleks, harusnya tau lah kalo ruangan ini memang didesain khusus untuk mereka termasuk kamu Cin"
"Jangan salah, aku memang tinggal sekompleks, tapi keluarga mereka berdua adalah keluarga yang paling berkuasa, keluarga kami aja takut buat cari-cari masalah sama keluarga mereka, yahh, walaupun sebenarnya keluarga mereka baik, tapi kami terlanjur mencitrakan seperti itu, makanya kami sedikit jaga jarak, meski bertetangga kami seolah tidak mengenal satu sama lain, karena waktu kami berkumpul hanya sesekali, seperti di rumahku waktu itu"
"Ooohhh..." Val dan Vina menjawab berbarengan
Mereka terkejut manakala pintu dibuka seketika
"Kalian sudah lama?" Kak Caleb yang duluan masuk bertanya
__ADS_1
"Lumayan Kak"
"Vin, Cin, kita keluar sebentar ya, biar mereka bicara dulu sebentar"
"Tapi kak, Val ga mau ditinggal, ga papa kok Vina sama Cindy disini, nemenin aku nungguin Kak Bryan"
"Itu Bryan"
"Tapi kak, biarin mereka....." Ucapan Val berhenti seketika saat Bryan masuk sambil menarik tangannya. Vina dan Cindy kemudian keluar mengikuti petunjuk Caleb
"Kamu ikut aku"
"Lepasin aku, kalo ga lepas aku teriak, kamu ga berhak narik narik aku gini ya" Ucap Val sambil menghempas pegangan tangan Bryan
"Kamu kenapa sih Val?"
"Kamu yang kenapa Kak?"
"Aku kenapa? Kamu yang bertingkah aneh, kenapa kamu bilang kamu menyesal jadian sama aku ke Caleb? Apa maksudnya itu?"
"Maksud kamu apa Val? Aku ga pernah mempermainkan kamu, aku bener-bener suka sama kamu"
"Oh ya?" Jawab Val sembari terus melangkah menjauhi Bryan yang berusaha mendekatinya
"Kamu kenapa Val? Kalo ada apa apa kan bisa kita bicarain baik-baik, kok kamu kayak anak kecil gini sih? Biasanya kamu dewasa"
"Iya, aku aslinya seperti ini, kenapa? Kakak nyesel? Terus jadinya mau gimana?"
"Apa maksud kamu Val? Aku ga nyesel, aku cuma bilang kamu berbeda dari biasanya, ada apa sama kamu? Apa yang sebenarnya terjadi? Kamu jelasin ke aku, biar aku paham"
"Udahlah Kak, aku tau kakak cuma main-main ke aku kemarin, tapi main-main dan ngerjain orang itu juga ada batasnya Kak, jangan sampai kakak mempermainkan perasaan orang lain"
__ADS_1
"Maksud kamu? Aku ga pernah mempermainkan perasaan siapapun, apalagi kamu"
"Terus, apa maksud kakak tadi pagi seolah olah ga terjadi apa apa kemarin waktu kita berpapasan, kakak cuek banget, kakak cuma senyum tipis seperti biasanya, seolah ga ada yang berubah di antara kita kemarin"
"Ya ampun Val, karena itu?"
"Iya karena itu, kenapa kakak tersenyum? Kakak pikir itu lucu Kak? Aku udah seneng ketemu kakak, aku kira kakak juga bakal seneng ketemu aku, eh ga taunya cuma melengos sambil senyum tipis seperti biasanya aja, apa itu namanya ga mempermainkan Kak? Apa kakak malu jadi pacar aku? Jadi ga mau akuin aku di depan semua orang? Makanya kakak pura-pura seolah tidak ada yang terjadi kemarin?" Sambil sedikit histeris, Val mengeluarkan semua unek unek yang ditahannya selama jam pelajaran pagi tadi, Val ga suka seseorang mengacaukan pengalaman pertamanya menyukai seseorang
"Bukan begitu Val"
"Bukan Begitu Kak? Lalu Bagaimana?" Val kembali membelakangi Bryan, tidak ingin terlihat kecewa dan sedih
Bryan menghampiri Val dan memeluknya dari belakang
"Jangan peluk aku" Meski dalam hati Val merasa senang diperlakukan seperti ini
"Kamu tenang sebentar Val, biar aku jelasin baik baik, emosi ga akan menyelesaikan masalah, bener kan?"
Akhirnya Val luluh dan terdiam dalam pelukan Bryan sambil mendengarkan perkataan Bryan.
"Kamu tidak tau kenapa aku begitu? Bukannya itu semua permintaan kamu?"
"Aku? Kapan?"
"Bukannya kamu yang ga mau kelihatan dekat dan akrab denganku, kalau untuk bersahabat aja kamu ga mau terlihat dekat apalagi kita pacaran, bukannya kamu bilang kalau kamu dekat sama aku, kamu bakal selalu dapat masalah di sekolah, terus apa yang harus aku lakukan? Kamu bilang untuk jaga jarak waktu di sekolah? Jadi aku berpura-pura seperti biasa. Aku ga pernah mengira kalau kamu mau aku tegur, aku ga tau kalo dengan status baru kita saat ini aku bisa sedikit lebih dekat denganmu di depan banyak orang. Aku ga tau Val, aku kira kamu masih takut bersama aku, seandainya kamu bilang kita boleh bersikap layaknya pasangan SMA lainnya, aku pasti jadi yang pertama selalu mendatangi kamu Val"
"Kakak serius?"
"Serius Val, untuk apa aku bohong sama kamu, jadi tolong jangan seperti ini lagi, tanya aja kalo ada yang mau kamu tau, jangan tiba -tiba marah ga jelas seperti ini, jangan bikin aku bingung lagi ya, kamu yang paling tau gimana seriusnya aku ke kamu, paham kan?"
"Iya Kak, aku paham, aku minta maaf ya Kak, udah berpikiran yang macem macem sama kakak, aku kebawa emosi kak"
__ADS_1
"Iya ga papa"
Val semakin menyandarkan belakangnya pada dada bidang Bryan, mereka berharap rasa yang mereka punya saat ini akan selalu terjaga sampai kapanpun. Mereka berdua tidak menyadari ada seseorang yang ikut bahagia melihat mereka bahagia meski merasakan sakitnya patah hati, ya, dia adalah Caleb, sebenarnya saat mereka beradu mulut di awal MOS kemarin, Caleb sudah sedikit tertarik pada Val, pada kepribadiannya, sifat dan sikapnya, semua tidak ada yang berpura pura, Val cewek yang sempurna di mata Caleb setelah Kak Alisha, awalnya Caleb yakin Val bisa menggantikan posisi Kak Alisha di hatinya jika Val mau menerima permintaannya menjadi kekasih, namun semua rencana yang sudah disusun Caleb sirna dalam selamam, Alex menelepon Caleb dan mengatakan sudah mendapatkan seorang wanita impiannya, dan ternyata itu Val. Caleb telat selangkah, Caleb juga tidak mengetahui hal apa yang membuat Alex juga menyukai Val, tapi demi sahabatnya itu, Caleb mundur teratur, apalagi Caleb lihat Val juga bahagia bersama Alex, jadi untuk alasan apa dia memaksakan diri masuk di antara mereka. Caleb yakin akan ada masa dimana dia menemukan wanita yang tepat untuk dia.