
Hujan memang tidak bisa diprediksi kapan datangnya. Bisa pagi, siang sore atau bahkan malam.
Namun, pernahkah Anda menyadari ada beberapa kalimat yang suka dikatakan banyak orang ketika akan hujan. Salah satunya 'wah mendung nih kayaknya mau hujan' Nggak tau kenapa kalimat tersebut pasti sering diucapkan orang-orang menjelang hujan. Ya semua orang tahu kalau mendung tandanya hujan akan turun.
Apa yang bisa dipelajari dari hujan? Dari hujan kita ketahui bahwa air hujan berkali-kali jatuh tanpa mengeluh pada takdirnya.
Aku tak benci hujan, tapi terkadang hujan membuat semua luka yang ada menjadi kenangan yang tak terlupakan.
Orang-orang dewasa itu aneh
Mereka bilang menyukai hujan tetapi berlindung di bawah payung
Berlindung di bawah atap bahkan dari mereka memaki hujan karena telah membasahi baju mereka
Mereka tidak benar-benar menyukai hujan, hanya mulutnya saja tetapi tindakannya tidak
Mereka hanya mencari sensasi atau hanya sedang menjual romantisme
Nyatanya, mereka menyesali hujan yang tak kunjung reda dan membuat mendung suasana sekitar
Sayangnya, rasa cinta mereka terhadap hujan hanya sebatas kata
Mencintai hujan hanya sebatas kalimat di status media sosial
Hanya menjadi foto untuk mendukung ke senduannya
Aku rasa, kita tidak akan mengerti hujan kecuali menjadi hujan itu sendiri
Bagaimana jika sesekali kita mendengar kata orang bahwa mereka menyukai kita
Padahal di belakang kita, mereka semua tidak demikian
Jika hujan memiliki perasaan, mungkinkan hujan akan merasakan apa yang sudah kita rasakan
Bagi banyak orang, mungkin hujan sekumpulan pasukan air yang jatuh dari langit
Tapi bagiku, hujan adalah sepotong kisah yang mengikatku pada sebuah kenangan masa lalu dan membawaku pada keindahan hari ini
Hatiku memang terikat kepada hujan meski dalam terang aku bisa merasa dapat lebih jelas saat memandang indahnya kota yang nasibnya sama sepertiku
Ya, terikat pada hujan karena tak selamanya hujan membawa sendu dibawah gelapnya mendung
Bagiku, hujan selalu datang bersama keberkahan
Dia pergi mewarisi teduh dan menjadikan kehangatan
Sepasang mata memandang kearah luar jendela dengan melihat air turun dari atas langit melalui sela-sela dedaunan.
"Yah, hujan. Kenapa turunnya disaat yang tidak pas sih..." ucapnya cemberut dengan menelungkupkan kepala di atas meja.
"Emang kenapa kalau hujan" ucap Sofia di samping dirinya duduk.
"Ya enggak kenapa-kenapa sih...hehehe" Nyengir dengan menampilkan senyuman yang manis menurut kaum Adam hawa. Sofia yang melihatnya hanya memutar bola mata.
"Kirain apaan, oh iya Lo jadikan ikut pergi ke pesta ulang tahun Mira malam ini. Katanya nanti di sana bakalan banyak rekan bisnis papanya yang pada datang." Seru Sofia dengan bergerak menghadap sahabatnya.
"Hmm" pura-pura berfikir.
"Ikut yahhh.. pleaseee" ucap Sofia dengan memohon, sedangkan dirinya yang melihat itu langsung ngakak apalagi melihat wajah memelas sahabatnya.
__ADS_1
"Hahaha... Iya iya gue pasti ikut kok tenang aja" sahutnya dengan tertawa.
"Beneran yahh janjiii..." Seru Sofia dengan menyudurkan jari kelingking kearah sahabatnya.
"Iya janji" ucapnya dengan mengaitkan jari kelingkingnya.
"Yeyyy. Aku padamu baby, Nanti gue jemput yah..." Dengan gembira sambil memeluk sahabatnya dengan erat.
"Udah woyy lepaskan, Lo mau gue mati tanpa napas hah.."
"Hehehe... Emang ada orang mati napas?" Tanya Sofia dengan nyengir tidak jelas.
"Pocong napas, kuntilanak juga napas" jawabnya dengan cuek.
"Oh iya gue duluan yah.. hujan udah reda juga" berlalu meninggal Sofia yang tengah memikirkan ucapannya tentang orang mati bisa napas.
"Ih ih Lo tau nggak orang mati bisa napas" tanya Sofia kepada siswa cowok dikelasnya.
"Mana ada orang mati bisa napas." Jawabnya dengan tertawa.
"Masa, tadi kata ....."
"Lo itu bodoh atau pura-pura bodoh jadi orang, mau aja dikerjain" potong cowok tersebut.dengan menggelengkan kepala.
Lama berfikir Sofia baru sadar kalau dikerjai oleh sahabatnya sendiri.
"Hah.. gini nih jadi orang kurang pintar bukannya diajarin malah dikerjain." Kesel Sofia.
Sedangkan orang yang dikatain sedang berjalan santai dengan menginjakkan kaki di genangan air hujan sehingga menyebabkan sepatunya basah. Berjalan menuju gedung sederhana yang tidak jauh dari tempatnya belajar.
Dengan mendorong pagar yang sudah karatan, memasuki gedung tersebut yang disambut oleh seorang wanita paruh baya.
"Lancar dong Bu, owh iya adik-adik pada kemana, tadi dihalaman tidak terlihat." Sahutnya dengan mata melihat ke sekeliling ruangan
"Adik-adik mu di kebun lagi panen buah, ganti baju gih, makan siang, baru bantuin adik-adik mu sana"
"Iya iya." berjalan langsung mencium pipi wanita paruh baya itu. Sedangkan wanita itu hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan Hera.
Berjalan menuju dimana kamarnya berada yang terdapat diujung sana. Setelah melihat kasur yang menemaninya kurang lebih 18 tahun itu tanpa menunggu lama langsung saja menghempaskan tubuh diatasnya, walaupun tidak se empuk kasur sahabatnya.
"Hahhh, gue harus cepat-cepat keluar dari panti ini agar ibu tidak mikir kan aku lagi, setidaknya aku harus cari pekerjaan habis lulus sekolah ini."
Lama berfikir tentang masa depannya sampai tertidur memikirkannya. Dirinya baru terbangun saat ada orang yang menggedor pintu kamarnya.
Tok tok tok
"Ka Hera.... Ka Hera " teriaknya
"Iya iya bentar" bangun dari kasur untuk membukakan pintu.
"Ayo kita makan malam ka" ajaknya dengan meneliti Hera dari atas sampai bawah.
"Hahh makan malam?" Tanyanya dengan bingung,
"Iya. Kaka ganti baju dulu sana"
"Iya. Iya. Bilang aja sama ibu makan duluan aja, Nanti Kaka nyusul yah..." Jawabnya dengan mengelus pucuk kepala bocah tersebut.
Saat Hera ingin berbalik bocah tersebut menghentikannya dengan berucap
__ADS_1
"Oh iya ka,"
"Ya.. ada apa lagi?" Ucapnya dengan mengangkat satu alisnya, bertanda bertanya.
" itu Kaka Sofia sudah ada dimeja makan"
"Hahh tumben Sofia malam-malam berkunjung ke panti" ucapnya heran
"Ka Sofia nunggu Kaka katanya kayanya mau pergi deh, soalnya ka Sofia memakai pakaian bagus." Sambungnya Lalu pergi meninggalkan tanda tanya di kepala kakanya yang bingung dengan ucapannya tadi.
Melihat bocah tersebut sudah tidak ada didepannya, langsung saja dirinya tutup pintu tersebut dengan tangan menyambar handuk yang menyangkut dibelakang pintu kamarnya untuk mandi.
Tak berapa lama sekitar hampir 15 menit dirinya sudah nampak keluar dari kamar mandi dengan pakaian tidur yang sudah hampir pudar warnanya.
Keluar dari kamar menuju meja makan yang sudah tertata nasi beserta lauk di sana dan beberapa orang orang menunggunya.
"Kan tadi kata Hera tidak usah ditunggu Bu, ini masih aja nunggu"
"Lama amat sih Lo keluar, tidak lihat apa make up gue hampir luntur." Sahutnya dengan cemberut.
"Tumben banget kamu malam-malam berkunjung kesini, pakai make up tebal segala."
"Lah.. Lo lupa kalau malam ini kita pergi ke pesta ulang tahun Mira"
"Hahh iya. Gue baru ingat, hehehe" kekeh Hera
"Hehehe" cibir Sofia.
" Yailah gitu aja sewot" ejek Hera sambil menarik kursi kayu untuk duduk.
"Sudah sudah, ayo cepat adik-adik kamu sudah pada lapar" ucap Bu izah menengahi mereka berdua.
Mereka semua makan dengan tenang hanya terdengar dentingan senduk dan garfu saja. Karena mereka memiliki aturan untuk tidak boleh ada yang berbicara disaat makan. Karena kata Bu izah makanan itu untuk dinikmati kalau kamu bicara nanti kamu tidak bisa menikmati makanan tersebut.
Setelah semuanya makan, Hera langsung membereskan meja makan untuk memindahkan piring-piring kotor ketempat penyucian piring.
"Ibu aja membereskannya, kamu siap-siap sana kasihan nak Sofia nunggu kamu lama" tahan Bu izah saat Hera ingin membereskan meja makan.
"Tapi Bu..." Ucap Hera ragu
"Tidak papa sana gih, tidak baik membuat orang menunggu lama."
"Ya sudah aku nyamperin Sofia dulu yah Bu.."
"Iya.."
Hera berjalan dimana Sofia berada yang sedang duduk di kursi tamu yang sudah mulai rapuh.
"Kamu mau nunggu aku disini apa ke kamar" ucap Hera setelah sampai dihadapan sahabatnya.
"Ke kamar aja, sekalian ada sesuatu yang mau aku berikan kepadamu" jawab Sofia dengan tangan menenting paper bag.
"Hmm. Ayo" ucap Hera dengan melangkah lebih dulu yang diiringi Sofia dibelakangnya.
Sampai dikamar Hera langsung membuka lemari kayunya untuk memilih pakaian yang cocok untuk pergi ke pesta ulang tahun Mira. Setelah mendapatkannya dirinya langsung saja mengambilnya dan memperlihatkan kepada Sofia.
"Gimana ini cocok nggak " tanya Hera
" Lo mau pergi kemana memakai kebaya hahh.. mau ke KUA," jawab Sofia dengan terkekeh yang membuat Hera cemberut.
__ADS_1
Terimakasih yang sudah membaca, jangan lupa like dan vote, komen kalau menurut kalian ceritaku kurang..