Hesper Rain

Hesper Rain
Survey 4


__ADS_3

Mereka berdua berjalan beriringan menuju arah sungai berada, walaupun harus melewati pemukiman suku kanibal itu.


"Kenapa nggak dari tadi saja sih Lo berpikir, kan aku tidak harus duduk-duduk santai dengan hanya menonton dirimu yang sedang mengintip orang lain doang,," ucap Roben.


"Siapa yang ngintip, gue itu hanya mengamati saja, mengerti nggak sih.." ucap Rain.


"Lahh apa bedanya.. sama saja" sangkal Roben tidak mau kalah.


"Katanya Lo pintar, seharusnya Lo bisa bedain yang mana yang namanya mengintip dan mengamati,, mereka itu berbeda tau nggak" jawab Rain


"Kan sama saja kalau sama-sama melihat" sarkas Roben.


"Hmmm," sahut Rain lagi hanya dengan deheman.


"Nah kan ini nih contoh manusia yang sudah kalah bicara." sindir Roben.


---------------------------------------------------


"Syutttt, diam kita akan melewati rumah pertama di pemukiman sini" ucap Rain.


"Iya iya, ini gue diam"


Mereka berdua berjalan dengan santai memasuki pemukiman mereka, orang-orang sana melihatnya hanya diam dengan bingung saja, hingga ada seorang laki-laki menahan perjalanan mereka.


"Heyy kalian mau ngapain masuk ke pemukiman kami," ucap penduduk disana.


Rain dan Roben berhenti berjalan dan berbalik arah menghadap kepada orang yang menahan mereka tadi.


"Rain, Lo bicara deh, gue takut sangar banget gila..." Bisik Roben dengan memperhatikan penduduk pemukiman itu dengan teliti.


"Hmm, pengecut! Katanya laki" ejek Rain dengan berbisik pula.


"Ihh, Lo ngeremehen gue yah.." sarkas Roben lagi


"Hey hey,, saya nanya kenapa malah bisik-bisik" ucap penduduk mukim tersebut dengan memakai bahasa mereka yang tidak dimengerti oleh Rain maupun Roben

__ADS_1


"Jadi gini pak, kedatangan kami ke pemukiman kalian bukan untuk mencari masalah, kami hanya mau menuju sungai yang ada disana untuk membersihkan tubuh kami, pak" jelas Rain seakan-akan tau apa yang ditanyakan oleh penduduk tersebut, tapi dirinya berusaha menjelaskan agar penduduk-penduduk disana tidak salah paham, walaupun dirinya tidak tau apakah penduduk tadi mengerti dengan ucapan dirinya.


"Terus, kenapa harus ketempat pemukiman kami, kan kalian berdua bisa pergi ke pemukiman lain, disana juga ada sungai seperti ini, kalau tidak kalian bisa kembali ketempat asal kalian" jawab penduduk tersebut yang paham dengan apa yang diucapkan Rain


"Maaf pak, perkenalkan saya Roben" ucap Roben.


"Saya bukan menanyakan siapa namamu! Saya hanya menanyakan mau apa kalian ke pemukiman kami" sahut penduduk tersebut dengan sedikit tinggi seakan-akan biar Rain maupun Roben ngerti apa yang dirinya ucapkan.


"Rain, dirinya bicara apa sih, kok gue malah ngeri melihat mata dan Giginya saja yang putih.." bisik Roben,


Rain hanya diam menyimak apa yang Roben katakan, setelahnya langsung saja menginjak kaki Roben karena kesel dengan ucapannya tadi.


"Awwww" teriak Roben sehingga membuat penduduk disana memperhatikan mereka berdua.


"Lo bisa diam nggak, tidak usah teriak-teriak segala" bisik Rain dengan berucap tanpa menggerakkan bibir agar penduduk disana tidak mengetahui kalau dirinya berbicara berbisik dengan Roben.


"Iya-iya ini gue juga mau diam, tapi kaki gue sakit banget ngab" sahut Roben dengan berbisik pula, tapi tidak sama dengan Rain, dirinya berbisik dengan menggerakkan bibirnya sehingga penduduk disana mengetahui kalau Roben yang sedang berbisik.


"Kalau berbisik itu jangan menggerakkan bibir, agar penduduk disini tidak tau kalau kita sedang berbisik tau nggak sih. Mereka lagi bicara serius dengan kita, kalau kita berbisik yang nanti dikira mereka kita menjelekkan penduduk pemukiman disini. Ngerti nggak sih" jelas rain dengan berbisik pula.


"Heyyy malah bisik segala lagi.." teriak penduduk tersebut dengan emosi.


Para penduduk pemukiman tersebut mulai banyak berdiri dibelakang penduduk yang menahan mereka tadi. Hingga datang seorang laki-laki dengan perawakan besar dari pada yang menahan mereka berdua tadi.


"Ada apa ini kumpul-kumpul" ucapnya dengan berjalan tegak.


"Ini ada orang-orang mukim lain ingin numpang mandi di pemukiman kita, ketua" ucap penduduk yang tadi menanyai mereka berdua.


"Terus kenapa tidak kalian izinkan" ucap ketua dengan tenang


"Gini ketua, kita tidak tau mereka berdua berasal dari mana, maka dari itu kami menahannya, takut-takut kalau mereka membuat olah di pemukiman kita ketua" ucap penduduk tadi menjelaskan.


"Baik kalau begitu kalian berdua ikuti saya!!" Ucap ketua dengan memandang kearah Rain maupun Roben


"Ketua mau ngapain membawa mereka, kalau ketua membawa mereka takutnya mereka berdua melakukan sesuatu yang tidak diinginkan" khawatir penduduk tersebut.

__ADS_1


"Tenang saja kalau dirinya melakukan sesuatu yang tak diinginkan di pemukiman kita ini, kita jadikan saja daging mereka berdua untuk makanan kita malam ini, cukup untuk satu mukim kita, biar kalian tidak mencari makan untuk nanti malam" ucap ketua tersebut dengan menatap intens Rain dan Roben.


Rain dan Roben merasa merinding saat mendengar perkataan ketua tersebut walaupun mereka tidak mengerti apa yang ketua tersebut katakan, tapi dari tatapannya menunjukkan ancaman.


"Gila, kok gue merinding disco sih" ucap Roben dengan meraba lehernya.


"Diam saja, kita ikutin alurnya saja" ucap Rain.


"Ya sudah ayo ikutin saya" ucap ketua tersebut dengan berjalan lebih dulu.


Rain maupun Roben saling memandang dengan bingung, dengan memakai otak mereka masing-masing untuk berpikir, dan memutuskan untuk mengikuti ketua tersebut. Kenapa mereka harus berfikir? Karena mereka tidak mengerti dengan apa yang diucapkan oleh ketua tersebut. mereka hanya menggunakan insting masing-masing saja.


Berjalan dengan santai plus gugup mengikuti sang ketua dari belakang. Tidak lama mereka berjalan sudah sampai dibawah pohon yang sangat besar dan diatasnya ada sebuah rumah yang memang dibangun di atas pohon sana.


"Ikuti saya naik!" Ucap ketua dengan nada serius.


Rain maupun Roben hanya mengangguk-angguk kan kepala saja tanda mengerti walaupun tidak paham dengan apa yang ketua ucapkan tapi sang ketua hanya memberi isyarat menunjuk keatas, dari sanalah mereka berdua mengerti apa yang ketua itu ucapkan.


Mereka bertiga memanjat pohon tersebut sampai ke rumah yang ada di atas sana, yang kira-kira memiliki ketinggian sekitar kurang lebih 10 meter.


"Hahhh gila ngeri banget lihat kebawah" ucap Roben merinding.


"Ayo duduk dulu" ucap ketua tersebut dengan memakai bahasa yang rain pakai.


Rain dan Roben terkejut mendengar kalau sang ketua bisa mengerti bahasa mereka.


"Apakah anda bisa berbicara memakai bahasa kami? Apakah saya tidak salah dengar, anda tadi berbicara pakai bahasa kami" ucap Roben.


"Sudah saya duga, anda memang mengerti dengan bahasa kami" ucap Rain dengan memandang kearah ketua tersebut dengan teliti.


"Maksud Lo? rain" tanya Roben bingung.


"Lo lihat saja, apakah dirinya mirip dengan mereka? Mereka semua rata-rata memiliki warna kulit gelap, sedangkan dirinya memliki warna kulit agak kecoklatan" ucap Rain dengan mendekati ketua tersebut lalu duduk disana didekat ketua tadi.


"Hahh gue baru memperhatikannya" jawab Roben dengan menghela napas kasar dengan mengikuti Rain yang berjalan mendekat kearah ketua pemukiman tadi.

__ADS_1


Terimakasih yang sudah membaca jangan lupa like dan vote, agar aku makin semangat menulisnya.


__ADS_2