
Tidak semua wanita harus melakukan tes keperawanan, karena jika untuk menilai apakah si wanita pernah melakukan hubungan **** pranikah, maka kejujuran dan saling percaya jauh lebih tepat ketimbang melihat utuh tidaknya selaput dara.
--------------------------------------------
Aku merasa sangat-sangat malu walupun yang memeriksanya perempuan juga tetap saja.
Pada tes keperawanan ini dokter tersebut akan memeriksa bagian hymen wanita atau yang lebih sering dikenal dengan nama selaput dara. Tidak seperti yang dipahami kebanyakan orang, selaput dara bukan seperti tirai yang menutup semua bagian ******, lalu koyak tertembus setelah penetrasi. Selaput dara tidak menutupi seluruh liang ******. Hymen hanya berupa lipatan tipis jaringan lunak dan pembuluh darah di pinggiran, bagian depan pintu masuk ******.Bentuk, ukuran hymen, dan ketebalannya pun bervariasi. Ketika dokter melihat adanya robekan, luka, atau bentuk yang diduga berubah karena adanya penetrasi ke dalam liang ******, maka hasil dari inspeksi tersebutlah yang dilaporkan.
Tes ini juga cenderung dapat menimbulkan efek negatif, baik secara fisik maupun psikologis. Efek negatif yang dapat ditimbulkan adalah seperti rasa malu, mengingat kembali peristiwa traumatis yang pernah dialami, rasa nyeri, stres, depresi, dan rasa kecemasan. Mungkin perasaan itu yang dirasakan wanita-wanita lainnya yang melakukan tes.
Setelah semua tes dilakukan dan dinyatakan kalau dirinya masih perawan. Langsung saja dirinya diberi pakaian serba putih dengan masker putih juga, dipakai langsung di sana dihadapan beberapa dokter yang ada, 'malu' kata itulah yang cocok untuk dikatakan keadaan dirinya saat ini.
Semua wanita yang dapat no urut sudah selesai melakukan tes, kami semua disuruh memasuki bus yang sudah terparkir di sana dengan tertib. Bus berjalan dengan santai, melewati beberapa pohon yang tumbuh subur dipinggiran jalan.
Hera hanya melihat kearah jendela saja, sedangkan Dita teman satu selnya itu duduk disebelahnya dengan santai seakan hal yang begini sudah biasa baginya.
Tak lama mungkin sekitar 30 menit bus berhenti didepan sebuah mansion yang besar, beberapa penjaga berlalu lalang menjaga di sana.
Memasuki mansion dengan tertib, Hera berjalan beriring dengan Dita. Berdiri berjijir dengan rapi.
"Hera, kamu bawa ini dan sembunyikan, karena barang ini akan berguna saat waktu terdesak, karena apa? Karena orang yang memilih salah satu dari kita semua itu nanti seorang psychopath, jadi buatlah dirinya tidak menyukai kita saat pandangannya terarah ke kita. Kamu mengerti!! Lihat, aku saja tidak merias wajahku karena aku tidak ingin dipilih olehnya." Ucap Dita dengan menyudurkan pisau buah kepada Hera
"Hmm ya, aku pun tidak merias wajah juga" jawab Hera
"Tapi aku lihat kamu itu sudah cantik tanpa merias diri sih, mungkin kamu perlu memakai sesuatu supaya pria pembeli tidak memilih dirimu." Sahut Dita lagi.
__ADS_1
"Ak,..."
Belum sempat Hera berucap datang seorang pria yang dirinya duga adalah seorang pekerja dimansion ini.
"Baik, perkenalkan dulu saya asisten dari tuan yang akan memilih kalian nanti, bagi kalian yang sudah ada disini, kalian sebentar lagi akan bertemu dengan tuan kami, dia akan memilih salah satu dari kalian untuk dijadikan kekasihnya kelak, jadi saya harap kalian semua bisa menarik simpatik tuan kami agar mau memilih kalian. Bersiap-siap lah!"
Setelah dirinya berucap datang seorang pria memakai topeng menutupi setengah wajahnya yang diikuti para penjaga dibelakangnya, berjalan menuju kursi besar yang ada di sana.
Mendudukkan bokongnya di sana dengan mata mengedar kearah para wanita yang akan dirinya pilih.
"Jadi tuan kami akan berjalan melihat-lihat kalian dan menilainya apakah cocok untuk dijadikan pendamping hidupnya kelak, walaupun kalian terpilih nanti jangan berbesar hati karena belum tentu tuan kami mencintai kalian, mungkin kalau sudah dicintai kalian akan menjadi wanita yang beruntung di dunia ini, jadi buatlah tuan kami ini terpesona dengan kalian semua agar memilih kalian nanti."
Setelah mendengar asisten tersebut bicara para wanita pun riuh saat melihat siapa yang akan memilih mereka nanti, walaupun tidak bisa melihat wajah keseluruhannya mereka hanya bisa menatap dari bibir kebawah saja, walaupun begitu tetap saja sudah bisa membuat para wanita kagum dengan pesonanya.
"Oke. Mohon tenang tuan kami akan berjalan kehadapan kalian masing-masing, jadi mohon untuk diam dan perhatikan." Ucapnya dengan tegas
"Hmm" jawabnya dengan deheman.
Berdiri dari kursi tersebut dengan berjalan perlahan mendekati satu persatu wanita yang ada di sana. Wanita pertama yang dirinya temui adalah wanita berbadan tinggi dan memakai make up yang berlebihan, hanya meliriknya saja dirinya sudah bisa menilai tidak termasuk kedalam kategori wanita idamannya jadi dirinya meneruskan langkah menuju wanita disampingnya. Wanita kedua pun tidak ada yang membuatnya tertarik sama sekali, dengan memakai pakaian ketat yang memperlihatkan dengan jelas bentuk tubuhnya. Lanjut ke wanita yang ketiga, keempat, kelima...hingga kena giliran matanya melihat wanita yang menurutnya tidak asing seperti pernah melihatnya tapi dirinya lupa dimana walaupun yang terlihat matanya saja tetap saja dirinya seperti pernah ketemu. Berjalan mendekati wanita tersebut hingga berhenti didepan wanita tersebut, anehnya wanita tersebut tidak sama sekali memandang kearahnya.
"Heyyy, Angkat kepalamu! Lihat aku!" Perintahnya hingga membuat semua wanita yang ada di sana termasuk para penjaga pun melihat kearahnya kecuali wanita tersebut.
"Apa kau dengar aku?" Tanya pria itu lagi.
Dita yang tau kalau pria tersebut bicara dengan rekan selnya, langsung saja menyenggol lengan Hera untuk memberitahu untuk angkat kepala dan jawab pertanyaannya tadi.
__ADS_1
Hera tau kalau Dita tengah menegurnya, tapi tetap saja dirinya menundukkan kepala agar bisa membuat pria tersebut marah biar tidak memilihnya. Justru karena dirinya yang begitu membuat pria tersebut makin penasaran.
"Heyy.. apakah kamu pikun?" Tanya pria itu lagi dengan menjetikkan jari dimuka wajah Hera.
"Hera, kamu benar-benar pikun yah.." ucap Dita
"Ihh iiiya ada apa" tanya Hera dengan mengangkat kepala melihat kearah Dita.
"Itu ada yang bicara dengan mu" jawab Dita memberitahu
"Siapa sih yang bicara denganku" tanya Hera pura-pura tidak tau.
Sedangkan pria tersebut hanya memandang Hera yang tidak mau memandang kearahnya sama sekali pun, sekaligus mendengar percakapan mereka berdua.
"Ehhmm, ehmmm" pria tersebut ber dehem dengan nyaring sehingga membuat dua wanita yang ada dihadapannya berhenti bicara dan memandang kearah asal suara.
"Hehehe, maaf tuan" bukan Hera yang bicara melainkan Dita.
"Kamu ikut saya" tunjuknya kepada Hera
"Apa? saya?, emang apa yang saya perbuat sehingga saya disuruh mengikuti anda" tanya Hera dengan alis berkerut.
Pria tersebut menarik tangan Hera tanpa mau menjawab pertanyaannya.
"Ihh ihh.. mau dibawa kemana saya..Dita tolongin aku... Aku tidak mau ikut..." teriak Hera yang tidak ada jawab sama sekali dari orang yang ditanya.
__ADS_1
Pria tersebut diam saja mendengar teriakan wanita itu, sedangkan Dita bingung melihat teman satu selnya dibawa tanpa mau melihat para wanita lain yang berharap menjadi pasangannya, lalu apakah Hera yang akan menjadi pasangan pria itu nanti? Sehingga pria itu berhenti melihat-lihat wanita yang tersisa, begitukah? Entahlah dirinya pun bingung, kenapa tidak wanita lain saja, kenapa harus Hera gitu. Lamunannya buyar saat ada suara masuk kegwndang telinganya.
"Oke, bagi wanita yang lain bisa kembali lagi kedalam bus untuk pulang ketempat asal, tuan kami sudah menemukan siapa yang akan menjadi pasangannya nanti" para wanita yang mendengar ucapannya tersebut membuat mereka sedih bagi yang berharap bisa menjadi pasangan pria idaman tersebut, lain cerita dengan orang yang tidak ingin menjadi pasangannya seperti Dita yang tidak menghiraukan siapa yang mau dipilih pria tersebut. Tapi pikirannya masih bertanya-tanya kenapa harus Hera yang dipilih? Apakah mereka sudah pernah ketemu?.