
"Ha ha halo" angkat Bu izah dengan gugup
"Izah, gimana kabar anakku, dia baik-baik saja kan"
"Iya nyonya, nak Hera baik-baik saja dia disini"
"Iya aku tau, tadi malam aku melihatnya pergi ke pesta, benarkan? Dirinya sangat sangat cantik sampai-sampai aku ingin mengatakan yang sebenarnya kalau dirinya anakku, orang tuanya kandung yang belum meninggal" cerita seberang telpon dengan riang.
"Iya nyonya, Hera memang cantik" sahut Bu izah.
"Kapan aku bisa bertemu dengannya, apakah dirinya mau mengakui ku sebagai orang tuanya"
"Pasti bisa nyonya, karena Hera memimpikan mempunyai orang tua"
"Benarkah?"
"Iya nyonya, ehh nyonya saya tutup dulu telponnya yah, soalnya anak-anak yang lain lagi mencari saya." Bohong Bu izah agar cepat berhenti biar sang nyonya tidak menanyakan Hera lagi
"Iya iya, terimakasih telah menjaga anakku dengan baik izah."
"Iya sama-sama nyonya."
Beriringan dengan telpon terputus dengan seberang, hatinya merasa reda dan jantungnya berhenti senam, dirinya harap-harap cemas kalau sang nyonya ingin minta perlihatkan Hera, tapi untungnya tidak.
"Kamu dimana sih Hera" gumam Bu izah khawatir.
Sedangkan Sofia mencari-cari Hera disekitar hotel yang diadakannya pesta tadi malam, tetap saja tidak ada, menyusuri jalanan siapa tau ada Hera berjalan. Tidak lupa menelpon-nelpon Hera sepanjang perjalanan, sialnya tidak diangkat sama sekali padahal hp Hera aktif. Tidak menyerah disana dirinya telpon terus hingga ada suara dari seberang sana yang mengangkatnya.
"Ehmm.."
"Halo Hera, kamu dimana sih, Bu izah khawatir dengan mu, sebutkan alamat mu berada nanti aku jemput" cerca Sofia setelah diangkat tanpa mau tau siapa yang mengangkat hp Hera.
"......"
"Kok nggak ada jawaban sih, padahal ini nyambung kok telponnya" gumam Sofia dengan melihat ke layar telpon yang memperlihatkan detik-detik berjalan.
"Hera,,, woy Lo dengar gue kan" tanyanya sekali lagi
"......" Tetap tidak ada jawaban dari seberang telpon.
__ADS_1
"Hera, Lo tidak papa kan, kenapa Lo nggak mau bicara sih, apakah Lo marah karena ku tinggal di pesta tadi malam"
Tut... Tut... Tut..
Telpon terputus mengagetkan Sofia.
"Kok dimatiin, tidak biasanya Hera seperti itu, apakah Hera kenapa-kenapa" gumamnya sendiri didalam mobil.
Tanpa berpikir panjang dirinya putar balik menuju panti menemui Bu izah untuk memastikan kalau Hera tidak ada di sana.
Sampai di panti dirinya langsung menuju ruangan Bu izah.
"Halo Bu, gimana apakah benar tidak ada di panti Hera nya"
"Ehh, nak Sofia, iya Hera nya memang tidak ada di panti, adik-adik nya pun ikut mencari tidak ketemu"
"Tadi Sofia menelpon Hera Bu, diangkat tapi tidak berbicara sama sekali, aku jadi heran Bu kenapa Hera tidak berbicara sama sekali, apakah terjadi sesuatu dengan Hera."
"Benarkah, apakah kamu bisa melacak dimana Hera berada"
"Bisa Bu, salahnya alat pelacak ibu berikan yang aku taruh disela-sela hpnya sudah tidak berfungsi lagi, seperti ada orang yang menonaktifkannya Bu" jawab Sofia dengan sedih.
"Hahh, kemungkinan besar Hera diculik oleh orang-orang ahli, kenapa begitu karena mereka bisa menonaktifkan alat pelacak yang canggih, Bahkan ibu pun tidak bisa menonaktifkan nya, padahal ibu ahlinya dalam bidang itu."
"Yaa, dirinya menanyakan tentang Hera, katanya nyonya bertemu Hera di pesta tadi malam, apakah kamu ada bertemu dengan nyonya."
"Benarkah, tapi aku tidak bertemu sama sekali dengan nyonya. Mungkin karena aku tidak pernah bertemu dengannya sehingga aku tidak tau apakah bertemu apa tidak"
"Kamu tau kan kalau nyonya sangat sayang dengan Hera, jadi kita harus sembunyikan tentang hilangnya Hera, takutnya nyonya akan ngamuk mengetahuinya. Saat Hera sakit saja dirinya sudah menahan diri untuk tidak menemui Hera. Kalau sampai dirinya tau kejadian ini tidak menutup kemungkinan kalau nyonya mencarinya sendiri dan bertemu."
"Apakah ibu takut dengan nyonya"
"Yaa ibu takut dengan nyonya, tapi lebih takut lagi dengan tuan besar, kalau kamu bertemu dengan tuan besar jangan sampai kamu menatap matanya"
"Kenapa tidak boleh menatap matanya? Bukannya kalau kita berbicara pasti menatap mata yang berbicara."
"Karena kalau kamu menatap mata tuan besar, dirinya akan tau tentang kamu semua Bahkan dari rahasia yang kamu sembunyikan pun dirinya tau, jadi berhati-hatilah"
"Apakah tuan besar garang Bu,"
"Tidak, tuan besar tidak garang tapi kalau menyangkut dengan keluarga, dirinya tidak akan tinggal diam, itulah yang ibu khawatirkan kalau sampai tuan besar tau, kita tidak bisa menutup-nutupi nya lagi. Jadi kita harus mencari nak Hera secara diam-diam agar tuan besar tidak sampai mengetahui gerak-gerik kita. Kamu mengerti"
__ADS_1
"Iya ibu"
"Ya sudah kamu lanjutkan lagi mencari hera, agar masalah ini cepat selesai." Tutup Bu izah. Yang di angguki oleh Sofia.
Sofia keluar dari sana meninggalkan Bu izah sendiri dengan pikirannya yang tak tentu arah. Memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi kalau Hera memang benar-benar diculik.
Sedangkan Hera berjalan-jalan di sana dengan tak tentu arah, hingga matanya melihat sebuah mobil lewat dijalan tersebut. Langsung saja dirinya berdiri ditengah berniat untuk menghentikan mobil tersebut, tapi ternyata mobil tersebut bukannya berhenti malah menambah kecepatannya untuk cepat sampai di mansion tuannya untuk mengatakan sesuatu yang penting. Karena sang pengendara tidak sempat menginjak pedal rem maka terjadilah hal-hal yang tak diinginkan.
Bbuukk..
"Nyonyaaaaa" teriak para penjaga yang mengikutinya.
"Aaaaaaa"
"owh tidakkkk" teriak penjaga yang lain.
Hera terlempar jauh mungkin sekitar beberapa meter dari tempat kejadian, sedangkan mobil yang menabrak, tertabrak pohon besar yang ada dipinggir jalan sana sehingga membuat mobil tersebut mengeluarkan asap tebal, untungnya sang pengendara tidak terjadi apa-apa karena mobil tersebut memiliki fitur keselamatan yang akurat sehingga membuat sang pengendara yang kecelakaan tidak sampai terluka terlalu parah.
Semua penjaga di sana merasakan kaget dan takut melihat sang calon nyonya tertabrak didepan mata mereka sendiri. Tanpa menunggu lama penjaga tersebut memberi perintah kepada sopir di mansion untuk menjemput mereka. Dan tidak lupa memberi kabar kepada sang tuan dengan kejadian yang terjadi.
"Kenapa kau tidak banting setir sih" tanya salah satu penjaga kepada penabrak.
"Aku buru-buru jadi tidak sempat lagi untuk membanting setir" ucap dengan berjalan pincang mendekati penjaga lainnya.
"Hahh, bisa mati ini urusannya."
"Kenapa harus mati, kita hanya harus membawanya ke rumah sakit kan beress" ucapnya inting.
"Kau mah enak banget bicara begitu, kau tidak tau siapa wanita ini, makanya bicara sekehendak dirimu"
"Emang siapa dia"
"Dia adalah calon nyonya kita, kau tidak tau atau pura-pura tidak tau hahh"
"Astaga bisa ditembak mati aku kalau begini" ucapnya gugup setelah mengetahui siapa wanita yang dirinya tabrak barusan.
"Yaa, tanggung sendiri, kami tidak ikut campur"
"Hahhh" penabrak hanya bisa menghela napas kasar meratapi nasibnya setelah ini.
Sambil menunggu sopir datang, para penjaga di sana memberi pertolongan pertama karena sang nyonya terlihat mengalami perdarahan di bagian tubuhnya, terlebih darah yang keluar cukup banyak, mereka mengupayakan untuk segera menghentikan perdarahan tersebut agar sang nyonya tidak kehabisan darah dengan cara menekan area tubuh yang mengeluarkan darah menggunakan kapas atau perban hingga sampai perdarahan berhenti.
__ADS_1
Terimakasih yang sudah baca, jangan lupa like dan vote, komen kalau menurut kalian kurang jelas.