
Setelah pembicaraan tersebut tidak ada lagi yang berbicara antara mereka bertiga sehingga membuat keadaan menjadi canggung, bahkan para penjaga yang ada di sana juga merasa bingung mendadak.
"karena tidak ada lagi yang mau dibicarakan, aku akan undur diri dulu, ada sesuatu yang mau diurus dulu tentang pernikahan kami tadi. jadi aku pamit dulu wahai para mertua" ucap Rain dengan menekankan kata 'mertua' di sana.
----------------------------------------
Kita kembali kepada Sofia yang hanya duduk termenung di kursinya sendirian, memikirkan kapan Hera bisa kembali sekolah, apalagi tidak lama lagi mereka akan mengadakan acara perpisahan untuk sekolah mereka. Sofia berfikir kemana Hera pergi hingga sekarang belum ada kabar tentangnya bahkan Bu izah pun tidak memberitahu dirinya sama sekali, Bu izah hanya memberitahu tentang Hera yang kembali kepada orang tua kandungnya itu saja.
Dirinya berfikir, Hera tidak pernah seperti ini meninggalkannya tanpa memberitahu lebih dulu, karena biasanya kalau Hera ada masalah selalu cerita pada dirinya, walaupun itu masalah adik-adik pantinya sekalipun.
"Hera.. Lo dimana sih,, kalau Lo memang dijemput sama orang tua kandungmu, setidaknya Lo cerita sama gue biar tidak khawatir memikirkan dirimu yang menghilang saat aku mengajakmu ke pesta waktu itu., Hahhh" gumam Sofia didalam hati.
"Hey Sofia lagi mikirin apa sih, kok bengong terus. Tuh tumben Hera tidak masuk sekolah" tanya Ciko teman satu kelasnya yang membuyarkan lamunan Sofia.
"Ehh Ciko, aku hanya kangen saja sama Hera, hehehe.."
"Iya, aku perhatiin Hera tidak masuk beberapa akhir ini. Padahal ada yang mau aku bicarakan dengan Hera." Dengan muka lesu.
"Emang penting banget sampai muka Lo seperti tak ada nyawa saja." Ejek Sofia
"Ya nggak penting-penting amat sih,,,,"
"Apa sih yang mau Lo bicarakan dengan Hera..." Tanya Sofia penasaran.
"Ada deh rahasia, ini menyangkut masa depan tau nggak, Lo kan nggak punya masa depan.. hahaha" ucap Ciko dengan berlari keluar kelas menghindari amukan Sofia.
"Dasar kira dia gue apaan nggak punya masa depan, emang dia udah merancang masa depan apa" sarkas Sofia dengan muka cemberut dengan telinga mendengarkan suara tawa Ciko yang masih menggema di lorong sekolah.
"Laki-laki kok suara tawanya seperti cewe," sambung Sofia dengan mengejek Ciko.
__ADS_1
Setelah beradu mulut dengan Ciko, Sofia masih saja melamun memikirkan tentang Hera yang menurutnya tiba-tiba saja menghilang, setelah ditemukan ternyata Hera dinyatakan telah bersama kedua orang tua kandungnya. Sofia berfikir kok alur ceritanya seperti ada yang ditutup-tutupi gitu.
"Semoga saja Hera baik-baik di sana." Gumam Sofia dengan khusu'
Ditempat lain Hera berada sekarang, Daniel sedang memeriksa dirinya dengan teliti hingga menghembuskan napas kasar.
"Bagaimana apakah ada peningkatan." Tanya sang mama.
"Maaf Tante, dari hasil pemeriksaan yang kami lakukan akhir-akhir ini, kami memutuskan bahwa putri kalian mungkin tidak akan membuka matanya kembali." Ucap Daniel lirih tidak tega untuk mengucapkannya.
"Apa? Tidak mungkin.." sahut mama Hera yang langsung pingsan.
"Mah, mamah" ucap papa Hera dengan menepuk pipi mama Hera untuk memeriksa apakah memang pingsan.
Rain yang mendengar apa yang dikatakan Daniel pun langsung angkat bicara.
"Bagaimana kalau kita bicarakan di ruanganku saja. Ayo" ucap Daniel dengan berlalu keluar dari ruang rawat Hera.
Sampai di ruangan Daniel, mereka berdua sama-sama berdiam diri dengan pikiran mereka masing-masing. Hingga Rain memecahkan kesunyian tersebut dengan meluntarkan pertanyaan yang terlintas di kepalanya.
"Katakan, apa yang mau kau bicarakan" ucap Rain
"Karena Hera Berada dalam kondisi koma yang tidak bisa disadarkan kembali, tidak ada refleks bahkan tidak ada napas, maka kami menyatakan kalau Hera mengalami mati otak!"
"Apakah kau sudah menceknya dengan benar?" Tanya Rain dengan ragu.
"Ya kami sudah melakukan serangkaian tes yaitu: pertama Elektroensefalografi (EEG), untuk mengukur aktivitas listrik pada otak Hera. Pada pasien yang sudah meninggal, aktivitas gelombang atau listrik otaknya tidak lagi terdeteksi. kedua pemeriksaan listrik jantung (EKG), untuk menilai aktivitas listrik dan detak jantung. Orang yang mati otak atau sudah meninggal tidak lagi memiliki aktivitas listrik di jantungnya. Dan ketiga Tes pencitraan, seperti angiografi, CT scan, MRI, dan USG Doppler, untuk mengetahui kondisi otak dan mendeteksi aliran darah ke otak, bahkan para dokter senior spesialis saraf pun juga ikut membantu pengetesanya. " Ucap Daniel menerangkan
"Yang benar saja, apakah istriku masih bisa kembali seperti semula." Tanya Rain dengan was-was
__ADS_1
"Jika seseorang telah dipastikan mengalami mati otak atau meninggal, penggunaan obat-obatan atau alat bantu napas sebenarnya sudah tidak lagi efektif karena kondisinya sudah tidak bisa tertolong. Jadi apakah kamu sanggup untuk kehilangan istri barumu, yang mungkin kau akan menyandang status sebagai duda tapi perjaka," ucap Daniel
"Aku belum siap untuk kehilangannya, kamu kan dokter masa tidak bisa menyembuhkan istriku, dokter macam apa dirimu itu hahh" ucap Rain dengan rahang keras.
"Kita tunggu dulu selama satu Minggu, kalau dalam satu Minggu istrimu belum membuka mata juga, kami pihak rumah sakit hanya bisa pasrah dan dengan berat hati akan Mencabut semua alat yang menempel pada tubuh istri kecilmu" ucap Daniel lagi dengan menghembuskan napas kasar.
"Apakah tidak cara lain," ucap Rain dengan tidak semangat.
"Tidak ada sama sekali, kamu hanya berdo'a saja agar Hera cepat membuka matanya kembali" ucap Daniel menyemangati sahabatnya yang lagi putus asa.
"Hahh," Rain hanya bisa menghembuskan napas pasrah dengan berdiri dan berlalu meninggalkan Daniel sendiri di ruangan tersebut.
Daniel yang melihat hal tersebut pun hanya bisa menatapnya dengan sedih.
"Akan aku usahakan agar istri kecilmu kembali kepada dirimu sobat," gumam Daniel
Sedangkan Rain melangkahkan kakinya dengan lesu seperti tidak ada semangat hidup sama sekali, mungkin ini yang pertama baginya ingin memiliki seorang gadis seutuhnya. Tapi kenapa tuhan tidak pernah membuat dirinya bahagia barang sebentar pun. Apa kesalahan yang dirinya perbuat sehingga takdir buruk selalu menimpa dirinya.
Duduk di kursi tunggu yang ada didepan ruang rawat istri kecilnya. Para penjaga yang melihatnya hanya bisa diam tanpa mau bertanya apa penyebabnya, karena mereka sudah tau apa penyebab tuannya kehilangan semangat hidup itu semua mungkin karena sang nyonya mengalami koma.
"Rain, apa yang diucapkan Daniel kepada dirimu, sehingga kau seperti tidak ada semangat hidup lagi" tanya Leo
"Hera, Leo Hera... Dia mengalami mati otak, kemungkinan satu Minggu lagi pihak rumah sakit akan mencabut semua alat-alat penunjang hidup yang ada ditubuh istriku Leo, aku belum siap untuk kehilangannya" ucap Rain lirih.
"Yang sabar, apakah kamu percaya kalau istri kecilmu kembali membuka matanya?"
"Ya aku sangat-sangat percaya karena istri kecilku tidak pernah menyerah dengan hal apapun begitupun dengan hidupnya"
"Pertahankan keyakinan tersebut, sobat" ucap Leo yang berlalu ingin keruangan Daniel untuk membicarakan perihal tentang istri kecil tuannya itu.
__ADS_1