
Papah belum ketemu mah, pasalnya walaupun kita menyembunyikan Hera, pria tadi pasti tau sekalipun itu jauh dari Indonesia. Bagaimana kalau kita nikah saja dulu baru kita langsung bawa Hera pergi." Ucap papa Hera.
"Apa kau gila, anak kita jauh dari suaminya itu sama aja anak kita berstatus janda. Masa anak kita masih muda sudah berstatus janda." Ucap mama Hera dengan lantang.
"Lalu apakah mama ada ide untuk membawa putri kita kabur tanpa diketahui oleh pria tersebut, tidak ada jalan lain mah, ini satu-satunya cara untuk kita biar bisa membawa Hera pergi darinya."
---------------------------------------------
Pagi pun tiba, kini saatnya Hera melangsungkan pernikahan walaupun masih koma, tetap dilakukan atas kehendak sang mempelai pria. Hera sudah didandani dengan sedemikian rupa, dan dibawa keluar ruangan menuju tempat resepsi dilakukan.
Anggap saja Hera memakai peralatan penunjang hidup yah guys...
Karena pernikahannya dilakukan di tempat terbuka maka mereka akan membawa Hera keluar dengan mendorongnya sangat-sangat hati-hati,
Sampai ditempat yang dituju di sana sudah ada pelaminan sederhana yang dibuat oleh suruhan Rain atau mempelai pria.
Karena Rain tau kalau Hera menyukai warna pink sedangkan dirinya menyukai warna putih, maka diputuskan akan memakai warna pink dan putih.
Di sana sudah ditunggu beberapa orang sebagai saksi nanti, Sedangkan Rain duduk dengan santai di sana dengan ditemani Leo dan Daniel disampingnya.
"Bagaimana apakah sudah siap, kalau sudah siap mari kita laksanakan ijab kabulnya." Ucap penghulu
"Ya siap" ucap Rain dengan lantang.
"Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau saudara Mazin Arcus Rain bin Allard Arcus dengan anak saya yang bernama Hera Maeve Hesper dengan maskawin berupa uang sebesar US$500.000, Tunai.”
"Saya terima nikahnya dan kawinnya Hera Maeve hesper binti Robert Maeve dengan maskawin tersebut, tunai.”
__ADS_1
"Bagaimana para saksi sah!" Ucap penghulu.
Sahhh!
"Alhamdulillah"
Setelah pengucapan ijab kabul tersebut hingga dinyatakan sah sebagai suami istri, mama Hera hanya bisa menitikkan air mata mendengarnya. Saatnya pemasangan cincin kepada sang mempelai. Papa Hera yang melihatnya hanya bisa.menenangkan sang istri.
Setelah pemasangan cincin selesai mama Hera langsung menghampiri putrinya dan memeluknya dengan erat, bahkan mencium seluruh wajah anak semata wayangnya itu.
"Semoga kamu cepat sadar nak, dan bisa melihat dunia lagi, mungkin kamu akan terkejut setelah bangun nanti yang ternyata kamu sudah memiliki status sebagai istri. selamat berjuang sayang." bisik mama Hera dengan lirih
"mama jangan sedih dong, nanti putri kita juga ikutan sedih loh, hari ini adalah hari bahagianya anak kita jadi mamah harus bahagia juga." ucap sang papa menenangkan sang istri yang masih tidak rela dinikahi pria lain.
Semua tamu yang hadir mengucapkan selamat kepada mempelai pria, sedangkan Rain hanya menanggapi sewajarnya saja, pikirannya melayang tentang bagaimana caranya Hera bisa kembali lagi membuka matanya.
Rain berpikir hingga sampai waktunya Hera untuk kembali keruang rawat inap, Pernikahan pun dibubarkan dikarenakan sang mempelai wanita akan istirahat dulu.
Sampai dikamar rawat Hera langsung diperiksa ulang oleh Daniel kalau-kalau terjadi sesuatu saat dirinya berada diluar ruangan tadi. Menunggu Daniel memeriksa papa Hera langsung angkat bicara kepada Rain.
"Nak Rain, kami sebagai orang tua dari Hera ingin membawanya ke negara kami tinggal, di sana ada beberapa rumah sakit terkenal, siapa tau dengan berpindahnya ke sana bisa membuat Hera cepat membuka matanya kembali"
"Kenapa harus kalian yang membawa, kan Hera sudah menjadi tanggung jawabku sebagai suami, jadi kalian bisa kembali ke negara asal kalian, tidak usah memikirkan bagaimana Hera nantinya." Ucap Rain tegas.
"Kami hanya ingin yang terbaik untuk putri kami, jadi kami mohon sekali bisa membawa Hera ke negara kami" sahut mama Hera dengan memohon.
"Tidak bisa. Kalian kalau ingin merawat istriku, kalian bisa tinggal di negara ini untuk sementara waktu, tapi aku tidak ingin istriku dibawa ke negara kalian." Jawab Rain.
"Hahh, masalahnya kami harus segera ke negara asal kami, karena ada sesuatu yang diurus." Ucap papa Hera.
"Ya sudah kalau memang pekerjaan lebih penting dari istriku tidak papa pergi saja. Tuh aku tidak masalah sama sekali, bahkan ada atau tanpa kalian sekalipun itu tidak ada pengaruh sama sekali dengan istriku, karena istriku memang tidak tau kalau masih mempunyai orang tua, istriku hanya tau kalau dirinya berada di panti ada dua pernyataan yang pertama orang tuanya meninggal dan yang kedua orang tuanya tidak menginginkan dirinya." Ucap Rain panjang lebar.
__ADS_1
"Kami bukan tidak menginginkan Hera tapi kami hanya ingin melindunginya saja" ucap mama Hera membantah.
"Yah mungkin itu adalah pernyataan dari kalian, kalau dari istriku apa pernyataannya?. pastinya berbeda dengan kalian bukan." Ucap Rain
Saat Rain ingin pergi dari ruang tunggu, tiba-tiba Daniel keluar dari ruangan tersebut sehingga membuat Rain mengurungkan niatnya untuk pergi dari sana.
"Apakah ada sesuatu yang terjadi pada Putri kami" tanya sang papa.
"sejauh ini hasil pemeriksaan masih sama dengan hasil hari-hari sebelumnya, semoga saja hari-hari berikutnya bisa lebih membaik, walaupun itu mustahil" ucap Daniel.
"Hmm ya terimakasih dokter" ucap sang mama
"Ya sama-sama Tante, saya undur diri dulu" sahut Daniel lagi dengan berlalu sambil menepuk pundak sahabatnya yaitu Rain.
"Rain, apakah saya boleh tau siapa yang telah membuat putri kami seperti ini." tanya papa Hera.
"Yang menabrak putri kalian adalah salah satu penjagaku" jawab Rain jujur.
"Terus karena itu kamu jadi ingin menikahi putri kami?" tanya papa Hera lagi dengan menatap intens Rain.
"Tidak, saya memang benar-benar ingin menikahi putri kalian sebelum kejadian tragis tersebut" sahut Rain
"benarkah?" tanya papa Hera memastikan.
"Iya!"
"Lalu kau apakan penjaga mu yang telah menabrak putri kami, apakah kau beri dia keadilan"
"Tentu saja diberikan keadilan." Jawab Rain lagi.
Setelah pembicaraan tersebut tidak ada lagi yang berbicara antara mereka bertiga sehingga membuat keadaan menjadi canggung, bahkan para penjaga yang ada di sana juga merasa bingung mendadak.
"karena tidak ada lagi yang mau dibicarakan, aku akan undur diri dulu, ada sesuatu yang mau diurus dulu tentang pernikahan kami tadi. jadi aku pamit dulu wahai para mertua" ucap Rain dengan menekankan kata 'mertua' di sana.
__ADS_1
Terimakasih yang sudah membaca jangan lupa like dan vote ya guyss