Hesper Rain

Hesper Rain
Survey 1


__ADS_3

"Wahai para prof ku yang terhormat, saya ingin bertanya apa yang kalian debat kan" tanya ambigu Roben.


"Nah kan bukan hanya ingatannya saja yang berkurang tapi telinganya pun pendengarannya ikut berkurang." ejek Rain.


"Lo yah, (tunjuk Roben kearah Rain) gue nanya sama prof kok Lo yang nyambung sih... huhhh" sarkas Roben dengan memutar mata kesel..


Sedangkan Rain hanya mengangkat bahunya tidak peduli.


-------------------------------------------------


Beberapa jam berlalu mereka sudah sampai ditempat yang mereka tuju.


"Huhhh, akhirnya sampai juga" ucap Roben dengan merenggangkan kedua tangannya keatas.


"Prof, ini kita tidurnya dimana? Apakah disini ada rumah pemukiman" sambung Roben lagi dengan melihat ke sekeliling.


"Baru saja sampai sudah nanyain masalah tidur dimana." Sarkas Rain dengan menepuk kepala belakang Roben.


"Yailah, tidak ada salahnya kan gue menanyakan hal tersebut." Sewot Roben dengan memutar mata malas.


"Kita kan meneliti sebuah wilayah yang orang-orang nya selalu mengasingkan diri dari masyarakat luar, kita harus beradaptasi dengan mereka, jadi dimana mereka tidur kita akan ikuti juga. Mengerti Roben!!!, Diingat kata-kata kami ini Roben, malu kan dengan dirimu yang memang dinyatakan memiliki ingatan super-super." Ucap prof II


"Tentang ingatan terus yang disinggung. Huhh... Begini nih memiliki ingatan diluar nalar" lirihnya dengan menampilkan senyuman bahagia.


"Lo itu sedih atau gimana, muka bahagia tapi suaranya seperti orang yang tidak bernyawa. Kalau mau sombong itu sekalian aja jangan setengah-setengah" Ejek Rain dengan duduk di atas tanah dengan lesahan setelah mobil yang mereka tumpangi pergi kembali meninggalkan mereka berenam disana.


"Baik untuk berdebat ya nanti saja, sekarang kita akan berbagi tugas untuk menelitinya bagaimana? oke." Ucap prof I bijaksana dengan menatap semua wajah orang-orang Yanga ada disana.

__ADS_1


Rain dan yang lainnya menganggukkan kepala pertanda setuju dengan keputusan prof 1.


"Baik, karena semuanya setuju jadi saya akan membagi kelompoknya yaitu saya dengan prof II sedangkan Rain dengan Robben terus kalian berdua satu kelompok, sudah jelas dengan ucapan saya, apakah ada yang mau ditanyakan?" Ucap prof I


"Mau bertanya prof, ini kan kita satu kelompok 2 orang, terus Wilayah mana saja yang akan kami survey prof" tanya satu orang peserta lain.


"Jadi gini, kita hanya mensurvey satu wilayah saja, tapi karena wilayah yang kita teliti ini tidak sembarangan wilayah untuk orang luar survey, jadi maka dari itu kita berpencar saja agar bisa meneliti bagian Utara Selatan barat timur gitu." Jawab prof I


"Jadi kami berdua akan akan mensurvey wilayah barat dan timur, untuk Rain dan Robin mensurvei Wilayah utara, trus 2 orang lainnya atau kelompok lainnya mensurvey wilayah Selatan gimana? Gimana oke?" Ucap prof II membagi tugas.


"Siap oke, prof" sahut empat orang lainnya yang dijawab anggukan oleh prof II.


"Bagus kita jalan sekarang, agar kita bisa cepat menyelesaikan survey ini. Semangat 45. Go go go.." ucap prof I dengan menyemangati empat orang anak didiknya.


Rain dan Roben sudah mulai berjalan menuju kearah Utara. Sedangkan yang lainnya juga sudah berjalan menuju arah yang akan mereka teliti juga.


"Aku pun juga penasaran tidak hanya diri Lo saja, tapi dari info yang gue tau kalau wilayah yang akan kita teliti ini adalah wilayah yang disebut dengan wilayah omnivora. Jadi kita ke sana harus berhati-hati, apalagi mereka itu sulit sekali menerima orang-orang asing mengerti. Jangan menganggap gampang hanya diberi tugas seperti ini." Ucap Rain bijak menasehati Roben agar tidak ceroboh nantinya.


"Iya iya, gue ingat kok kata-kata Lo itu." Jawab Roben cuek.


Mereka berjalan sudah kurang lebih dua jam lamanya, hingga mereka berhenti dititip yang tidak ada cahaya matahari yang bisa memasuki hutan tersebut sehingga mereka tidak bisa menentukan Dimana arah Utara.


"Owh iya, Lo ada membawa kompas nggak, gue lupa soalnya membawa." Ucap Rain saat tidak tau arah.


"Ada kok, tunggu aku bongkar tas dulu." Sahut Roben dengan menurunkan tas besarnya kebawah dari punggungnya.


Roben dengan teliti mencari barang yang mereka inginkan. Namun sudah dicari tidak ada.

__ADS_1


"Ada nggak?" Tanya Rain.


"Tunggu bentar dulu Napa, ini gue lagi mencari nih." Sarkas Roben dengan tangan tetap bekerja mencari suatu barang yang kecil.


"Ini kita sudah hampir dua puluh menit menghabiskan waktu hanya untuk mencari kompas saja. Bereskan kembali aja itu barang-barang Lo, kaya wanita saja bawa banyak-banyak barang" cibir Rain dengan melipat tangan di dada bidangnya.


"Perasaan gue meletakkan nya disini, tapi kok nggak ada sih" bingung Roben. " Eh tunggu-tunggu, nh ini dia dapat.. wuhuuu dapat, nggak sia-sia gue bongkar tas. Huhh" teriak Roben saat sudah mendapatkan barang yang dirinya cari.


"Ya sudah kalau sudah dapat, bereskan cepat itu barang, cari satu barang aja lama banget" ucap Rain dengan menahan amarah, kenapa? Karena Rain paling tidak suka menunggu lama.


"Iya iya bentar, ini gue lagi mau masukin. (Dengan memasukkan barang-barang nya kembali kedalam tas) dimana ini kita tidur, hari juga sudah mulai sore" ucap Roben dengan menatap kearah atas.


"Ya sudah dipercepat kamu bereskan, biar kita juga cepat mencari tempat istirahat yang cocok"


"Iya iya ini juga lagi membereskan" sarkas Roben kesel karena didesak terus-terusan.


Rain hanya memandang kearah ke sekeliling kalau-kalau ada sesuatu yang dapat dirinya temukan, hingga matanya melihat sesuatu yang asing baginya. langsung saja dirinya mengeluarkan teropong dari sisi tasnya. Dilihatnya dengan jelas di atas pohon yang ada disana dengan teliti.


"Rob Rob, sepertinya kita istirahat disini saja, karena kita juga dekat dengan orang-orang yang tinggal di wilayah sini." ucap Rain.


"Tapi kita tidurnya tidak di atas tanah, kina tidurnya di atas pohon, biar mereka tidak mengetahui keberadaan kita dulu" sambung Rain.


"Apa di atas pohon, Lo tidak gila kan, masih waras Lo hahh, ingin tidur di atas pohon, Lo nggak sayang sama sepertinya." omel Roben tidak terima tidur di atas pohon. "Terus apa gunanya gue membawa-bawa tenda segala" lirih Roben


"Mau gimana lagi, mereka membuat rumah di atas-atas pohon yang memiliki tinggian kurang lebih 10 meter dari tanah. kalau kita membuat tenda di tanah yang ada mereka malah turun memeriksa kita saat kita lagi tidur, mengerti nggak sih Lo." jelas Rain


"serahlah,,, mau di atas pohon kek, mau di atas awan kek, terserah saja" sahut Roben.

__ADS_1


Terimakasih yang sudah membaca jangan lupa like dan vote, agar aku lebih semangat lagi melanjutkan ceritanya.


__ADS_2