Hesper Rain

Hesper Rain
Gugup


__ADS_3

"Apaan sih, mengalihkan pembicaraan ke tipe pria, aku maunya pulang, kamu dengar nggak sih"


"Oke. Kalau kamu bisa keluar dari sini, silahkan saja.."


"Oke." Ucap Hera datar dengan membalikkan badan menuju pintu keluar.


"Kalian awasi dia, jangan sampai keluar dari area mansion ini" perintahnya kepada pekerja yang ada di sana.


"Leo keruang kerjaku" sambung Rain datar dengan bangkit dari sofa menuju ruang kerja.


"Baik tuan" sahutnya dengan mengikuti dari belakang.


----------------------------------------


Sampai diruang kerja mereka duduk saling berhadapan namun tidak ada yang berbicara sama sekali, sehingga membuat sepi dan keadaan terasa canggung. Leo pun tidak berani angkat bicara lebih dulu, karena takut kalau dipanggilnya dirinya kesini bersangkutan dengan ucapan sang nyonya yang mengatakan kalau dirinya lah tipe pria nya. Kalian tau kan kalau pria yang ada didepannya ini seorang psychopath, jadi dirinya menjadi harap-harap cemas.


"Huh..." Rain hanya bis amenghembuskan napas kasar.


"Kenapa dirinya seperti tidak suka dengan diriku, apa kekuranganku coba ganteng iya, mapan iya,," tanya Rain frustasi


"Mungkin dirinya tidak suka dengan sesuatu yang anda bicarakan tadi. Dalam anggapannya anda adalah pria yang narsis tuan"


"Narsis apaan coba, aku narsis memang apa adanya bukan ada apanya"


Secara umum, orang yang suka membanggakan diri sendiri secara berlebihan, arogan, manipulatif, dan senang menuntut sesuatu dari orang lain adalah deskripsi yang tepat untuk orang narsis. Mereka juga terobsesi pada diri sendiri serta merasa sangat yakin bahwa mereka harus dan berhak mendapatkan perlakuan khusus dari orang di sekitarnya.


Hera berjalan keluar dari mansion menuju pagar yang menjulang tinggi mengelilingi mansion, para penjaga di sana heran kenapa ada seorang wanita berjalan mengarah ke mereka.


"Mau kemana mbak?" Tanya penjaga di sana yang tidak tau dengan Hera


"Emm.. Anu pak saya mau keluar"


"Apakah mbak sudah izin terlebih dulu"


"Yaa saya sudah minta izin tadi, hehehe" ucap Hera


"Anda minta izinnya sama siapa mbak"


"Owhh saya minta izinnya dengan tuan" ucap Hera ragu dengan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

__ADS_1


"Kenapa Anda minta izinnya dengan tuan?, bukannya anda bisa minta izin dengan kepala pelayan di mansion." Tanya penjaga dengan curiga.


" Ehmmm, kepala pelayan tadi tidak ada, jadi saya minta izin saja sama tuan, hehehe"


"Owh yahh," Tanggapan penjaga tersebut semakin membuat Hera gugup.


"Apakah tuan mengizinkan, apa kata tuan"


"Kata tuan, pergi saja kalau kamu bisa keluar dari sini, gitu"


"Bukannya tuan orangnya tidak bicara kalau kita bicara, paling tuan hanya mengangguk-angguk kan kepala saja kalau tidak paling berdehem. Tapi kamu dijawab dengan ucapan" Sambung penjaga satunya. Hera yang mendengarnya langsung syok bukannya tuan mereka selalu bicara.


"Ahhh, tuan hanya mengangguk saja"


"Bukannya kata kamu tuan berucap tadi?"


"Anuu.. anu..." Hera bingung mau bicara apa.


"Anu anu apa?"


"Tolong bukain pagarnya, karena ada sesuatu yang mau saya kerjakan, ini berhubungan dengan tuan" ucap Hera dengan mengalihkan pembicaraan. penjaga yang mendengar kalau bersangkutan dengan tuan langsung saja membukakan pagar tanpa merasa curiga.


"Ehh, tunggu mbak, emang mbak mau kemana, biasanya para pelayan di manaion ini diantar oleh sopir untuk berbelanja misalnya" sambung penjaga lainnya.


"Emm emm, ada sesuatu yang mau saya urus pak, hehehe" jawab Hera


"Ohh"


Hera melihat kalau pagar terbuka langsung saja keluar dan berterimakasih dengan penjaga yang membukakannya. Melihat ke sekeliling yang terasa sunyi tidak ada manusia seorang pun, hanya ada pepohonan yang mengelilinginya sehingga kesannya menjadi serem, apalagi pepohonan menghalangi cahaya matahari masuk sehingga membuat suasana gelap seperti malam. Tapi anehnya di sana ada jalan yang cukup luas, dirinya berpikir apakah disekitar sini ada pemukiman? Tapi saat dirinya perhatikan lagi seperti tidak ada pemukiman sekitar sini. Kalau tidak ada pemukiman, lalu kenapa ada jalan luas diarea sini?. Dirinya tidak tau saja kalau jalan luas itu dibuat oleh yang punya mansion satu-satunya yang ada di sana.


Berjalan dengan santai dengan melihat-lihat disekitarnya, terlintas dipikirannya pasti ibu khawatir dengannya yang tak pulang-pulang saat pesta tadi malam,


Hera tidak sadar kalau dirinya diikuti oleh beberapa orang penjaga mansion, tuan mereka memerintahkan untuk mengawasinya saja, walaupun Hera sudah keluar dari area mansion.


Di panti ibu izah panik karena kehilangan Hera tanpa kabar, dia menghubungi teman-teman Hera untuk menanyainya. Hingga terlintas dipikirannya dengan Sofia, karena hanya Sofia teman dekatnya sekaligus dia yang mengajak Hera keluar malam-malam.


"Halo, nak Sofia"


"Iya Bu, ada apa?"

__ADS_1


"Gini ibu mau nanya Hera sama kamu tidak, soalnya Hera belum pulang saat kalian pergi ke pesta tadi malam" ucap Bu izah dengan khawatir


"Aku tidak bersamanya Bu, bukannya Hera pulang duluan yah, soalnya tadi malam baru saja sampai sana dirinya sudah tidak ada di pesta, makanya Sofia pikir Hera sudah pulang duluan Bu" ucapnya menjelaskan dan khawatir kalau sahabatnya kenapa-kenapa.


"Tapi Hera nya tidak ada disini, ibu pikir Hera nginap di rumahmu"


"Tidak kok Bu, nanti Sofia cari tau dulu yah dimana Hera, nanti kalau sudah ketemu Sofia kabari ibu nanti"


"Iya terimakasih yah nak Sofia"


"Iya sama-sama Bu, Hera sudah aku anggap sebagai saudaraku sendiri, jadi ibu tidak perlu berterimakasih"


"Yasudah, ibu tutup telponnya yah"


"Iya Bu"


Telpon terputus meninggalkan Bu izah yang takut Hera kenapa-kenapa. Bukan apa, dirinya takut dengan kedua orang tuanya Hera, karena mereka sangat sayang dengan Hera makanya takut kalau sampai orang tuanya tau kalau Hera tidak ada di panti. Dirinya berpikir keras untuk memikirkan kata-kata untuk menjawab pertanyaan orang tua Hera nanti kalau bertanya-tanya tentang Hera. Tak lama dirinya berpikir suara telpon mengagetkannya, yang dirinya duga orang tua Hera yang menelponnya.


"Ha ha halo" angkat Bu izah dengan gugup


"Izah, gimana kabar anakku, dia baik-baik saja kan"


"Iya nyonya, nak Hera baik-baik saja dia disini"


"Iya aku tau, tadi malam aku melihatnya pergi ke pesta, benarkan? Dirinya sangat sangat cantik sampai-sampai aku ingin mengatakan yang sebenarnya kalau dirinya anakku, orang tuanya kandung yang belum meninggal" cerita seberang telpon dengan riang.


"Iya nyonya, Hera memang cantik" sahut Bu izah.


"Kapan aku bisa bertemu dengannya, apakah dirinya mau mengakui ku sebagai orang tuanya"


"Pasti bisa nyonya, karena Hera memimpikan mempunyai orang tua"


"Benarkah?"


"Iya nyonya, ehh nyonya saya tutup dulu telponnya yah, soalnya anak-anak yang lain lagi mencari saya." Bohong Bu izah agar cepat berhenti biar sang nyonya tidak menanyakan Hera lagi


"Iya iya, terimakasih telah menjaga anakku dengan baik izah."


"Iya sama-sama nyonya."

__ADS_1


Terimakasih telah membaca jangan lupa like dan vote, komen kalau menurut kalian kurang menarik


__ADS_2