
Berhenti di sana!!" ucap salah seorang penjaga yang memiliki tubuh besar seperti Bima difilm Mahabarata
"Kalian bertiga ada perlu apa untuk datang ke sini?, apakah tuan kami sudah mengizinkannya?" ucap penjaga tersebut dengan bertanya.
"......" tidak ada jawaban sama sekali dari tiga orang tersebut
-----------------------------------------
Leo yang mendengar ada suara ribut langsung saja melihat kearah asal suara. Saat melihat siapa, langsung saja dirinya terkejut pasalnya tuannya melepas topengnya sendiri, mungkin karena itu penjaga tidak mengenalinya.
"Ehmmm, ada apa ini" ucap Leo membuat penjaga tersebut langsung menghadap kearahnya.
"Ini bos, mereka sepertinya ingin memasuki ruangan nyonya" adu penjaga tersebut.
Leo hanya menatap kearah Rain seakan minta jawaban untuk apa dirinya melepas topeng dan siapa dua orang yang ada disisinya itu. Rain hanya menatapnya juga lalu menganggukkan kepala.
Walaupun Leo kurang ngerti dengan isyarat tuannya, tapi tetap saja dirinya angkat bicara menengahi pembicaraan.
"Owh iya. Kalian mau jenguk nyonya yah, silahkan silahkan" ucap Leo dengan hormat.
"Ahh iya, terimakasih" sahut prof II sambil memamerkan gigi putihnya.
Setelah dipersilahkan rain dan dua prof tersebut memasuki ruangan tersebut tanpa ada cegahan dari bos mereka.
"Bos, kenapa disuruh masuk? Bukannya kata tuan tidak boleh ada yang bisa memasuki ruangan nyonya. Kecuali atas izinnya" ucap penjaga yang besar tubuhnya seperti Bima tadi.
"Gini yah,, untuk tiga orang tadi pengecualian, jadi kalau kalian semua .elihat tiga orang tadi ingin memasuki ruangan nyonya persilahkan saja dengan hormat, mengerti!!" Ucap Leo
__ADS_1
"Siap mengerti!" Sahut penjaga di sana berbarengan sehingga membuat gelombang suara menjadi besar bahkan memantul di lorong rumah sakit tersebut.
Rain memasuki ruangan dengan diikuti oleh dua prof nya.
"Rain siapa mereka para penjaga tadi, apakah dirinya yang ditugaskan untuk menjaga istrimu" ucap prof I
"Iya prof, maafkan kelancangan mereka prof yang telah mencegat perjalanan kita tadi" ucap Rain dengan rasa bersalah.
"Jangan kau pikirkan, itu memang wajar kalau penjaga seperti itu, itu berarti dia memang benar-benar menjaga istrimu dari orang-orang yang tidak dikenal." Ucap prof II dengan mata mengelilingi ruangan untuk melihat-lihat hal janggal disana.
"Apakah kamu sadar kalau penjaga tadi tidak mengenali dirimu Rain, aku lihat-lihat tadi tidak ada seorang pun yang mengenali dirimu, kecuali laki-laki yang memakai jas biru gelap tadi (dengan mata memandang kerah Rain) apakah kamu merasakannya (dengan beralih memandang kearah prof II), tapi kalau dilihat-lihat dirimu ini adalah seorang yang kaya raya, pasalnya penjaga tadi yang aku tau adalah penjaga yang berasal dari italy benarkan?" Ucap prof I curiga.
"Kalau dilihat-lihat sih memang benar kalau penjaga tadi seperti tidak mengenali dirimu Rain" sahut prof II membenarkan.
"Nah kan kamu aja merasakannya, jadi apa benar kalau dirimu orang yang berada rain?" sarkas prof I dengan bertanya kembali kepada Rain.
Para Prof yang melihat kalau rain berlalu pun juga ikut mengikutinya dari belakang, hingga mata mereka memandang kearah seorang gadis yang tengah berbaring kaku di atas brankar sana dengan dibantu oleh alat-alat penunjang kehidupan.
"Apakah dia adalah istrimu, rain?" Tanya prof I
"Iya prof, dia adalah istriku, istri kecilku yang telah lama berbaring di sana, seakan dirinya tidak ingin membuka mata kembali lagi. Mungkin dirinya masih nyaman untuk beristirahat sejenak" lirih Rain dengan mata berkaca-kaca.
"Hmm, aku percaya kalau istrimu akan segera melihat dunia lagi, aku percaya itu." Ucap prof I
"Dirinya lumayan cantik walaupun kecantikannya tertutupi oleh wajahnya yang pucat" ucap prof II
"Iya terimakasih atas pujiannya terhadap istriku, memang prof benar, dia adalah wanita tercantik yang pernah ada di dunia ini, nanti kalau istriku sudah membuka matanya kembali, aku akan memperkenalkan kepada kalian berdua seberapa cantiknya istriku saat dirinya tersenyum" sahut Rain dengan membayangkan wajah Hera yang tengah tersenyum saat memandangi bunga-bunga yang ada di taman mansion nya dulu.
__ADS_1
"Hahaha... Ya ya ya istrimu adalah wanita cantik yang ada di dunia ini menurut dirimu, tapi kalau menurut aku istriku lah wanita yang yang tercantik sejagat raya ini. Hahaha" ucap prof I dengan tertawa.
"Iya itu menurut kalian berdua, tapi kalau menurutku ibuku lah wanita tercantik yang pernah ada di dunia ini" sarkas prof II tidak mau kalah.
"Iya kan dirimu belum merasakan bagaimana rasanya menikah, nanti aja kalau sudah menikah baru bilangnya 'istri ku adalah wanita cantik yang pernah aku temui' Halah bacot " tutur prof I dengan mengejek prof II.
"Hahh..(dengan memijit pelipis yang tidak terasa pusing), apa penyebab hingga istrimu mengalami koma rain" ucap prof II mengalihkan pembicaraan, karena kalau diteruskan bakalan dirinya yang diejek terus menerus.
"Dulu istriku kecelakaan hingga dirawat di rumah sakit bahkan istriku sudah dinyatakan mati otak, karena sudah tidak bisa lagi merespon, bahkan jantungnya pun pernah tidak berdetak sama sekali, saat Hera akan dicabut semua alat penunjang kehidupannya, Tuhan selalu ada bersama orang yang membutuhkannya kan, mungkin saat itu aku sudah pasrah untuk kehilangan istri kecilku, tapi Tuhan berkehendak lain, Hera masih bisa bertahan hidup dalam kesesakan napas yang dirinya alami, dan yah sampai sekarang dirinya masih betah berbaring di sana tanpa mau membuka matanya kembali." Lirih Rain yang menitikkan air mata dengan teringat kejadian dua bulan lalu.
"Hmm sabar saja, tuhan akan bersama orang-orang yang sabar rain, jadi apa yang akan kamu putuskan untuk besok hari?" tanya prof I
"Akan saya pikirkan nanti prof" sahut Rain.
"Aku sangat berharap kalau dirimu ikut survey juga Rain, tapi karena istrimu sakit aku hanya bisa pasrah saja, karena sebenarnya kalau tanpa dirimu survey ini akan lama selesainya, pasalnya kamu adalah salah satu orang yang cepat tanggap, jadi sangat disayangkan kalau dirimu tidak bisa ikut" sarkas prof II.
"Iya kamu benar" sambung prof I menyetujui perkataan prof II.
"Aku lihat keadaan istriku sampai besok, kalau memang istriku sudah baik-baik saja, aku akan ikut besok nanti, tunggu saja aku di basecamp nanti" ucap Rain dengan memberi solusi, pasalnya dirinya sangat ingin melakukan survey yang menantang seperti ini, dulu sebelum dirinya menikah Rain sangat menginginkan mensurvey orang-orang pedalaman sana.
"Yaa kami akan menunggumu di sana" ucap prof I dengan menepuk punggung belakang Rain sambil berlalu menuju pintu keluar.
"Kami berdua tidak memaksa dirimu untuk mengikuti survey itu Rain, jadi pikirkan matang-matang terlebih dulu" sambung prof II yang ikut berlalu meninggal rain seorang diri yang sedang memandang kearah mata yang sudah lama tidak terbuka itu.
"Apa yang aku pilih? dirimu atau tugas survey ku, aku merasakan delima saat ini" lirih Rain dengan memegang tangan Hera yang bebas dari infus.
Terimakasih yang sudah membaca jangan lupa like dan vote agar aku tetap semangat untuk menulis chapter selanjutnya..
__ADS_1