
"Iya akan aku ingat pesan kalian, aku tidak bisa berjanji untuk tidak membuatnya menangis, yang pasti aku berjanji akan membuatnya bahagia." sahut Rain dengan tegas
"Walaupun aku tau kalau Hera tidak mencintaiku" gumam Rain lagi tanpa orang tua Hera dengar.
"Hmm, ya sudah kami akan berangkat sekarang (dengan mata melihat kearah jam tangan mewah yang ada dipergelangan tangannya), ingat janji kamu tadi, karena janji adalah hutang mengerti" ucap papa Hera lagi.
"Semoga kalian bahagia" ucap mama Hera dengan tak rela meninggalkan putri mereka satu-satunya di negara ini, walaupun negara ini Adalah tempat anaknya besar.
"iya semoga" sahut Rain dengan tersenyum sangat-sangat tipis bahkan tidak ada yang menyadarinya kalau dirinya sedang tersenyum.
Hari-hari berlalu sudah genap dua bulan Hera koma, sampai sekarang belum juga sadar. Rain selalu setia mendampingi Hera, walaupun saat dirinya sibuk pun akan dirinya luangkan waktu hanya untuk melihat keadaan istri kecilnya.
Tringgg tringgg
Bunyi telpon membuyarkan lamunannya dari wajah pucat sang istri tercinta.
"Ya halo"
"......"
"Oke aku akan ke sana segera, kebetulan aku sudah ada di rumah sakit"
"......."
Telpon terputus dengan seberang telpon.
"Sayang, aku pamit dulu yah,, nanti aku akan kesini lagi. Oke" ucap Rain sendiri dengan mencium pucuk kepala sang istri.
"I Love You, your mine" gumamnya dengan berlalu meninggalkan Hera sendiri dengan ditemani alat pendeteksi jantung yang selalu berbunyi sehingga tidak membuat suasana sekitar menjadi sunyi.
Keluar dari ruangan tersebut yang sudah ditunggu oleh asisten nya Leo dan beberapa penjaga yang dirinya tugaskan untuk menjaga istri kecilnya.
"Ini pakaian yang tuan pesan tadi" ucap Leo setelah melihat kalau tuannya keluar dari ruangan.
"Hmm, Leo, kamu jaga disini dulu dengan penjaga yang lain, aku mau keluar sebentar ada yang mau aku urus" ucap Rain berlalu menenteng paper bag berisi pakaian.
__ADS_1
Berjalan menuju toilet umum yang ada di rumah sakit tersebut untuk mengganti pakaian yang sekarang menjadi pakaian kasual. Setelah berganti pakaian dirinya langsung menuju ruangan rahasia yang ada dibawah tanah, yang hanya dirinya dan prof nya saja yang tau.
Kenapa kalau setiap Rain ingin bertemu dengan prof selalu Menganti pakaian kantor menjadi pakaian kasual saja?, Karena para prof nya tidak mengetahui kalau Rain adalah seorang pengusaha, yang mereka tau hanya Rain adalah jenius diantara jenius yang bisa mengembangkan bahan-bahan alami menjadi obat untuk bisa diminum untuk orang yang mungkin tidak mempunyai biaya, jadi bagi mereka yang sakit bisa langsung cari bahan-bahan yang dibutuhkan dan bisa sendiri tanpa harus membeli.
Maka dari itu Rain kalau memakai pakaian kantor selalu menggunakan topeng untuk menutupi indentitasnya dengan para prof nya.
Tok... Tok.. tok..
Rain mengetuk pintu, dirinya akan masuk jika orang yang didalam menyuruh dirinya untuk masuk.
"Masuk.." ucap salah satu prof
"Maaf menunggu lama, prof" ucap Rain dengan rasa bersalah.
"Tidak masalah, ayo duduk dulu sambil menunggu prof I membuat minuman." Ucap prof II
Mereka berbincang-bincang hingga tiba prof I selesai membuat minuman untuk mereka berdua.
"Ini minumannya, kalian membicarakan apa sih kayanya rame banget." Ucap prof I sambil menyeruput minumannya.
"Kami hanya membicarakan hal-hal memalukan yang pernah dilakukan oleh Rain. Hahaha" sahut prof II dengan tertawa keras.
"Iya jelaskan lebih detailnya prof" ucap Rain penasaran.
"Oke. Kita akan mensurvey wilayah-wilayah yang terasingkan dari kota, nanti kita akan meneliti suku-suku yang ada di wilayah sana bersama dengan rekan yang lain, jadi apakah ada yang keberatan?" Terang prof I dengan memandang kearah dua rekannya yang lain.
"Kalau aku sih oke oke aja" jawab prof II
"Hmm.. kapan kita berangkatnya?" Tanya Rain
"Mungkin sekitar dua hari lagi, besok kita akan kumpul dulu di basecamp bersama dengan anak-anak anggota lain. Jadi kita akan segera berangkat paginya lagi." Jawab prof I
"Kenapa kamu menanyakan hal tersebut, tumben sekali. Apakah kamu tidak bisa ikut?" Tanya prof II dengan curiga.
"Bukannya tidak bisa prof, aku bingung aja istriku lagi dirawat di rumah sakit ini, masa aku sebagai suami meninggalkan sang istri yang lagi sakit," ucap Rain dengan pasrah memberitahukan penyebabnya.
"Kau sudah menikah Rain?, Kapan? Kok kami berdua tidak tau soal itu, dan kamu juga tidak mengundang kami berdua?" Tanya prof I
__ADS_1
"Iya prof, sekitar dua bulan lebih, soal kenapa aku tidak mengundang kalian, karena kami menikahnya dadakan prof jadi tidak sempat memberitahukan kepada kalian berdua prof, maaf-maaf sekali" ucap Rain dengan rasa bersalah.
"Emang istrimu sakit apa hingga dirawat di rumah sakit?" Tanya prof II
"Istriku sedang koma prof" lirih Rain ndengan mata berkaca-kaca
"Koma?? Sudah berapa lama" tanya prof II lagi.
"Sebelum kami menikah dirinya sudah koma prof, jadi pas aku menikah itu dia dalam keadaan koma." Sahut Rain.
"Hahh, semoga istrimu cepat membuka matanya kembali yah Rain," ucap prof I mendo'akan.
"Iya semoga" lirih Rain.
"Ya sudah, ini intinya kamu mau ikut survey atau tidak, kalau kamu mau ikut kamu bisa langsung ke basecamp besok. Oke. Kami tidak memaksa kamu untuk harus bisa ikut Rain, jadi kalau kamu memang ingin menjaga istrimu, kau jaga saja" ucap prof II dengan memberi tepukan dipunggung Rain sambil tersenyum.
"Apakah kami bisa menjenguk istrimu Rain? Aku hanya ingin melihat wanita mana yang sudah meluluhkan hatimu yang beku akan cinta itu, aku jadi penasaran" ucap prof I dengan mengusap dagu seakan tengah berpikir.
"Ya kenapa tidak, apakah mau sekarang?" ucap Rain dengan semangat.
"Oke sekarang aja, kenapa harus nanti" sahut prof I
Mereka berjalan dengan santai di lorong rumah sakit yang sepi, kenapa sepi? karena lorong tersebut hanya di runtukkan bagi tamu VVIP saja.
"Apakah kamu sangat mencintai istrimu Rain" ucap prof I
"Ya aku sangat-sangat mencintainya, kalau tidak aku tidak bakalan menjadinya istriku prof" sahut Rain dengan membayangkan wajah cantik Hera.
"Aduh yang lagi kasmaran (dengan menggelengkan kepala) masih jauh nggak nih, aku jadi tidak sabar untuk melihat istrinya Rain" ucap prof II
Sampai di sana kami langsung dihadang oleh penjaga, bagaimana tidak dihadang kalau mereka tidak tau kalau diantara tiga orang di sana salah satunya adalah tuan mereka.
"Berhenti di sana!!" ucap salah seorang penjaga yang memiliki tubuh besar seperti Bima difilm Mahabarata
"Kalian bertiga ada perlu apa untuk datang ke sini?, apakah tuan kami sudah mengizinkannya?" ucap penjaga tersebut dengan bertanya.
"......" tidak ada jawaban sama sekali dari tiga orang tersebut.
__ADS_1
Terimakasih yang sudah membaca jangan lupa like dan vote biar aku tetap semangat menulisnya.