Hesper Rain

Hesper Rain
Tipe pria


__ADS_3

"Terus apakah ada lagi yang tau" tanya Hera lagi.


"......" tidak ada yang menjawab pertanyaannya.


"hahh, kalau begitu antar aku kehadapan tuan kalian" ucap Hera dengan memijit kepala bingung.


"Baik silakan nyonya" ucap seorang penjaga di sana mempersilahkan dirinya lebih dulu.


"Kenapa harus aku lebih dulu, kalau aku duluan mana tau dimana tuan kalian berada, kalian saja di depan sebagai tunjuk arah" ucap Hera yang dipanggil yang lainnya.


----------------------------


Kami berjalan menuju dimana tuan rumah berada, awalnya kami ingin menuju keruang kerjanya tapi karena sang tuan berada diruang tamu langsung saja kami menghampirinya. Tuan mereka lagi bicara dengan asisten pribadinya


"Maaf tuan mengganggu, nyonya mencari anda" ucap salah satu penjaga dengan membungkuk.


"Hmm" sahutnya dengan mata berpaling dari kertas ditangannya memandang kearah Hera


"Ada yang mau kamu sampaikan hmm" ucapnya lagi dengan meletakkan kertas yang dibacanya tadi dimeja yang ada didepannya.


"Yaa... Saya ingin pulang!" Ucap Hera singkat dengan muka jutek, sengaja biar tuan mansion tidak menyukainya.


"Untuk apa pulang, inikan juga rumahmu, rumah ini cukup untuk kamu tinggali, duduk dulu sini." ucapnya dengan menarik Hera duduk di pangkuannya.


"Eh.. ehh.. eh..Lepasin nggak," berontak Hera dengan menjauhkan tangan Rain dari pinggangnya.


Para pekerja di sana terkejut melihatnya, bagaimana tidak terkejut, ini Rain yang tidak pernah dekat dengan wanita sama sekali, justru bisa mesra dengan seorang wanita yang mungkin dinilai dari segi wajah, penampilan cukup oke, yang bingungnya para pekerja gini, Hera hanya tinggal di panti asuhan. Sedangkan wanita-wanita yang mendekati tuannya, hampir semua memiliki karir bagus. Pertanyaannya yang ada di kepala mereka masing-masing adalah kenapa harus Hera yang dipilih?.


"Lepasin nggak, kenal aja nggak sok ngatur tinggal serumah lagi, emang anda siapanya saya, hahh" ucap Hera protes dengan berontak.


"Aku?, Aku calon suamimu" ucap Rain inting dengan mencium pipi Hera tanpa dosa.


"Hehhh, ngarap banget anda" cibir Hera dengan memutar bola matanya dan tangan menghapus jejak ciuman pria itu dengan kasar.

__ADS_1


"Kok dihapus, kurang yah ciumannya" iseng Rain.


"Apaan sih, cabul. Lepasin kata saya, apa anda tidak malu dilihat oleh pekerja yang ada disini"


"Tidak, ngapain malu tuh aku yang menggaji mereka." Jawabnya dengan mata tak lepas dari wajah Hera yang polos tanpa riasan.


"Huhh,hai kamu" tunjuk Hera kepada asisten Leo.


"Saya?" Tanya asisiten Leo dengan menujuk dirinya sendiri dan mata mengarah kepada tuannya yang masih memandangi wajah sang nyonya.


"Iya kamu, kemari" ucap Hera


Asisten Leo bingung untuk mendekat atau tidak, soalnya dirinya berhadapan dengan tuannya sendiri, bingungnya gini yang memerintah calon nyonya disini tidak enak untuk menolak, tapi dirinya takut kalau sang tuan marah kalau menurutinya, kenapa marah? Karena calon nyonya memanggilnya untuk mendekat, tuannya tidak menyukai kekasihnya didekati atau mendekati pria manapun. Mungkin kalau dirinya dan tuannya berdua saja terlihat akrab seperti saudara, beda kalau menyangkut sang nyonya, karena tuannya terlalu posesif kalau menyangkut sang kekasih. Walaupun dirinya baru kenal tapi kalau dirinya sudah menjatuhkan pilihan tidak ada yang berani membantah. Kalian pasti tau apa itu posesif kan yaitu Keinginan untuk memiliki adalah hal lumrah dalam suatu hubungan. Namun, jika rasa memiliki ini berlebihan dan membuat seseorang merasa berhak untuk mengatur, membatasi, serta melarang hidup pasangannya, ini dinamakan posesif. Begitulah tuannya.


"Ehmmm, gimana ya,,,," ucap asisten Leo bingung dengan tangan mengaruk tengkuknya.


"Lemot banget sih kamu, cepatan sini. Kalau tidak gue cium nih" ancam Hera yang mampu membuat Rain memandang kearah asistennya dengan isyarat mata 'cepat dekati, aku tak rela kekasihku menciummu' begitulah mungkin isyarat yang diberikan oleh tuannya kepada dirinya.


"I iii iya nyonya" ucapnya dengan cepat mendekati.


"Boleh gue minta tolong nggak" memohon dengan memelas.


"Iya boleh, apa yang nyonya mau"


"Kesini deh, dekat-dekat dikit lagi" tawar Hera.


"Etsss, batasnya sampai situ saja, tidak boleh dekat-dekat" bukan asisten Leo yang berucap melainkan orang yang memangkunya.


"Kenapa kamu harus minta tolong sama dia, sedangkan aku ada disini." Sarkas Rain kepada Hera.


"Gimana saya mau minta tolong sama anda, sedangkan anda tidak mau melepaskan saya" jawab Hera dengan datar.


"Huhhh, oke oke ini aku lepasin, kamu mau minta apa" ucapnya dengan melonggarkan tangannya dari pinggang Hera.

__ADS_1


Hera yang merasa tidak ada lagi pegangan yang erat di pinggangnya langsung saja berdiri dan menjauh dari Rain, takutnya dirinya akan melakukannya lagi.


"Kamu mau minta tolong apa? Mobil, apartemen, jet, uang. Sebutin aja" ucap Rain dengan sombong, sedangkan Hera hanya bisa memutar bola mata malas mendengarnya.


"Anda kira saya matre?, Apa-apaan coba aku inginnya pulang sekarang"


"Tidak ingin meminta sesuatu selain minta pulang, banyak loh wanita di luaran sana ingin menjadi dirimu yang beruntung aku pilih."


"Tapi saya tidak merasa beruntung sama sekali dipilih oleh anda, dan Itu wanita lain bukan saya, jadi jangan disamakan saya dengan wanita yang tergila-gila dengan anda." Ketus Hera


"Tapi mau tidak mau kamu harus merasa beruntung bisa aku pilih, karena apa? Karena aku adalah seorang pembisnis kaya raya yang terkenal di asia mau pun di dunia, jadi kamu jangan ragu untuk meminta sesuatu, karena aku tidak bakalan bangkrut hanya karena membeli sesuatu yang murah."


"Hahh, lihat! asisten anda saja tidak seperti anda" jijik Hera.


"Kenapa kamu membandingkan aku dengan Leo, justru aku tidak ada bandingannya sama sekali bahkan Leo pun lewat. Aku mau tanya sama kamu seperti apa tipe pria idaman kamu"


"Seperti asisten mu lah" ucap Hera inting yang mampu membuat Rain dan Leo syok mendengarnya. Yang lebih syok Leo sih, kenapa? Karena dirinya takut kalau sang tuan mengamuk mendengar pernyataan Hera, walaupun dirinya tidak tau kalau dirinya cuma berbohong.


"Hahh, kenapa harus dia"


Bagi kalian yang bertanya-tanya, kok Hera gitu sih tanggapannya? Jadi gini dirinya masih memikirkan kata-kata 'dijual' oleh Dita, maka dari itu dirinya beranggapan bahwa Rain adalah seorang pembeli wanita untuk dijadikan kekasihnya, yang mungkin kalau sudah bosan langsung ditendang. Dari situlah Hera berniat untuk membuat Rain tidak menyukainya dengan ucapan dan penampilannya yang biasa-biasa saja, karena laki-laki kaya itu cenderung melihat kearah keturunan, cara berucap, dan sifat atau sikap yang dimiliki oleh wanita yang dipilihnya nanti.


"Apaan sih, mengalihkan pembicaraan ke tipe pria, aku maunya pulang, kamu dengar nggak sih"


"Oke. Kalau kamu bisa keluar dari sini, silahkan saja.."


"Oke." Ucap Hera datar dengan membalikkan badan menuju pintu keluar.


"Kalian awasi dia, jangan sampai keluar dari area mansion ini" perintahnya kepada pekerja yang ada di sana.


"Leo keruang kerjaku" sambung Rain datar dengan bangkit dari sofa menuju ruang kerja.


"Baik tuan" sahutnya dengan mengikuti dari belakang.

__ADS_1


Terimakasih sudah membaca jangan lupa like dan vote, komen kalau menurut kalian kurang menarik


__ADS_2