Hesper Rain

Hesper Rain
ketemu Prof 4 + Teman


__ADS_3

"Yaa kami akan menunggumu di sana" ucap prof I dengan menepuk punggung belakang Rain sambil berlalu menuju pintu keluar.


"Kami berdua tidak memaksa dirimu untuk mengikuti survey itu Rain, jadi pikirkan matang-matang terlebih dulu" sambung prof II yang ikut berlalu meninggal rain seorang diri yang sedang memandang kearah mata yang sudah lama tidak terbuka itu.


"Apa yang aku pilih? dirimu atau tugas survey ku, aku merasakan delima saat ini" lirih Rain dengan memegang tangan Hera yang bebas dari infus.


------------------------------------------


Matahari terbit dengan bersinar cerah hingga masuk dari sela-sela jendela, yang menandakan kalau pagi sudah datang, hingga cahayanya mampu membuat sosok tampan terbangun dari tidurnya.


Membuka mata dengan sambil meregangkan tangan kearah atas, kesamping kiri-kanan, dan kebelakang. Baru dirinya turun dari brankar yang telah dirinya tiduri menuju dimana sang istri yang masih betah menutup mata itu tanpa ada niat untuk membukanya.


Berjalan dengan mata tidak pernah lepas dari wajah sang istri.


"Halo sayang, selamat pagi." Sambil tersenyum hangat seakan senyumannya bisa dilihat oleh sang istri.


"Apakah kamu tidak bosan tidur terus, sayang. Owh iya aku mau minta izin sama kamu untuk pergi beberapa hari ke depan untuk melakukan survey, apakah kamu mengizinkan hmm..." Ucap Rain sendiri dengan sambil membelai pipi polos tanpa riasan itu.


"Aku tidak akan lama kok ninggalin kamu. Jadi kamu harus bisa cepat-cepat untuk membuka mata agar aku bisa semangat dengan cepat menyelesaikan tugas survey ini. Aku mau mandi dulu yah sayang..." Ucapnya lagi dengan berlalu menuju kamar mandi yang ada di sana.


Kurang dari tiga puluh menit, Rain sudah keluar dari kamar mandi dengan menggunakan kimono, sambil mengeringkan rambut dengan handuk kecil, tiba-tiba ada telpon masuk dengar berdering keras, hingga dirinya langsung cepat-cepat meraih telpon tersebut agar tidak menganggu istrinya yang lagi istirahat.


Saat ingin mengangkat telpon dirinya melihat terlebih dahulu siapa yang menelpon, Rain hanya bisa mengernyitkan alis pertanda bingung dengan nomor asing yang masuk ke telponnya. Karena penasaran langsung saja dirinya angkat, kalau-kalau memang penting.


"Halo" ucap Rain memulai pembicaraan.


"Rain, apakah Lo jadi mau ikut survey?" Tanya seberang telpon.

__ADS_1


"Iya, tunggu aja di sana, gue akan segera berangkat ke basecamp, btw ini siapa?" Ucap Rain dengan bertanya karena bingung dengan seberang telpon yang sok akrab.


"Astaga, jadi dari tadi Lo tidak tau dengan siapa Lo sedang bicara... Hhhhh" dengan menghembuskan napas kasar. "Aku bukan orang terkenal jadi tidak salah kalau Lo tidak kenal dengan gue" sahutnya dengan cuek.


"Lah gimana sih Lo... Ya sudah gue mau berangkat nih,, gue tutup dulu" sahut Rain yang langsung mematikan telpon secara sepihak tanpa mau mendengar ucapan dari seberang telpon.


Rain cepat-cepat memakai pakaian agar bisa cepat menuju ke basecamp. Setelah selesai bersiap dirinya langsung menuju sang istri untuk pamitan terlebih dahulu.


"Sayang aku berangkat dulu yah,, jangan rindukan aku yah,, aku pergi cuman beberapa hari saja kok" bisik Rain dengan mencium-cium pucuk kepala Hera.


Setelah berpamitan dirinya langsung pergi keluar dari ruangan menyisakan Hera yang sendirian di sana. Membuka pintu hingga terpampang jelas beberapa penjaga sedang mengerjakan tugasnya dan juga Leo yang sedang duduk santai di kursi tunggu.


"Leo, kamu panggil satu pelayan yang dipercaya yang dapat menjaga istri kecilku, karena aku akan pergi beberapa hari." Ucap Rain dengan muka serius.


"Emang tuan mau pergi kemana, kok aku tidak diikut sertakan." Tanya Leo heran, karena biasanya tuannya selalu mengikut sertakan dirinya kalau mau bepergian.


"Baik tuan." Sahut Leo yang tak kalah tegas.


"Hmm bagus" dengan menganggukkan kepala. "Dan kalian semua dengan menunjuk penjaga di sana yang berdiri tegak) harus jaga tempat ini, jangan ada seseorang yang tidak dikenal memasuki kawasan ini mengerti, sekalipun itu orang tua dari nyonya kalian." Ucap Rain dengan dingin dan tegas.


"Baik tuan" sahut semua penjaga di sana secara berbarengan.


"Akan aku pegang janji kalian semua, kalau ada terjadi sesuatu dengan istriku maka kalian yang harus menanggung jawabkan semuanya. Mengerti!!" Ucap Rain dengan berlalu menuju lift berada untuk turun kelantai dasar.


Singkat cerita.. sekarang Rain sudah berada di basecamp dengan beberapa orang yang mengikuti survey ini terhitung ada tiga orang bersama dengannya dan ditambah dua prof lagi, jadi total mereka yang berangkat ada tujuh orang.


"Halo Rain, aku kira kamu tidak jadi ikut survey kali ini" ucap prof I dengan menyapa terlebih dahulu.

__ADS_1


"Sebenarnya emang mau tidak ikut, tapi aku pikir-pikir lagi kalau aku berdiam diri hanya untuk melihat istriku terus menerus seperti itu aku akan menjadi sedih, maka dari itu aku ingin ikut survey ini." Sahut Rain yang membayangkan bagaimana istrinya masih memakai alat penunjang kehidupan ditubuhnya.


"Hahh, bisa juga yah kamu sedih.." ejek prof II


"Heyyy, Rain. Kenal gue nggak" teriak seorang laki-laki yang duduk didekat tembok. Rain yang mendengarnya langsung menatap kearah asal suara, dengan menyipitkan mata untuk melihat lebih jelas.


"Who?" Tanya Rain dengan mengangkat alis keatas.


"Astaga Lo memang tidak ingat sama sekali dengan gue..." Ucap laki-laki tersebut dengan berjalan mendekat kearah Rain.


"Lo beneran nggak ingat sama gue" ulang laki-laki tadi memastikan. Rain melihat dengan jelas-jelas, baru dirinya sadar kalau orang yang menyapanya yang sok kenal ini adalah orang yang memang sangat dekat dengannya.


"Owh ini Lo Roben.. wahh gila Lo juga ikut tugas survey ini. Hebat-hebat" ucap Rain dengan antusias.


"Iyalah masa gue yang cermat ini tidak diikut sertakan,,," sahut Roben sombong dengan menepuk-nepuk dadanya.


"Ah iya, gue dengar tadi kamu dengan para prof membicarakan tentang istri, apakah Lo sudah menikah Rain?" Sarkas Roben dengan menyelidik.


"Ya aku sudah menikah, why?" Jawab Rain cuek


"Nggak gue nanya aja, lalu kenapa Lo tidak mengundang gue dihari bahagia mu itu" cibir Roben dengan melipat tangan di dada.


"Bukan kamu yang tidak diundang Ben, kami berdua pun juga tidak diundang olehnya." bukan rain yang menjawab melainkan prof II


"Apa? kalian berdua juga tidak diundang. Lo gimana sih Rain sama teman kok gitu" tunjuk Roben dengan jari telunjuknya.


"Nggak ada pentingnya kalau gue ngundang kalian pada, yang ada malah membuat keributan di pesta pernikahan gue" sarkas Rain dengan cuek sambil meminum jus jeruk yang ada ditangannya.

__ADS_1


Jangan lupa like dan vote agar aku makin semangat untuk melanjutkannya


__ADS_2