
Rain, apa yang diucapkan Daniel kepada dirimu, sehingga kau seperti tidak ada semangat hidup lagi" tanya Leo
"Hera, Leo Hera... Dia mengalami mati otak, kemungkinan satu Minggu lagi pihak rumah sakit akan mencabut semua alat-alat penunjang hidup yang ada ditubuh istriku Leo, aku belum siap untuk kehilangannya" ucap Rain lirih.
"Yang sabar, apakah kamu percaya kalau istri kecilmu kembali membuka matanya?"
"Ya aku sangat-sangat percaya karena istri kecilku tidak pernah menyerah dengan hal apapun begitupun dengan hidupnya"
"Pertahankan keyakinan tersebut, sobat" ucap Leo yang berlalu ingin keruangan Daniel untuk membicarakan perihal tentang istri kecil tuannya itu.
----------------------------
Satu minggu berlalu hari ini adalah hari dimana Hera akan dicabut semua alat penunjang hidup yang ada di tubuhnya, bahkan orang tua Hera pun tidak jadi kembali ke negara mereka karena ingin melihat bagaimana anaknya dilepaskan alat penunjang hidupnya, bahkan ibu Hera pun menangis mengingat kalau putri satu-satunya akan dimerdekakan dari alat-alat yang menempel diarea tubuhnya, otomatis akan langsung meregang nyawa.
Daniel dan beserta dokter yang berpengaruh di rumah sakit itu berdatangan menuju ruangan Hera untuk memeriksanya dan mencabut alat-alat yang menempel di tubuhnya. Semua orang yang bersangkutan dengan Hera akan disuruh keluar dulu sebentar untuk memberi luang para dokter melepaskan semua alat-alat yang menempel di tubuhnya.
Rain yang melihat semua itu langsung bicara
"Daniel apakah tidak bisa diperpanjang lagi waktu pelepasannya" ucap Rain mencegah Daniel untuk masuk ruangan.
"Tidak bisa Rain, Bukan maksudku untuk begitu, tapi kalau kita lama-lama untuk mencabutnya itu sama saja kita mendiamkan mayat berada di ruang rawat inap ini, karena kalau seseorang sudah dinyatakan mati otak maka tidak ada lagi kemungkinan untuk hidup kembali."
"Memangnya tidak ada kemungkinan sama sekali untuk dirinya hidup kembali"
"Mungkin ada untuknya hidup kembali paling sekitar 1%, itu pun kalau dirinya sadar kembali pun dirinya harus melakukan perawatan rutin".
"Hahhh..."
__ADS_1
"Berdo'a saja," ucap Daniel dengan berlalu masuk kedalam ruang rawat.
Didalam Daniel mulai memeriksa apa-apa saja yang masih berfungsi pada tubuh Hera, hingga saat dirinya menTes denyut jantung dengan alat pacu jantung, awalnya hanya menimbulkan garis yang terpampang dilayar hanya bergaris horizontal, berulang-ulang kali Daniel pacu jantung Hera tetap saja tidak ada perubahan, bahkan para dokter senior pun sudah berkeringat dingin menyaksikan hal tersebut.
Hingga pengetesan yang keberpakalinya baru ada hal-hal yang tidak terduga pun muncul yaitu Hera masih bisa menjalankan jantungnya kembali setelah dipacu dengan waktu yang lumayan lama. Walaupun itu semua mustahil, tapi inilah kenyataannya. Bahkan para dokter senior yang melihatnya pun langsung tercengang, bagaimana tidak ini adalah pengalaman pertama mereka saat melihat pasien yang sudah dinyatakan mati otak kembali bisa menjalankan jantungnya.
Melihat kalau denyut jantung Hera masih berjalan, para dokter pun memutuskan untuk tidak jadi melepaskan alat-alat penunjang hidup dari Hera. Para dokter keluar dengan memasang wajah gembira begitu pun dengan Daniel.
Rain yang melihat kalau pintu ruangan terbuka langsung saja berdiri bangkit dari kursi untuk memastikan apa yang dirinya pikirkan tidak terjadi.
"Bagaimana dengan keadaan istri kecilku, Daniel" tanya Rain
"Puji syukur dari kita kepada Tuhan yang maha Esa, istri kecilmu masih bisa bertahan, jadi kami memutuskan untuk tidak jadi melepas semua alat penunjang yang ada ditubuh istrimu. Kita tunggu beberapa hari lagi, semoga semakin hari nanti semakin membaik." Ucap Daniel memberikan binar bahagia di wajah Rain dan kedua orang tua Hera.
"Terimakasih Daniel." Ucap Rain dengan tersenyum cerah.
Rain tanpa menghiraukan Daniel yang masih bengong, dirinya langsung masuk keruang rawat untuk melihat keadaan istri kecilnya. Entah kenapa dirinya sangat-sangat mencintai Hera saat pandangan mata mereka bertemu diwaktu pesta ulang tahun anak dari rekan bisnisnya waktu itu.
"Halo sayang, selamat kembali ke dunia" ucap Rain dengan tersenyum.
"Kapan kamu buka matanya sayang, apakah kamu tidak ingin melihat wajah tampan suamimu ini, hahaha... Sangat Lelucon kalau nanti kamu sudah sadar bisa tau kalau aku adalah suamimu.., bahkan kita menikah pun kamu tidak tau" lirihnya.
"Cepatlah buka matamu sayang, aku menunggumu disini, aku ingin menjadi orang pertama yang akan kamu lihat saat membuka mata nanti, jadi cepatlah...!!" Sambungnya lagi dengan mata yang berkaca-kaca.
"Ehh cengeng sekali aku, (sambil mengusap air yang ada diujung mata) ya sudah aku keluar dulu yah,,, nanti orang tua kandungmu akan menjenguk mu setelah aku ini. Apakah kamu senang kalau orang tua yang kamu idamkan bisa menjenguk mu?. (Dengan memegang jari tangan Hera) , sampai jumpa sayang" ucapnya dengan mengecup punggung tangan istri kecilnya.
Berjalan keluar berganti masuk dengan orang tua Hera.
__ADS_1
"Kalian bisa masuk dan melihatnya" ucap Rain yang dipanggil oleh orang tua Hera.
mereka berdua masuk untuk melihat keadaan Putri semata wayangnya, sampai disana mama Hera mulai menitikkan air mata.
"Pah, apakah tidak bisa ditunda berangkatnya?" tanya mama Hera
"Tidak bisa mah, kalau kita berlama-lama disini dia akan tau kalau kita tidak ada disana. ini juga demi kebaikan putri kita juga mah" sahut papa Hera menjelaskan.
"Ya sudah kita keluar gih" sambung papa Hera yang dipanggil oleh mama Hera
sampai diluar mama Hera langsung menatap kearah Rain.
"Terimakasih nak Rain, kami hanya ingin berpamitan saja kepada Hera untuk kembali ke negara kami, jadi sampaikan salam kami pada Putri kecil kami yah nak Rain, semoga kalian bisa menjadi keluarga yang bahagia dihari kelak" ucap mama Hera dengan memegang tangan Rain.
"Berjanjilah untuk selalu membuat Hera bahagia, jangan sampai membuatnya menangis, kalau sampai itu terjadi, saya akan merebut dan membawa Hera ke negara yang tidak akan bisa kamu temukan nanti, sekalipun kau kaya, kau tidak akan bisa menemukannya." bisik papa Hera dengan menepuk punggung belakang Rain
"Iya akan aku ingat pesan kalian, aku tidak bisa berjanji untuk tidak membuatnya menangis, yang pasti aku berjanji akan membuatnya bahagia." sahut Rain dengan tegas
"Walaupun aku tau kalau Hera tidak mencintaiku" gumam Rain lagi tanpa orang tua Hera dengar.
"Hmm, ya sudah kami akan berangkat sekarang (dengan mata melihat kearah jam tangan mewah yang ada dipergelangan tangannya), ingat janji kamu tadi, karena janji adalah hutang mengerti" ucap papa Hera lagi.
"Semoga kalian bahagia" ucap mama Hera dengan tak rela meninggalkan putri mereka satu-satunya di negara ini, walaupun negara ini Adah tempat anaknya besar.
"iya semoga" sahut Rain dengan tersenyum sangat-sangat tipis bahkan tidak ada yang menyadarinya kalau dirinya sedang tersenyum.
Terimamasih yang sudah membaca jangan lupa like dan vote agar aku makin semangat untuk membuat kelanjutannya.
__ADS_1