Hesper Rain

Hesper Rain
HESPER


__ADS_3

Aku ingin merangkai kata untukmu Hera kala aku melihat senja di pelupuk mataku, senja yang memiliki arti yang sama dengan namamu yaitu Hesper.


Mungkin kata-kata ini bisa mewakilkan isi hatiku untukmu, maka dengarkanlah. Aku berharap setelah kamu mendengar semua kata-kata yang aku ucapkan, kamu bisa membuka matamu kembali, sehingga aku menjadi orang pertama yang kamu lihat setelah kamu kembali sadar nanti.


Maka dengarkanlah!!


Waktu senja yang tercipta ketika menjelang malam ini memang amat indah meski hanya berlangsung begitu singkat. Mungkin karena hal tersebutlah yang menjadikannya saat yang istimewa.


Senja selalu saja begitu, melahirkan kenangan, senyum, rindu, bahkan air mata. 


Karena senja tak pernah memintamu menunggu.


***


Pada akhirnya senja hanya semakin menjauh.


Namun ia tak pernah sanggup melenyapkan cinta yang paling diam dari pandangan mata, apalagi hati.


Lalu aku hanya menunggunya saat magrib tiba.


Senja tak pernah salah. Hanya kenanganlah yang kadang membuatnya basah. Dan pada senja, akhirnya kita mengaku kalah.


***


Senjaku, mulai menepi. Ke peraduannya


Sekalipun hanya sejenak, Namun senja pergi meninggalkan rasa hidup ini amat teramat singkat. Titipkanlah asa.


Malam membuatku ingin menulis rindu, bukan untuk kau baca. Karena rindu yang sesungguhnya telah kau tinggal di tepian senja.


Lantas, ku lihat segelintir Jingga


Melintas di hadapanku.


Maaf. Kisah kita, sekarang sudah berbeda. Jadi jangan samakan. Dengan keadaan kita yang sekarang.


***


Saat itu, Hujan gerimis di kala Sang Dewi malam beranjak. Menjadi saksi.


Bukan menolak. Hanya belum saatnya saja.


Ingat. Setia itu memang sulit, tapi lihatlah Jingga. Selalu menggenapkan warnanya, demi senja di setiap harinya.


Jarak. Waktu. Cinta. Tunggu aku kembali.


Terima kasih. Karena sudah kau pegang erat sukmaku di sana. Sampai bertemu (lagi).


***


Kita memang ditakdirkan untuk jauh raga oleh jarak. Tapi Kita juga ditakdirkan untuk melihat Senja yang sama tanpa jarak.


Tanpamu aku serupa daun kering yang dilepaskan ranting, terbawa angin tanpa arah dan tanpa ingin.


Mungkin kelak akan ada senja yang sepi untukmu, satu persatu kenangan mulai kau ingat, dan tersenyum ketika giliranku lewat.


Senja mengajarkan bahwa sesuatu yang berakhir, tak selamanya tak indah. Karena senja termasuk salah satu suguhan ternikmat yang disajikan.


Senja tak pernah membenci awan kelabu yang sering menutupinya.


***


Berhenti menjadi pecandu senja. Tidak ada apa-apa di sana kecuali romantisme berlebih tentang cinta yang tak sempat kau raih.


Tak salah lagi aku selalu mengagumi senja.


Senja cukup lapang untuk menampung gelap dan cahaya juga duka dan suka secara bersamaan.


Biar lelah


Tapi dia, tetap indah.


***


Senjaku;


Selalu bermakna


Apapun itu,


Senja tak pernah memintaku, tuk menunggu.


Itu saja.


Senja.


Perpaduan yang sungguh indah bagi alam semesta.

__ADS_1


Mentari senjaku, pancaran sinarmu menyejukan kalbu. Entah, mata ini tak bekedip memandang sinergimu, dan kuharap kau ada selalu.


Ada jingga yang tampak mesra melukis siluet di antara waktu dan kau ada di antaranya begitu indah.


***


Dalam heningku menatap senja. Di hati terdalam ada ruang yang sedianya untukmu. Terlalu mendalam kusimpan sendiri. Tak sepatutnya kututup dalam-dalam. Bila nyatanya kau akan ada di dalamnya, tiada cukup kata syukur kuucap.


Cuaca di mataku dingin menatap kehilangan; lengan sehangat tenunan senja di pelupuk langit.


Hangatnya rindu mulai mengadu-ngadu; secara teratur padu di kala senja yang kelabu; aku dan kamu kini jadi semu ketika terpisah oleh waktu.


***


Di sini aku berdiri. Di bawah dinginnya senja menghampiri. Merasakan goresan-goresan luka, mengingat kembali rangkaian rangkaian kata. Mungkin aku telah bisa melupakanmu, tapi tidak dengan rasa sakit yang kau beri untukku


Semburat kemuning itu seperti memberi pesan pada hati yang masih bersandar di pohon gersang; jalanmu masih panjang, berbaliklah. Aku akan kembali ke tempat di mana kau menunggu.


Kita dan rasa yang memudar di penghujung hari. Menuju masa di mana aku dan kamu yang tiada lagi berhubung kata “kita”. Engkau menuju pulang lalu perlahan menghilang. Hingga yang tersisa hanyalah rasa rindu yang kemudian menikam di pekatnya malam.


Sabtu yang sama, terlalu gerimis untuk sebuah senja tidak mungkin kita bersama, walau doa kita masih senada.


***


Senja di perbatasan. Tepat waktu kembali ke peraduannya.


Tak peduli orang lain yang masih terjebak dalam ambisinya.


Pun tak peduli dengan orang yang mengeluh karena waktu berlalu cepat.


Senja.


Tetap menjadi umpama.


Yang datang juga akan pergi.


Senja kau tak pernah berbohong, kau selalu datang tepat waktu.


Tidak seperti dia yang selalu hilang bersama ribuan pertanyaanku.


Karena senja praktis mengingatkanku akan dia, dia yang seindah senja, namun juga sama singkatnya


Aku menyukai senja, karena ia seperti kamu, meski sebentar datang, namun hangatnya mampu memeluk hingga ke tulang.


***


Kutemukan senja paling indah di matamu, kudapatkan senja paling merah di bibirmu.


Di retak lenganmu burung-burung meruntuhkan bulunya.


Dan jam pasir mengucur menuju senja, yang baka.


***


Senja ini, kamu kecup bibirku sekali, dan manisnya melebihi kecap yang baru saja aku beli.


Tanganmu seperti senja hilang cahaya,


tanganmu seperti dua bayang bersilang di petang yang lengang.


Hujan deras mengintip ke suatu senja yang tak biasa,


tumbuh dari kedamaian dan senyum penduduknya.


***


Apakah kautahu seperti apa tanah kelahiran air mata, kekasih?


Seperti senja saat tenggelam di pelupukmu yang geming.


Senja mana yang paling kau rindukan?


Saat kita bertemu, berdua, atau berpisah.


Aku rindu senja sebelum kau ada di hidupku.


Diam mentari meredup pendarnya biarkan senja memerah jingga.


Sejatinya cinta tak resah ketika perpisahan sementara ada.


***


Tak ayal lagi, senja ini waktu yang sendu untuk menulis puisi:


tentang kenangan dan rindu barangkali.


Senja larut, mari bersulang peluk.

__ADS_1


Sebab dahaga kita, adalah kerinduan;


yang tak mampu dihilangkan dengan kata-kata.


Percayalah sayang, kelak akan ada jawaban bagi doa doa kita, seperti camar yang bahagia pulang kala senja memanggil.


***


Sejak kepergianmu senja kemarin, musim hujan belum berganti, dan dadaku telah menjadi danau tempat angsa angsa meneguk air mata.


Kadang kau perlu berada di ranah abu-abu untuk tahu sejauh hitam atau putih itu perlu.


Hingga aku merasuk jauh ke dalam engkau, kata-kataku menjelma pondasi kalimatmu.


Sebab, senja adalah doa-doa.


Dari matamu yang kupu-kupu dan dari tanganku yang jaring candu.


***


Kucintai kau seperti senja.


Dengan keindahannya tanpa durasinya.


Lalu pada bias senja yang mana kesedihan mampu kau sembunyikan?


Ingatlah, rembulan selalu datang tepat di depan wajahmu.


Senja larut, mari bersulang peluk.


Sebab dahaga kita, adalah kerinduan;


yang tak mampu dihilangkan dengan kata-kata.


Senja ini, kekasih, andai engkau mengerti:


kalau rindu berwarna merah jambu, kautinggalkan di pipi kiriku.


***


Padamu kukatakan senja ini begitu indah,


seperti mataku yang tak henti mengagumi keelokan wajahmu.


Tak ayal lagi, senja ini waktu yang sendu untuk menulis puisi:


tentang kenangan dan rindu barangkali.


Sebab senja selalu ada bidadari tanpa sayap,


yang selalu tersenyum manja, menyambut indahnya jingga.


***


Senja mengajarkanku bahwa yang indah-indah bersifat hanya sementara,


kusuka senja karena keindahannya tak ada duanya.


Senja dan rintik hujan,


adalah hal yang menyenangkan,


selain pelukan.


Ah senja hampir saja tiba,


suasana nampak sendu namun hati kita hangat.


Seperti itulah temali kasih harusnya.


selalu bisa membuat kesedihan tak pernah tumbuh dari sisi mana pun.


Senja yang menakutkan;


Bocah di ladang jingga


Berparas nila


Menanam semacam flora;


Bunga trotoar


Dipanggil paksa


Oleh masa yang belum waktunya


Wahai tuan dan nona

__ADS_1


Haruskah kita sewa hidupnya?


__ADS_2