
"Oke, bagi wanita yang lain bisa kembali lagi kedalam bus untuk pulang ketempat asal, tuan kami sudah menemukan siapa yang akan menjadi pasangannya nanti" para wanita yang mendengar ucapannya tersebut membuat mereka sedih bagi yang berharap bisa menjadi pasangan pria idaman tersebut, lain cerita dengan orang yang tidak ingin menjadi pasangannya seperti Dita yang tidak menghiraukan siapa yang mau dipilih pria tersebut. Tapi pikirannya masih bertanya-tanya kenapa harus Hera yang dipilih? Apakah mereka sudah pernah ketemu?.
--------------------------------------------
Setelah mereka sampai diujung lorong barulah pria tadi melepaskan pegangan tangannya dari tangan Hera.
"Siapa namamu?" Tanyanya.
"Hahh.. anda menanyakan nama saya? Apa tidak salah dengar?"
"Ya kamu tidak salah dengar, kecuali kalau kamu pikun baru salah dengar"
"Hmm, saya tidak tau" ucap Hera cuek untuk membuat pria itu kesel supaya mau melepaskannya dirinya.
"Aku nanya baik-baik loh, yang serius, siapa namamu?" Ucapnya lagi dengan muka serius.
"Sepenting apa anda tau nama saya"
"Ya pentinglah, karena kamu sebentar lagi akan menjadi istriku, jadi aku harus tau siapa namamu, mengerti!!!"
"Tidak!" Jawab Hera dengan menggelengkan kepala
"Hahh.. cepat jawab siapa namamu?!" Ucapnya lagi dengan menghembuskan napas kasar.
"Anda kan kaya masa iya hanya karena mencari nama seorang gadis seperti saya anda tidak mampu, tidak modal sekali anda" ejek Hera berlalu meninggalkan pria tersebut sendiri.
__ADS_1
Hera berjalan keluar dari ujung lorong, tanpa dirinya ketahui bahwa dirinya diawasi oleh beberapa pengawal disana, apalagi saat para pengawal mendengar percakapannya dengan sang tuan, yang berani melawan perkataannya, bahkan orang tuanya pun tidak bisa melawan perkataanya.
Hera keluar dari mansion yang ternyata sudah tidak ada bus yang membawanya kemansion ini, yang lebih tepatnya dirinya ditinggal sendiri disini, bahkan dirinya tidak tau ini berada dimana. Bingung ingin masuk kembali kedalam mansion atau pulang, tapi kalau pulang dirinya tidak tau arah, jadi dirinya memutuskan untuk berjalan-jalan disekitar mansion. Melihat-lihat sesuatu yang mungkin membuat dirinya bisa melupakan masalah tentang hari ini.
Dirinya tidak tau kalau dari tadi tengah diawasi oleh dua pasang mata dari kejauhan yang tengah membicarakan dirinya.
"Apakah tuan yakin akan memilihnya," tanya asisiten nya dengan ragu.
"Yaa 100% yakin, dirinya lah yang aku lihat saat pesta tadi malam. Karena yang di pesta tadi malam bedanya dia merias wajahnya sehingga terlihat berbeda dengan yang sekarang polos tanpa riasan tapi masih terlihat cantik." Ucapnya dengan mata tak lepas dari seorang gadis yang tengah melihat-lihat bunga yang ada di sana
"Terkadang kamu tak bisa memilih kepada siapa jatuh cinta, karena itu terjadi begitu saja. Meski mulut berkata tidak, hati tak bisa menolak. Begitu pun aku yang merasakan cinta pada pandangan pertama" Sambungnya lagi
"Bagus kalau tuan sudah yakin, jadi kapan tuan akan menikahinya? "
"Mungkin kalau beberapa hari ke depan masih belum bisa, apalagi kamu tau dirinya yang cuek-cuek saja denganku, dari nada bicaranya pun sudah terlihat tidak menyukaiku" jawab pria tersebut.
Menjadi perempuan memang serba salah. Apalagi jika hal tersebut berhubungan dengan uang dan pasangan. Salah dalam mengambil keputusan bisa dicap sebagai perempuan matre hanya karena mencoba bersikap untuk realistis. Hmm, perempuan bersikap realistis karena memang mementingkan masa depannya.
enggak ada cewek matre sebenarnya. Kalau cewek matre ya normal aja biasa aja, yang ada pria yang tidak bisa menafkahi, karena pihaknya menyatakan bahwa setiap orang punya standar hidup yang berbeda. Bahwa matre tersebut tidak melulu tentang perempuan, tetapi banyak juga laki-laki yang bersifat demikian.
Cowok matre juga sekarang banyak. Jadi, matre itu bukan gender, matre itu adalah sifat. Cewek matre ada, cowok matre ada. Meski demikian, jika sosok pasangan yang ‘ditempeli’nya ini tidak masalah maka matre tersebut pun tidak akan menjadi sebab sebuah masalah.
Sehingga definisinya menjadi agak ambigu, ketika kita nge-judge orang dengan kata matre itu menjadi sangat ambigu dan tidak generalisasi. Di sisi lain, pihak pasangan dari cewek atau cowok yang dinyatakan matre tersebut mungkin mendapatkan timbal balik sehingga tak masalah baginya untuk memberikan materi atau kebutuhan pasangannya tersebut. Matre atau tidak matre, buruk atau tidak buruk, tergantung yang menjalani. Semua adalah pilihan hidup.
"Berburuk sangka ialah penyakit yang alami. Tapi bukan berarti hal itu tidak dapat diobati. Berpikir positif ialah cara terbaik untuk bisa menenangkan diri. Hahhh.. semoga saja dia tidak seperti itu, kamu cari tau tentang dia dengan lengkap jangan sampai terlewat" ucap Rain yang langsung berlalu meninggal Leo seorang.
__ADS_1
Leo masih berdiri di sana memandang kearah calon nyonya nya yang sedang memetik berbagai bunga di sana.
"Anda sangat beruntung bisa dipilih oleh tuan, karena dari banyaknya wanita yang dikumpulkan tidak ada satu orang pun yang bisa membuat tuan terpikat, tapi anda seakan tidak bersyukur disukai oleh tuan, bahkan wanita di luaran sana mengantri untuk bisa dekat dengannya sedangkan anda seakan tidak peduli dengan hal itu" ucapnya bicara sendiri yang langsung berlalu menyisakan balkon yang kosong.
Hera berjalan-jalan di sana mengitari bunga yang tumbuh subur sambil memetiknya kalau menurut dirinya cantik, Hera masih memikirkan bagaimana caranya membuat pria tersebut bisa melepaskan dirinya. Apakah dirinya harus melakukan sesuatu yang tidak disukai pria tersebut? Lalu apa yang tidak dirinya sukai? Masa iya aku nanyain ke orangnya langsung, kan tidak mungkin.
Para pelayan dan penjaga dibelakangnya bingung melihat dirinya yang melamun dengan tangan yang terus bekerja memetik bunga, sehingga membuat beberapa bunga hilang mahkotanya.
"Ehhm nyonya maaf, apa yang anda pikirkan, apakah ada sesuatu yang nyonya inginkan?" Tanya seorang pelayan di sana.
"Tidak ada, apakah kamu tau apa yang tidak disukai oleh pria tadi tentang wanita"
"Pria tadi yang mana nyonya" tanyanya dengan mengangkat alis pertanda bingung.
"Itu loh yang tadi memilih para wanita"
"Owh itu,,, tuan tidak suka dengan wanita yang masuk dapur untuk memasak, tidak suka dengan wanita yang makannya rakus, dan tidak dengan wanita tersebut memakai pakaian yang ketat. Itu saja sih yang saya tau nyonya" ucap dengan menundukkan kepala takut salah saat melihat sang nyonya mengangkat alis heran.
"Terus apakah ada lagi yang tau" tanya Hera lagi.
"......" tidak ada yang menjawab pertanyaannya.
"hahh, kalau begitu antar aku kehadapan tuan kalian" ucap Hera dengan memijit kepala bingung.
"Baik silakan nyonya" ucap seorang penjaga di sana mempersilahkan dirinya lebih dulu.
__ADS_1
"Kenapa harus aku lebih dulu, kalau aku duluan mana tau dimana tuan kalian berada, kalian saja di depan sebagai tunjuk arah" ucap Hera yang dipanggil yang lainnya.
Terimakasih yang sudah membaca jangan lupa like dan vote, komen kalau menurut kalian kurang menarik