Hesper Rain

Hesper Rain
Berangkat


__ADS_3

"Ya aku sudah menikah, why?" Jawab Rain cuek


"Nggak gue nanya aja, lalu kenapa Lo tidak mengundang gue dihari bahagia mu itu" cibir Roben dengan melipat tangan di dada.


"Bukan kamu yang tidak diundang Ben, kami berdua pun juga tidak diundang olehnya." bukan rain yang menjawab melainkan prof II


"Apa? kalian berdua juga tidak diundang. Lo gimana sih Rain sama teman kok gitu" tunjuk Roben dengan jari telunjuknya.


"Nggak ada pentingnya kalau gue ngundang kalian pada, yang ada malah membuat keributan di pesta pernikahan gue" sarkas Rain dengan cuek sambil meminum jus jeruk yang ada ditangannya.


 


"Sudah, sudah. Lebih baik kita bersiap untuk berangkat, karena hari sudah menjelang siang" ucap prof I menengahi.


"Baik prof" sahut anggota lain dengan hormat.


Walaupun prof tersebut hampir menyamai umur mereka, tapi mereka tidak pernah bertingkah tidak hormat dengan prof yang ada didepan mereka itu.


"Ingat kita di sana hanya untuk survey bukan untuk mencari ribut mengerti!!"


"Siap paham prof" sahut semua anggota.


"Bagus, kalau begitu kita berangkat sekarang" tegas prof I yang di angguki anggota lain dengan berjalan menuju mobil yang untuk membawa mereka pergi dari basecamp.


Rain duduk di kursi belakang kemudi bersama dengan yang lainnya. Rain duduk sejajar dengan Roben, buka Rain yang ingin tapi Roben lah menariknya agar bisa dekat katanya.


"Ehh Rain, kira-kira berapa lama sih perjalanan kita ini, kalau masih lama gue mau tidur nih" ucap Roben dengan berbisik.


"Masih lama, Lo bisa tidur dengan aman" jawab Rain.


"Hmm oke." Jawab Roben dengan mengangkat tangan dan menempelkan jari jempol dan telunjuk.


Rain yang melihat Roben yang baru saja memejamkan mata itu langsung teringat dengan sang istri yang masih diam diruang rawatnya. Tiba-tiba dipikirannya terlintas untuk menelpon asistennya Leo.


Tuttttt tuttt..

__ADS_1


Bunyi telpon Rain yang menandakan kalau sedang memanggil seseorang. Menunggu hingga yang diseberang telpon mengangkatnya.


"Halo tuan, maaf saya baru mengangkat nya" sahut diseberang telpon.


"Hmm, gimana dengan istri kecilku" ucap Rain dengan datar.


"Nyonya masih sama seperti terakhir tuan lihat" jawab Leo dengan cepat.


"Hmm, ya sudah kalau begitu aku tutup dulu. Ingat beritahu perkembangan istriku setiap harinya kalau perlu setiap jam" ucap Rain dengan tegas.


"Baik tuan, akan saya lakukan."


"Bagus" ucap Rain dengan langsung mematikan telpon tersebut.


Tanpa Rain ketahui kalau Roben sebenarnya belum tidur dirinya hanya menutup mata saja.


"Bucin banget Lo sama istri, seperti bukan dirimu saja. (Dengan masih menutup mata namun mulut terus bergerak mengeluarkan kata), sepertinya Lo tidak bisa jauh-jauh deh dari istrimu itu." Ejek Roben dengan mengubah tata letak kepala dengan agak menjauh dari Rain, agar kalau dirinya ingin memukul akan memiliki waktu yang sedikit lama.


"Lo nguping hah,, (dengan melotot) lihat aja Lo nanti pasti tidak kalah bucinnya dengan gue" sahut Rain dengan memukul lengan besar berotot punya Roben.


"Emang kenapa, mau tau aja Lo, makanya nikah sana agar bisa kaya gue, ahh iya gue baru tau kalau dirimu kan tidak punya pasangan, mana ada wanita yang mau denganmu yang selalu kepoin urusan orang, apalagi dengan orang yang sudah bersuami istri" ejek rain dengan melipat tangan di dada.


"Hahh, nggak usah bawa-bawa pasangan deh" cibir Roben. Rain yang mendengarnya hanya mengangkat kedua bahunya tidak peduli.


"Owh iya prof, kita wilayah sana memang nya ingin mensurvey apa prof?" tanya Roben dengan mengalihkan pembicaraan agar tidak kalah bicara dengan rain.


"Emang kamu belum baca pesan chat di group kita hehhh" sahut prof II


"Ya bacalah prof, tapi lupa, hehehe" jawab Roben dengan menggaruk kepala belakangnya yang tidak gatal.


"Hehh, baru tau gue seorang Roben yang terkenal dengan memiliki ingatan tiada tanding bisa lupa juga" cibir Rain dengan sambil memainkan hpnya.


"Gue bukan nanya sama Lo yah,, gue nanya sama prof" sarkas Roben dengan menutupi rasa malunya yang ditertawakan anggota lainnya.


"kemana ingatan yang kamu banggakan itu, Ben"

__ADS_1


"yailah, gue kan juga manusia, pasti ada kekurangan dan kelebihannya lah, emang kalian pada yang tidak ada kelebihannya sama sekali. Apalagi Rain yang tidak ada hal yang bisa dirinya banggakan." ucap Roben dengan melirit kearah Rain.


"Heyyy, Lo belum tau apa kelebihan gue, jadi tidak usah sok hebat" sarkas Rain dengan datar.


"Sudah, sudah kalian berdua berhenti debatnya, seperti anak kecil saja yang memperebutkan mainan. ingat umur Napa, sudah tua masih aja suka berdebat" cibir prof II


"Heyyy, emang disana nggak ingat umur, ikut nimbrung percakapan anak muda." cibir Rain kepada prof II


"Nah benar tuh Rain, orang tua tidak usah ikut nimbrung percakapan anak muda!!" sambung Roben dengan ikut-ikutan menghujat prof II.


Prof II yang tau kalau dirinya dicibir hanya bisa mengelus dada, bersabar untuk meladeni dua orang laki-laki yang dibelakangnya itu.


"Makanya kalau mau ikut nimbrung itu tidak usah saat mereka membahas tentang begituan, jadi kamu kan yang dipujukkan. Apalagi dirimu tidak punya pasangan sama dengan Roben jomblo abadi." ucap prof I


"Kok kamu ikut-ikutan ngehujat aku sih... mentang-mentang sudah punya istri, jadi gini ikut membuly teman seperjuangan kamu memang tidak tahu teman" sarkas prof II yang pura-pura bersedih.


"Hehhh, bujang tua nggak usah deh menampilkan muka sedih mu itu, jelek tau nggak, pantas aja wanita-wanita di luaran sana tidak ada yang kepincut sama dirimu itu." ejek prof I yang pura-pura jijik melihatnya.


"kamu bilang apa tadi, bujang tua?, heyyy sadar dikit Napa, aku masih muda, umurku saja baru menginjak kepala tiga, tua dari mananya." sahut prof II dengan tidak terima.


"Ya kan itu semua memang benar, fakta itu bukan hoax" sahut prof I


"Kamu aja saat umur seperti aku, masih belum punya pasangan, terus siapa yang tuh yang bujang tua, kamu pun juga bujang tua, tapi sudah jadi alumni saja" cibir prof II


"Itukan dulu, tapi sekarang kan aku sudah menikah, wlleeeee" sahut prof I yang mengeluarkan lidah dengan mengejek.


Sedangkan dibelakang sana anggota yang lain hanya menyaksikan saja antara sesama prof sedang beradu mulut.


"Wahai para prof ku yang terhormat, saya ingin bertanya apa yang kalian debat kan" tanya ambigu Roben.


"Nah kan bukan hanya ingatannya saja yang berkurang tapi telinganya pun pendengarannya ikut berkurang." ejek Rain.


"Lo yah, (tunjuk Roben kearah Rain) gue nanya sama prof kok Lo yang nyambung sih... huhhh" sarkas Roben dengan memutar mata kesel..


Sedangkan Rain hanya mengangkat bahunya tidak peduli.

__ADS_1


Terimakasih yang membaca Jangan lupa like dan vote agar aku makin semangat terus melanjutkan ceritanya


__ADS_2