
Rain Rain, woyy bangun woyy" tepuk-tepuk Roben pipi Rain agar sang empu cepat bangun.
"Apaan sih, ganggu orang lagi tidur aja, tadi kan gue sudah nyuruh Lo untuk buat tenda sendiri, lalu kenapa Lo ikut naik ke tenda gue." ucap Rain dengan muka yang terlihat masih mengantuk.
"Tapi ini hal penting Rain, ini tentang suku yang akan kita teliti ini, tadi gue sempat lihat mereka tau nggak, Bahkan aku melihatnya dengan sangat-sangat dekat" ucap Roben yang membuat Rain langsung duduk.
"Apa yang kamu dapat dari apa yang kamu lihat itu, ceritakan apa saja" sahut cepat Rain penasaran
-----------------------------------------------
"Huhh, nanti sajalah bahas yang begitu, gue mau tidur dulu nih" ucap Roben membuat Rain merasa kesal.
"Kan tadi Lo mau cerita, ayo ceritain segera" sahut Rain.
"Lo nggak dengar apa yang gue ucap tadi, nanti saja pagi, tuh lihat masih malam, waktunya untuk tidur" sahut Roben cuek yang menutup mata dengan bantal.
Rain yang melihat itu tidak tinggal diam, langsung saja menarik bantal yang dipakai Roben untuk menutup matanya itu.
"Ya sudah, kalau tidak mau ceritain, keluar sana dari tenda gue,," usir Rain dengan ikut merebahkan tubuh.
"Yailah Lo tega ngusir gue malam-malam seperti ini." Sahut Roben dengan merebut kembali bantal yang tadi Rain ambil darinya.
"Terserah!, Nggak usah jadi banci deh, seperti wanita aja" sarkas Rain dengan membalikkan tubuh membelakangi Roben.
"Hahhh,,, iya iya gue janji deh, nanti pagi gue cerita,, no cut cut" ucap Roben.
"Hmmm" sahut Rain hanya dengan deheman saja tanpa mau berbicara lebih.
Roben yang mendengar kalau Rain menjawab ucapannya hanya deheman saja dikira kalau Rain ngambek karena dirinya tidak jadi cerita tadi.
"Tadi bilangnya gue yang banci, lah sekarang apa bedanya sama Lo yang ngambek kaya wanita juga" ucap Roben.
"Bisa diam nggak sih Lo,, gue mau tidur! Mau istirahat, jadi jangan samain gue dengan Lo" ucap Rain datar.
"Lahh kan sewot lagii, ya sudah tidur sana, gue juga mau istirahat." Ucap Roben lagi dengan membalikkan badan membelakangi Rain.
Pagi pun datang, dengan terdengar bunyi kicauan burung, sehingga membangunkan dua orang yang sedang asik menyelami mimpinya.
Huaaammmm
__ADS_1
Rain terbangun lebih dulu dari Roben beberapa menit setelahnya baru Roben bangun dengan alasan yang sama yaitu mendengar suara kicauan burung.
Roben menatap kearah Rain dengan intens.
"Mau sekarang gue ceritain" ucap Roben.
"Nggak usah sekarang juga,, gue mau mandi dulu,,," ucap Rain dengan segera turun dari tenda gantung dengan hanya melompat.
Roben tidak tinggal diam, dia langsung saja mengikuti Rain. Mereka berjalan menyusuri hutan tersebut dengan mata melihat kesekeliling hutan.
"Rain, hati-hati didekat sini ada pemukiman mereka,,," ucap Roben memberitahu.
"Terus?" Ucap Rain bertanya dengan mengangkat alis dengan bingung.
"Yakan kata Lo kemarin kalau suku ini kanibal, jadi kita harus hati-hati siapa tau mereka ingin merasakan daging kita,, kalau gue mah ugah" ucap Roben dengan merinding disko saat membayangkan kalau daging dirinya dimakan oleh mereka.
"Biasa aja gue mah, gimana kalau kita ketempat kumpul mereka saja, biar survey ini juga cepat selesai" tawar Rain dengan inting.
"Hehhh.. gampang banget Lo ngomong begitu, Lo tidak tau saja apa yang mereka lakukan tadi malam,,, tapi ngomong-ngomong saran Lo tadi boleh juga, tuh disana banyak wanita-wanita yang bohayyy" sahut Roben.
"Hallahhh, masalah wanita saja no satu" sindir Rain.
"Diam!!, Kita sudah hampir dekat dengan pemukiman mereka, apakah Lo punya solusi Roben"
"Solusi apaan, Lo nanya sama gue, Lo kan tau kalau gue paling malas mikir." Sarkas Roben
"Lo yahhh, (dengan memukul kepala belakang Roben dengan teropong yang dirinya bawa dari tadi) gue ngomongnya serius,, punya otak itu dipakai jangan jadi bahan pajangan doang" sahut Rain datar.
"Iya iya,,, nih gue mikirkan dulu" ucap Roben dengan tangan berada di dagu seolah-olah sedang berpikir keras.
"Gimana? Dapat nggak solusinya."
"Tunggu dulu emang Lo nyuruh gue cari solusi untuk apa?"
"Ya untuk cari air yang mengalir biar kita bisa mandi atau cuci muka ngab. Cari solusi untuk kita bisa ke sungai yang ada disana tanpa harus melewati pemukiman mereka" ucap Rain dengan menunjuk pemukiman suku yang akan mereka survey dan ke arah air sungai yang mengalir deras.
"Owhh,, kalau itu kita tidak bisa pergi ke sungai tanpa melewati pemukiman mereka, Lo lihat aja pemukiman mereka.." sahur Roben lagi dengan menatap kearah pemukiman.
"Ya sudah kalau tidak bisa, apakah ada solusinya kalau kita sampai di sungai suku mereka tidak mengetahui keberadaan kita" tanya Rain lagi karena malas berpikir.
__ADS_1
"Hahhh,,, lihat baik-baik pemukimannya, mereka mendirikan rumah ada beberapa didekat sungai, kalau kita ke sana, banyak peluang kalau kita akan diketahui mereka, paham ngab?" Jelas Roben.
"Hmmm, tumben Lo pintar,,," ucap Rain dengan kembali melihat pemukiman mereka memakai teropong yang dirinya bawa.
"Hahhh, emang gue dari dulu sudah pintar, tapi malas saja menunjukkan sama orang banyak" sombong Roben.
"Hmm," jawab Rain hanya dengan deheman saja.
"Hahhh,," Roben hanya bisa menghela napas kasar mendengar deheman dari Rain.
Lama rain mengamati pemukiman mereka dengan teropong. sedangkan Roben hanya duduk bersandar di pohon besar didekat mereka berada.
"Hahh, tidak ada jalan lain, kalau kita ingin mandi mau tidak mau harus melewati pemukiman mereka" ucap Rain setelah mengamati area sekitar.
"Ya sudah tunggu apa lagi, let's go" ucap Roben dengan berdiri dari duduknya.
"Kok Lo semangat banget" sindir Rain.
"Yakan gue mau ketemu wanita-wanita di pemukiman sini,,, ayo"
"Iya iya.." sahut Rain.
Mereka berdua berjalan beriringan menuju arah sungai berada, walaupun harus melewati pemukiman suku kanibal itu.
"Kenapa nggak dari tadi saja sih Lo berpikir, kan aku tidak harus duduk-duduk santai dengan hanya menonton dirimu yang sedang mengintip orang lain doang,," ucap Roben.
"Siapa yang ngintip, gue itu hanya mengamati saja, mengerti nggak sih.." ucap Rain.
"Lahh apa bedanya.. sama saja" sangkal Roben tidak mau kalah.
"Katanya Lo pintar, seharusnya Lo bisa bedain yang mana yang namanya mengintip dan mengamati,, mereka itu berbeda tau nggak" jawab Rain
"Kan sama saja kalau sama-sama melihat" sarkas Roben.
"Hmmm," sahut Rain lagi hanya dengan deheman.
"Nah kan ini nih contoh manusia yang sudah kalah bicara." sindir Roben.
Terimakasih yang sudah membaca jangan lupa like dan vote, agar aku makin semangat nulisnya..
__ADS_1