Hesper Rain

Hesper Rain
Hera Arcus?


__ADS_3

"Hahhh, kira-kira berapa lama dirinya koma"


"Aku tidak bisa menentukan kapan dirinya bangun, apalagi sepertinya kekasihmu sudah pernah mengalami koma sebelumnya"


"Apa? pernah mengalami sebelumnya"


"Mungkin saja, aku hanya menebak"


"Ya sudah apakah aku boleh masuk"


"Jangan dulu, kekasihmu akan dibawa keruangan perawatan, kamu bisa menjenguknya setelah dipindahkan."


"Hmm"


"Apa bisa kamu keruangan ku, ada sesuatu yang mau aku bicarakan denganmu berdua"


"ya" jawab Rain yang berjalan beriringan dengan Daniel menuju ruangannya berada


 ------------------------------------------


Ditempat lain disebuah mansion yang besar terjadi kejadian adu debat disaat mereka mengetahui kalau orang yang mereka sayangi hilang, setelah ketemu mereka ditampar dengan kenyataan pahit bahwa orang yang ditunggu ternyata mengalami koma. Bahkan Bu izah pun ikut bersedih mengetahuinya termasuk Sofia sahabatnya.


"Aku mau menemuinya sekarang!" Ucap wanita setengah abad.


"Kita tidak bisa menemuinya untuk sementara waktu, mah" menahan sang istri


"Kenapa, apakah papa tidak menyayangi anak kita sendiri hahh?," Cibir sang istri dengan melipat tangan di dada.


"......" Tidak ada jawaban dari lawan bicara.


"Berarti papa lebih memilih saudara tiri mu itu dibandingkan anak sendiri, kau tidak pantas dibilang papa kalau disaat anakmu membutuhkanmu, kamu nya tidak ada."


"Bukan begitu mah, aku bingung dengan masalah ini, kalau kita menemui anak kita yang ada Sani akan tau kalau anak kita masih hidup."


"Aku tidak peduli dengan hal itu, yang penting aku bisa ketemu dengan anakku sendiri yang sudah belasan tahun tidak ketemu. Kita sebutannya saja orang tua, padahal kita tidak bisa menjaga anak kita sendiri dengan baik, percuma saja." sarkas sang mama dengan berlalu menuju lemari untuk packing bersiap menemui sang buah hati.

__ADS_1


"Hahhh, mah" sang suami hanya bisa melihat sang istri memasukkan pakaian ke koper.


"Kalau papa tidak mau menjenguk anak kita tidak apa-apa, nanti kalau Hera sudah sadar dari komanya aku tidak akan menyebut dirimu sebagai papa kandungnya!" Ancam sang istri yang mampu membuat sang suami gelabakan.


""Mahh, jangan seperti itu lah. Iya iya aku ikut" sang suami hanya bisa mengalah karena tidak ingin tidak dianggap papah oleh anak semata wayangnya.


"Kita berangkat sekarang!" Sambung papa Hera dengan menarik tangan sang istri keluar dari kamar.


"Tapi pakaianku gimana, masa kita nginap tidak bawa pakaian"


"Kita bisa beli nanti gampang kan, untuk apa ribet bawa-bawa koper segala." Jawab sang suami inting.


"Ya sudah ayo, kenapa dari tadi saja sih, harus diancam dulu baru mau, seperti anak ABG aja." ejek mama Hera.


Orang tua Hera mengendarai mobil dengan menuju bandara untuk cepat menemui sang buah hati yang telah lama tak bertemu. Sampai di bandara mereka sudah disambut beberapa orang yang bekerja dibawah naungan orang tua Hera, berjalan menaiki jet yang sudah terparkir di sana. Saat mereka sudah bersiap ingin berangkat, ternyata ada pemberitahuan kalau pemberangkatan ditunda karena faktor cuaca yang sering disebut dengan Delay.


"Hahh, kenapa cuaca tidak membaik sih,," sarkas mama Hera.


"Sabar mah, nanti juga cuacanya akan berubah" dengan menentang sang istri yang sudah tidak sabar untuk bertemu anak mereka.


"Untuk mendapatkan Kepastian, dibutuhkan kesabaran dan kegigihan yang besar, contohnya ini kita bersabar menunggu cuaca membaik" jawab papa Hera tak kalah bijak.


"Apa ada kepastian kalau hari ini kita berangkatnya?" Tanya


"Nggak tau, kita lihat keadaan dulu" di jawab dengan inting.


"Nah ini namanya tidak ada kepastian.." sarkas mama Hera.


"Ya kan kita harus sabar dulu."


Lama menunggu cuaca mulai menunjukkan cahayanya kembali, berbarengan dengan binar bahagia di wajah wanita yang hampir berumur setengah abad itu muncul. Pesawat sudah mulai take off untuk berangkat menuju tujuan yang dituju.


"Aduh, aku tidak sabar untuk cepat bertemu dengan Hera. Papa senang juga enggak" Ucap sang mama yang senang dengan menatap suaminya yang disamping dirinya duduk.


"Iya senang kok, tapi papa memikirkan bagaimana nanti Sani tau kalau Hera masih hidup" sahutnya dengan memijit kepala.

__ADS_1


"Ya sudah biarkan saja dia tau, aku sudah banyak bersabar untuk tidak menemui anakku sendiri hanya karena dia." Ucap mama Hera dengan cemberut.


"Kamu bilangnya enak, kalau Sani melakukan hal-hal yang tak diinginkan kepada anak kita bagaimana, kamu kan tau bagaimana Sani kalau sudah marah, apalagi dirinya tidak suka dengan Hera sudah dari kecil, mama tidak lupakan kalau Sani itu orangnya pendendam"


"Mau gimana lagi hadapi saja, kalau kita menutupinya terus-menerus pun ujung-ujungnya Sani bakal tau walaupun tidak dari mulut kita. Jadi lebih baik dirinya tau lebih cepat sehingga masalah juga akan cepat selesai"


"Hahh, iya" sahut papa dengan membuang napas kasar.


Mereka duduk berdekatan tapi tidak ada lagi pembicaraan yang keluar dari mulut mereka masing-masing, mama Hera memandang kearah matahari yang bersinar namun ditutupi oleh awan. Sedangkan papa Hera memandang awan-awan yang menggumpal tersebar dimana-mana, hingga pikirannya terlintas kata-kata cinta untuk sang istri setelah melihat awan tersebut.


"Aku ingin mencintaimu dengan sederhana, dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada" ucapan papa Hera mampu membuat mama Hera menatap kearahnya.


"Awan pernah berjanji tak akan meninggalkan langit, tapi langit sulit digapai, ia bukan pejuang. Lalu, mereka tak pernah bersatu. Cinta merupakan sesuatu yang indah, ia laksana sebuah lukisan di awan, cerah membingkai di ufuk senja." Sambung mama Hera dengan tersenyum cerah.


Mereka memakan waktu hampir kurang lebih 8 jam menuju Indonesia, tempat dimana anak semata wayangnya diberada. Tanpa basa-basi mereka langsung tancap gas menuju dimana anak mereka dirawat setelah pesawat landing.


Sekitar 30 menit lebih mereka sudah sampai di rumah sakit ternama yang ada di kota tersebut yang sudah terkenal dimana-mana. Mereka memasuki lobi rumah sakit dan bertanya ke resepsionis untuk menanyakan ruangan mana anak mereka dirawat.


"Atas nama Hera Maeve Hesper berada di ruangan mana yah mbak" tanya mama hera


"Tunggu saya cek dulu yah Bu"


"Tidak ada nama pasien atas nama Hera Maeve Hesper Bu, di sini hanya ada atas nama Hera Arcus. Apakah pasien itu yang ibu cari" ucapan pegawai tersebut membuat sepasang suami istri tersebut bingung.


"Hmmm, oke atas nama Hera Arcus berada dikamar mana mbak" ucap papa Hera


"Ada dilantai 10 kamar VVIP pak" ucap pegawai tersebut dengan tersenyum ramah.


"Oke terimakasih" ucap papa Hera berlalu dengan menarik tangan istrinya yang tengah memikirkan apakah anaknya mengganti namanya.


"Jangan dipikirkan tentang nama itu, kita lihat dulu dikamar yang ditujukkan pegawai tadi apakah benar itu Hera anak kita." Ucap sang suami menenangkan.


"Hmm ya.."


Terimakasih yang sudah baca jangan lupa like dan Vote, komen kalau menurut kalian kurang menarik alurnya.

__ADS_1


__ADS_2