Hidup Untuk Kamu

Hidup Untuk Kamu
Ch. 10 - Mati Sendirian


__ADS_3

Ming tidak bisa mengatakannya bahkan jika dia ingin mengatakan "tidak", tetapi hanya bisa berkata: "Putri kecil, bagaimana hasil pengamatanmu pada Marshal?"


"Kakak Ming, Sejak kapan dia jadi begini?"


"Sejak awal perang kedua, Tiba-tiba saja keadaan Marshal memburuk"


"Aku mengerti. Sesuai janjiku , aku akan membantu kalian dan sebagai gantinya ..."


Ming menggelengkan kepalanya, "Aku tidak mau!"


"Kalau begitu kita tidak akan melihatnya." Yumei berkata dengan nada tinggi."Kakak Ming, Kondisi Rukia sangat penting bukan?"


"Putri kecil , walau Marshal adalah pangeran negeri ini , kamu juga penting"


"Pa ... pangeran!!"


GASP!


Ming bicara terlalu banyak membuka rahasia Rukia. Seketika aura dingin seakan menemukan musuhnya.


"Putriku , aku benar-benar takut padamu ."


"Baiklah, kamu cari tempat , aku akan menemuinya."


Yumei selesai berbicara. Berlari ke lantai satu dan Rukia memberi pelukannya, "Sayang, kita jalan mencari udara segar , okey." Rukia menyeringai, "Jangan takut ada kakak di sini!"


Kepala pelayan melihat mereka keluar dari mobil, dan tiba-tiba merasa bahwa tekanan udara rendah di dalam mobil sangat lega dalam sekejap.


"Tuan Muda , Tuan putri, Silahkan"


Mobil itu penuh dengan bubuk mesiu dan asap, seolah-olah ada percikan api, Pengurus rumah di depan mengemudikan mobil dengan gemetar, tidak berani mengeluarkan suasana.


"Errr kenapa kalian seperti akan berperang?"


Rukia terbakar amarah, dan tiba-tiba menemukan bahwa gadis kecil itu memandang dirinya sendiri dengan malu-malu, matanya merah, mulutnya rata, dan dia akan menangis.


Kemarahannya tiba-tiba mereda.


Matahari mulai terbenam.


Mereka bertiga sampai di Mansion luar ibu kota. Ini adalah kota Sealiz , kota pertama yang Rukia selamatkan dari serangan penjajah. Disini Rukia sangat dikagumi bahkan ada patung tembaga untuk mengenang jasanya. Raja lalu memberikan kota ini sebagai hadiah kemenangannya. Rakyat pun bergembira, sebab Rukia bukan bangsawan sombong yang meminta pajak tinggi pada rakyatnya. Kemakmuranpun terjamin disini.



"Putri ..." Ming dihentikan oleh Rukia untuk membangunkannya.

__ADS_1


Dengan lembut Rukia mengendongnya ke mansion. Para pelayan yang melihat hal tersebut menjadi shock bahkan pingsan. 'Imutnya~'


Seluruh pegawai di mansion ini berasal dari pasukan pribadi Rukia. Meski begitu , ini pertama kalinya Marshal mereka memeluk seorang wanita oh salah , itu malaikat.


"Emhh ..."


Seluruh penghuni mansion tidak berani bersuara.


"Kakak ... sudah sampai ..."


Terkejut. "Ka ... kakak periku ... turunkan aku." Wajah Yumei memerah.


"Kenapa turun, aku akan membawamu masuk ke mansion. kembalilah tidur"



"Tamat sudah , memalukan , aduh" Yumei menutupi wajahnya dengan kedua tangan. Sembunyi dalam pelukan Rukia.


"Apa kamu tidak apa-apa?"


"Hahahaha ini memalukan , aku sudah besar tapi masih di gendong olehmu"


"Yumei tidak menyukainya?"


"Suka. Aku suka sekali sampai hampir mati rasanya"



Rukia terdiam. Dia menundukkan kepala , melihat Yumei di pelukannya sangat sunyi, dengan kepala kecilnya bersandar di lengannya, alis kecilnya yang halus sedikit mengernyit, seolah mengerutkan kening, dia tidak tahu apa yang salah dengannya.


"Ming"


"Segera datang , yang mulia"


knock knock


"Yang mulia Rukia, ini Lu Yao , boleh saya masuk".


"Masuklah"


Lu Yao masuk ke kamar Rukia dan melihat wajah pucat Yumei. Dari dalam kotak dia pun mengambil sebuah kristal. Dengan perintah Rukia , Yao meletakkan kristal itu di dahi Yumei. Setelah beberapa saat , wajah Yumei kembali membaik , sayangnya ini hanya bersifat sementara.


"Kondisi ini sudah tidak bisa di tunda lagi. Dr. Ruth benar tentang situasi putri saat ini."


" ... "

__ADS_1


'Berengsek!' Ming menundukkan kepalanya menahan emosi.


Rukia mengingat pertama kali Yumei menyadari penyakitnya. Saat itu sama sekali Rukia tidak mengerti kenapa dia berwajah seperti itu.


Yumei mengangkat kepalanya untuk melihatnya dan berkata dengan lembut, "Rukia, aku sedang memikirkan sebuah pertanyaan."


"Baiklah , apa?"


“Bagaimana jika… bagaimana jika Yumei meninggal suatu hari nanti?” Yumei berkata, suaranya menjadi lebih pelan.


Mendengar ini, Rukia tercengang, hatinya membeku. Dia tidak pernah memikirkan masalah ini, bagaimana gadis kecil itu bisa memikirkannya?


Pembicaraan mereka bertiga cukup lama, namun tidak menemukan solusi untuk penyembuhan Yumei.



Sedangkan Yumei sendiri bertemu dengan dirinya yang lain dalam tidurnya.


[Oh sudah bisa sampai disini, apakah aku harus ucapkan selamat?]


"Tidak butuh itu, aku kesini ..."


[Untuk Rukia , bukan?]


"Kamu tahu ?"


[Aku tidak sepertimu. Berpura-pura manis untuk membuatnya makin sedih.]


"Maksudmu , Rukia sudah tahu?"


[Gadis bodoh, Rukia bukan hanya tahu tapi paling tahu]


Diri Yumei yang lain lalu melambaikan tangannya, bayangan Rukia menemui Raja dan meminta perang di hari dirinya pindah ke mansion. Lalu pembicaraan Rukia dengan Ming yang memerintahkan Ming disisi Yumei. Lalu luka demi luka yang Rukia dapat saat perang.


'Marshal , anda perlu istirahat'


'Omong kosong, kota ini harus aman. Aku tidak ingin seekor tikus pun lepas!'


'Marshal , kondiai anda tidak memungkinkan'


'Kau yang jadi Marshal atau aku !!'


'Tapi Marshal...'


'Tiga bulan , aku beri kamu waktu 3 bulan untuk kuasai kota ini. Aku akan istirahat'

__ADS_1


'Ini janji Marshal , kami akan lakukan!'



__ADS_2