
"Terus terang sayangku, bukankan kamu bilang padaku jika bisa melihat masa lalu seseorang?."
"Ah? Benarkah aku berkata begitu?." tanya Yumei bingung, menatap Rukia meminta penjelasan.
"Iya, sayangku. Tidak bisakah kekuatan itu di gunakan kepada ibu mertua?."
"Asal ayahku dan yang lain sangat sibuk, aku bisa mencobanya. Ibunda sering terlelap sejak aku bertemu dengannya, seolah ...."
Yumei menundukkan kepalanya.
"Seolah apa?."
"Seolah mama tidak pernah ada di sini sejak awal. Tugu batu suci dan museolum Ratu seperti hanya sementara dan akan lenyap sewaktu-waktu."
Tubuh Yumei gemetar, pemikiran yang telah dia ucapkan membuat tubuhnya gemetar. Takut.
Rada rasa takut yang sangat besar menantinya. Seakan dia tidak akan pernah menerima hal itu jika terjadi nyata.
"Yumei, kamu kenapa?."
Rukia memeluk Yumei, dia memejamkan mata dan membiarkan pelukan itu menghapus rasa takutnya.
"Kamu kenapa, sayang?." tanya Rukia dengan cemas.
Yumei meraih kerah baju Rukia dan berkata,"Apa aku akan kehilangan mama?."
Tubuhnya gemetar lagi.
Rukia merasa sakit kepala, tidak tahu bagaimana menghibur istrinya.
"Tidak mungkin. Ayah dan ibu sangat kuat, bibi Alette juga suaminya juga kuat. Hal itu tidak mungkin terjadi, kan?."
__ADS_1
"Tapi ... Tapi aku ingat ayah pernah menjadi gila. Waktu itu dia memandang mama seperti boneka kaca yang mudah rusak."
"Huh? Kenapa begitu."
"Kakak berkata, kesehatan ibu tidak baik. Ibu butuh pemulihan segera dan kembali utuh."
"Menjadi satu? Memangnya apa yang terjadi?."
"Mama pernah tertidur selama hampir 80.000 tahun sejak kelahiran kakak."
"Apa? Yumei, katakan padaku ... Berapa umur ibu dan ayah?."
"Umur mereka ...."
"Lebih dari nyawa manusia bisa bereinkarnasi."
Sebuah suara mengejutkan keduanya. Penjaga di luar pintu juga terlihat telah tertahan sesuatu.
"Baru saja tiba. Awalnya aku ingin bertemu ibu lalu pergi. Tapi melihat kamu, aku jadi menundanya."
"Ah, begitu rupanya. Kakak, dia Rukia yang menjadi suamiku."
Alviss membelai kepala Yumei dengan penuh lasih sayang. "Hello."
"Hello Kakak ipar."
"Jangan sebut aku kakak ipar, kamu belum layak."
Rukia terkejut.
Mata Yumei melebar karena ucapannya, "Kakak!!."
__ADS_1
"Ucapanku benar, pasti bukan aku saja yang akan bilang begitu. Tes menjadi suami kamu belum selesai, dia tidak bisa memanggilku."
"Tapi Rukia suamiku."
"Meski itu adalah istriku, dia juga perlu melewati ujian."
"Tidak adil ... oh ... kenapa ada pengujian ...."
"Maafkan, aku sedikit tidak mengerti. Ujian apa yang kalian bicarakan?."
"Kamu pikir adikku orang biasa, hanya anak lah yang sakit tidak di obati? atau kamu berpikir dia anak tanpa orangtua?."
"Aku tidak perduli siapa, aku hanya tahu cintaku dalam padanya."
"Itulah kebodohan kamu tapi juga keberuntungan kamu."
Rukia dan Yumei saling berpandangan dengan kebingungan yang ingin dapat jawaban.
Alviss mengangkat tangannya dan sinar hangat berwarna biru jatuh di tubuh Yumei.
Perlahan tubuh Yumei berubah. Tanduk seputih salju muncul di kepalanya, dan aura tegas serta tajam berkekuatan memancar dari tubuhnya.
"Kami keturunan naga dan satu-satunya penerus alam kekacauan. Tidakkah kamu merasa segala obat di benua ini tidak akan berguna padanya. Dan darah Yumei mampu menekan korosif pada kekuatanmu?."
"Hal itu memang sempat membuatku curiga tapi aku tidak akan memaksa Yumei."
"Itu pilihan bijaksana. Jika sebaliknya ... Kamu sudah mati jadi abu tidak bisa reinkarnasi sekarang."
Rukia menelan ludah, keringat dingin muncul di punggungnya.
__ADS_1
Hanya satu kata—Mengerikan!