
Ketika Rukia akan bangun dari tempat duduknya. Rukia menemukan surat yang diikat dengan rapi disisi meja kerja itu. Dia berpikir sejenak, haruskah ia membukanya atau malah membiarkannya begitu saja?
Untuk mengklarifikasi situasinya, Rukia mengambil surat itu dan membacanya. Rukia memutuskan untuk menanyakan berita tersebut nantinya. Dia duduk dengan patuh, melihat siapa dan kemana surat itu akan di kirim.
Melihat namanya tertulis di situ. Rukia terkejut.
{{Untuk kakak periku
Kakak, apa kamu datang ke kamarku ? mungkin ini sudah hari ke-30 kepergianku darimu. Kakak , aku minta maaf telah pergi jauh darimu tanpa ijin dahulu. Tapi percayalah , aku akan berjuang untuk tetap hidup. Hidup untuk kamu...
Kakak , belum lama ini aku di datangi sosok bayangan yang berkata bahwa aku bukan anak dari ayahku yang di sana. Aku hanya titipan dari orang yang memberi dia perintah. Untuk itu aku akan mencarinya.}}
Rukia hening sejenak memikirkan siapa yang bisa memasuki mansion dengan penjagaan penuh mage dan ksatria. "Siapa ini?"
{{Hello lagi kakak periku
Aku tahu kakak sangat melindungiku , aku percaya , kakak pasti menyalahkan diri sendiri lagi kan? Surat kedua aku ini , ingin aku sampaikan rasa rinduku pada kakak. Sebenarnya , pencarianku ini juga untuk kakak. Raja sepertinya tahu asal usulku namun dirinya tidak berani berkata apapun tentang itu , mungkin hanya soal darah dewa.
Tapi aku harap dia memenuhi janjinya , menjaga kakak untukku. Kakak pasti berkata dengan nada suara lebih tenang, "Kamu akan tahu kapan kamu pergi dan kamu juga akan tahu kapan akan kembali. Bagaimanapun itu tidak akan menyakiti kamu. Juga akan membawamu kembali ke kepadaku. ". Hehehehe tebakan aku benar kan , kakak}}
__ADS_1
Perlahan air mata Rukia menetes, "Gadis pintar , tahu isi pikiran kakaknya"
Rukia mengingat surat yang dia baca ketika akan melakukan perjalanan ke kota kuno. Ya, Raja memang berkata tentang misteri kota kuno dan keturunan dewa. Tetapi apa hubungannya dengan Yumei.
Sekitar setengah jam kemudian, Rukia beranjak dari kursi itu. Ditangannya masih tersisa dua buah surat yang belum dia baca. Ketika Rukia melihat ke luar, dia bisa melihat laut tidak jauh. Langit biru, awan putih, burung camar, dan matahari bersinar di laut, cahaya keemasan begitu indah.
Rukia mulai sedikit penasaran siapa orang yang datang menemui Yumei dan ingin membawanya.
Tunggu.
Bukan begitu kodenya?
Surat , Kota kuno , orang misterius , Raja dan Yumei. Mungkinkah Yumei ...
Tidak, tidak, dia tidak menginginkannya, Rukia tidak ingin Yumei mati dengan menyedihkan!
Matahari siang sangat menyilaukan, dan sekarang saatnya harimau musim gugur, matahari terlalu terik begitu berjemur. "MING !! YAO !! DIMANA KALIAN !!"
Prajurit yang menjaga pintu bergegas berlari menuju kediaman jendral untuk memanggil keduanya.
Knock knock
"Jendral Ming , Jendral Yao ... Marshal memanggil anda berdua"
__ADS_1
Ming menatap Yao penuh pertanyaan. 'Ada apa lagi ini??'
Yao hanya bisa mengangkat kedua tangannya dan berjalan menuju ruang kerja Marshal.
Knock Knock
"Pangeran , ini Yao dan Ming"
"Masuklah"
"Pangeran mencari kami? Ada hal penting apa?"
"Apa yang kalian berikan pada Raja?"
"Hanya titipan dari putri Yumei"
"Benar, Tiga kristal diperintahkan untuk diserahkan kepada raja"
"Untuk anda , Marshal"
Ming menyerahkan sebuah kristal kepada Rukia. Kristal itu berwarna Kuning kehijauan seperti giok yang belum pernah di pahat.
Warna giok ini mirip dengan bola matanya, Rukia mengenggamnya dengan erat dan meletakkannya di dada, "Yumei ... Yumei ..."
__ADS_1