
"Menurut kamu, apa kita harus membantu?."
"Ryuurei, posisiku terlalu sulit untuk membantu. Tapi ...."
"Kakak ingin aku yang terjun?." Suara Alette bergema saat langkah kakinya memasuki aula batu suci.
"Kami juga bisa membantu." Xavier ikut mengutarakan suara persetujuannya.
"Aku ...."
"Yang mulia ... Yang mulia ...."
"Bicara dengan benar, apa yang membuat kamu gelisah." teriak Ryuurei menyadarkan ksatria naga itu.
"Ayi, membawa putri kembali dalam keadaan koma."
"Apa katamu?!." aura teror memancar dari Maelys.
"Yang ... Yang mulia ... Saya ...." Ksatria itu gemetar dan berlutut di tanah.
"Apa yang kamu lakukan. Cepat bawa anakku ke kamarku!!."
"Ya ... Ya !."
"Maelys, kamu terlalu emosi, menakuti orang."
Yumei dibawa kembali dari istana Rukia dalam keadaan tidak sadar. Sebagai ibu, bagaimana dia tidak cemas?
"Kakak ipar benar, kamu terlalu khawatir."
"Adik ... Haiyah ... Punya anak sendiri barulah kamu tahu ... Ck , ck , ck."
"Hey, aku berbaik hati tenangkan kamu, mengapa malah menjadikan aku lelucon?."
"Itulah salahnya, jadilah ibu maka kamu tahu betapa hati gelisah."
"Kakak, kamu ini mencari ribut."
"Kamu dahulu yang telah buat aku semakin kesal."
"Aaaaa aku bertarung dengan kamu."
__ADS_1
"Siapa yang takut kamu, huh?."
"Diam!."
Flinch! Keduanya berdiam ditempat. Dan memandang Ryuurei dan Xavier bersamaan.
Gulp.
Kedua pria menelan ludah dan pura-pura batuk.
"Cough, Yumei lebih penting, oke."
"Sayangku, keponakan butuh pemulihan, tidaklah pantas ada perkelahian."
Sosok Maelys dan Alette seakan membesar dari diri mereka berdua. Keringat dingin membuat mereka semakin gelisah.
Aa, apa ini akhirnya?
Hai, haruskah aku duduk di papan cuci lagi?
Aku sungguh polos dalam hal ini dan tidak paham hukumnya. Keduanya menghela nafas pasrah ....
"Xavier, ah."
"Iya, istriku sayang~." 😰
"Sayang, putri tercintaku~" 😨
"Sepertinya kalian sudah makan daging beruang dan hati leopard, kan."
"Aa~, sudah berani memerintahlan aku, kan?."
"Tidak, tidak. Kami suami patuh. Lanjutkan lanjutkan."
"Iya, kami baik padamu, bukan. Mau minum teh dahulu atau makan buah?."
Semua orang memiliki garis hitam di dahi mereka. 'Wahai Raja, bukankah ini penyerahan mutlak?'
"Anu ... Yang mulia." ksatria yang gemetar memaksa diri agar berani.
"APA?!." ucap Maelys dan Alette bersamaan
__ADS_1
"Tuan putri, tuan putri butuh penyembuhan."
Maelys dan Alette tertegun.
"Apa yang kalian tunggu, cepat istirahatkan putriku."
"Kalian ini belum makan? Lambat sekali bergerak."
Prajurit dan para ksatria hanya bisa pasrah.
Di dalam kesadaran hampa.
Pada saat itu, Yumei merasakan sakit yang tajam menjalari kepalanya.
"Kepalaku benar-benar sakit …."
Ini adalah pikiran pertama yang Yumei rasakan.
Rasa sakit tiba-tiba datang, dan membawa banyak kenangan aneh bersamanya. Mata Yumei berputar ke belakang saat dia pingsan.
"Mae, kamu sungguh lucu. Seakan pertama kali masuk ke alam ini."
"Mae?." Yumei tampak bingung.
Yumei mendengar suara ini dengan linglung, dan tidak bisa menahan diri untuk tidak membuka matanya.
"Siapa kamu?."
Dia melihat bahwa orang yang membangunkannya adalah seorang pemuda yang besar.
"Eeh? Bahkan lupa denganku?." dia memandang Yumei dari atas ke bawah, bawah ke atas, "Pantas tidak mengenalku. Kamu bukan Mae."
"Aku punya ibu, memang bernama itu, tapi siapa kamu?."
"Kembalilah anak kecil. Jika dia tahu kamu terlempar kesini, pasti sedih."
"Apa kamu tahu masa lalu ibuku?."
"Sedikit memgerti."
"Bisakah, bisakah ceritakan padaku?."
__ADS_1