Hidup Untuk Kamu

Hidup Untuk Kamu
Ch. 104


__ADS_3

"Hahahaha—!"


Tawa Yumei begitu sedih dan menusuk hati dengan rasa sakit yang amat sangat.


Gelegar !!


Awan gelap terus bergulir, semakin tebal dan semakin tebal, dan langit tiba-tiba menjadi gelap. Meskipun baru saja mendekati jam enam sore, langit masih gelap seperti malam hari.


Setelah kilat menyilaukan, gemuruh datang dari langit.


Kaboom!!


Guntur memekakkan telinga.


"Ramalan cuaca tidak mengatakan akan turun hujan? Akan turun hujan seperti ini? Keluar tanpa payung, kamu harus pulang cepat ketika hujan tidak turun, atau kamu tidak bisa kembali." 


Penduduk kota masih dalam suasana duka. Peperangan tiada akhirnya membuat mereka sangat lelah.


Boom!!


Ada kilatan lain dari kilat yang sangat mempesona. Petir dari mulut mangkuk pecah dari langit ke tanah. 


Bersamaan dengan guntur ini, tetesan hujan besar berhamburan dari udara dan memercikkan debu ke jalan-jalan yang sudah lama tidak turun hujan.


Tiada yang tahu, darah siapa yang membanjiri tanah. Mutang dan manusia bertarung sangat sengit. Bahkan banyak potongan tubuh yang entah milik siapa tersebar di medan pertarungan.


Tanah menjadi merah dan menghitam.


Awan gelap bergulung-gulung di langit, tetesan air hujan semakin padat, dan setelah beberapa saat berubah menjadi hujan deras, bercampur dengan kilat dan guntur....


"Hahaha, kenapa langit menolak kedamaian keluargaku? Kenapa?!"

__ADS_1


Bayangan menggelengkan kepala.


"Kalian ingin memisahkan ayah dan ibuku tapi mengapa? Apakah mereka tiada berhak bahagia?"


"Jika langit begitu kejam kepada orang tuaku, maka aku juga harus jadi kejam bukan?"


Gelegar!!


Petir seolah menjawabnya.


Air hujan menjadi merah ....


Air ini sebenarnya berwarna merah! Saat air di sisi jalan semakin tebal, warna merah menjadi semakin menyilaukan, seperti darah di tanah!


Pada saat yang sama, aroma berdarah aneh memenuhi jalanan.


Badai hujan ini berlangsung selama tiga hari.


Penuh darah merah di jalan-jalan dan kota penuh dengan mutant zombie berkeliaran tanpa tujuan, dan suara ratapan zombie terdengar bahkan di kejauhan.


"Inikah akhir dunia di benua ini?"


"Inikah tanah yang harus suamiku perjuangkan?"


"Inikah manusia hina yang takut kematian tetapi sangat arogan dan memandang rendah nyawa orang lain?"


"Hey, layakkah kalian membuat suamiku bertarung hingga mati?"


Suara Yumei bergaung di udara. Penduduk sebagian merasa malu, tidak berdaya, takut dan sebagian lagi penuh amarah, penuh kata kasar bahkan memukul mati pelayan atau orang sekitarnya.


Sisi buruk manusia terlihat jelas disini....

__ADS_1


Layak atau tidak mereka diselamatkan?


Sungguh jawaban itu tertulis jelas.


Sangat tidak layak diselamatkan.


Pada saat ini, guntur terdengar di luar dan semangkuk petir jatuh dari langit yang gelap.


Dunia tampak hening sejenak.


Ragu menjawab?


Kalau tidak ... bagaimana semua ini bisa dijelaskan?


Hujan berwarna merah ini seolah-olah meneteskan darah.


Kebanyakan orang tampak sangat bingung dan terkejut, seperti Rukia, dia berdiri dan memandang ke langit, dan melihat sekeliling, dengan ekspresi luar biasa di wajahnya.


Pertanyaan Yumei membuat hati mereka gelisah.


Mata orang lain juga tertarik oleh pemandangan ini, dan kebingungan di hati mereka sementara waktu disingkirkan.


Yumei melebarkan matanya dan melihat segala sesuatu di depannya dengan terkejut.


"Bloodline awaken! Aku ... Aaa!! Sangat kesakitan!" 


"Yumei" Rukia berlari kearah jatuhnya tubuh Yumei.


Ekspresi orang lain berbeda, beberapa orang sedikit takut.


Rukia menggunakan kekuatannya dalam situasi tegang. "Hentikan makhluk itu."

__ADS_1


"Ya!"


__ADS_2