
"Bos, pikirkan lagi ...."
Sejak kepergian Yumei, keadaan istana makin terasa mencekik leher para pengawal dan pelayan mansion. Hanya sisi dimana Rumei yang damai dan tenang, sangat berbeda dengan sisi ruang kerja Rukia.
Begitu dia mendengar kata-kata Ming, Rukia menjadi lebih pahit. Sebanyak dia mencintai gudang senjata, sebanyak itulah dia pun membencinya. Apakah berguna senjata-senjata itu jika tidak bisa melindungi apa yang berharga untuknya?
Pergerakan arsenalnya sangat kuat, baik itu sihir maupun ksatrianya. Kekuatan, kecepatan, pertahanan, dll. Semua data para kstria miliknya telah mencapai tingkat yang mencengangkan.
Negara lain juga sangat tertekan oleh keberadaannya.
"Apakah sesederhana itu?," Rukia menatap Ming.
"Itu bukan satu-satunya cara, kan?." Yao sedikit khawatir pada Rukia. "Jika putri kembali dan anda terluka lagi, maka ...."
Flinch !
Tubuh Rukia membeku sesaat, memejamkan mata dan berkata, "Hampir melupakannya."
Sigh.
Ming dan Yao sedikit merasa lega.
"Mulai produksi penuh segera, saya ingin lebih banyak kapal perusak, saya ingin lebih banyak ksatria monster."
"Baik!."
"Yang mulia, saya juga mendengar berita."
__ADS_1
"berita apa?."
"Ada kristal merah di reruntuhan bawah tanah kota Yongwa. Dikatakan batu merah itu mampu memanggil jiwa yang telah pergi."
"Haha... Oke... Ini benar-benar berita terbaik."
Sebulan kemudian...
Perjalanan mereka berada di gunung tertinggi di Distrik 3 Yongwa. Lingkungan alam di sini tidak buruk, hanya saja Rukia, Ming dan Yao mengalami perubahan pada fisik mereka, makanan telah menjadi nomor dua. Atau makanannya berangsur-angsur berubah dari daging menjadi energi.
"Yang mulia, saya akan menetap di sini di masa depan."
"Di sini? Apa kau yakin, Ming?." Rukia memandangi pegunungan di sekitarnya.
Lingkungan alam di sini tidak buruk, tetapi apakah Ming adalah tipe karakter yang akan mempertimbangkan pemandangan yang indah?
"Ada lei line vulkanik di sini," kata Ming. "Disini, saya bisa membangun ksatria rahasia untuk tuan putri."
"Lahan wilayah ini sudah lama tidak memiliki tuan, saya setuju dengan usul Ming. Yang mulia bisa menggunakan area ini sebagai base rahasia."
Ming melihat ke arah Rukia dan berkata, "Saya juga merasa ada kristal merah di bawah tanah."
Mata Rukia mendengar ini, matanya berbinar: "Berapa? Di mana itu?"
"Ini sangat jauh di bawah tanah. Saya tidak tahu lokasi pastinya. Jika saya menggalinya, saya akan mengirimkannya kepada Anda."
"Yang mulia, bahan apa yang Anda inginkan, saya akan menyediakannya."
__ADS_1
"Sekitar seratus kristal merah seukuran kepala manusia."
"Dimengerti."
"Aku sangat membutuhkannya."
Siapa di benua ini tidak mengenal si Iblis api merah?
Nama iblis api itu seperti guntur. Menebar rasa takut ke seluruh pelosok benua dari syair-syair yang pendongeng lantunkan di bar-bar kota.
Hanya sebuah julukan bisa membuat seseorang mengalami mimpi buruk seumur hidupnya bila berbuat hal tidak baik dan terlihat olehnya.
"Tuan muda, tuan muda ...." Bing buru-buru menemui Rukia yang baru saja mendarat.
"Tuan Bing, apakah Anda di sini untuk melihat Bing Lanlan? Dia seharusnya ada di asrama sekarang. Anda bisa mencarinya sendiri."
"Aku di sini untuk mencarimu, tidak... aku di sini untuk meminta bantuanmu."
"Ada apa, Tuan Bing mencariku?."
"Tuan muda, kamu pasti tahu latar belakangku, kan?."
"Jangan saling memberi tebakan, katakan langsung." Ming sedikit kesal oleh tingkah Tuan Bing itu.
Di sisi lain, Rukia merahasiakan nama aslinya. Jika Tuan Bing ini mengetahuinya, mungkin saat ini dia akan ketakutan setangah mati.
__ADS_1