
"Kakak oh kakak, jalan derita ini... mungkin hanya kalian yang mampu menjalani."
Alviss terdiam, "Bibi, aku juga sudah hampir pada batasanku."
Puff!
"Alviss?." Alette menopang tubuh Alviss.
"Bibi, dirimulah yang mungkin paling kesepian."
Alviss membelai pipi Alette dengan tangan yang gemetar.
"Aku sudah terbiasa. Sejak perang terakhir henrietta, aku sudah paham bahwa akan seperti ini."
"Tegarlah bibiku tersayang."
"Tentu. Tidurlah sekarang...." Melihat Alviss dengan tatapan hangat. "Xavier."
"Hm."
"Sudah saatnya membereskan sampah."
"Okey."
Satu per satu berkumpul di belakang Alette. Severin meraih tubuh Alviss dan meletakkan kristal es abadi untuk menyelubungi dia.
Itu adalah peti es milik Arlette sebelumnya.
Tubuh Yumei membeku.
Hanya dalam waktu semalam, orang tuanya dan kakak laki-lakinya pergi untuk selamanya.
Sambil menutup mulut menahan tangis, Yumei berjalan tanpa arah.
Satu demi satu informasi yang dia dapat diolah dengan hati-hati.
Pertama, keputusan ibunya untuk masuk lingkaran keputus asaan.
Kedua, pencariian ayahnya di dunia tidak berujung.
Ketiga, pilihan kakaknya.
Keempat, ucapan bibinya....
Satu per satu fakta terbuka dihadapan Yumei. Semakin dia tahu semakin dalam luka di hatinya.
Puff!
__ADS_1
"Kakak, mengapa...." Pandangan Yumei mulai menjadi sabar, "Ayah, Ibu ... mengapa?."
Samar-samar Yumei melihat Rukia berlari dan memanggilnya, tetapi tidak ada suara apapun ditelinganya.
[Sudahkah mengerti sekarang?]
"Tidak."
[Kamu tidak dapat merubah ataupun mempengaruhi ketiganya]
"Tidak Mungkin!!."
[Masih keras kepala?]
"Kenapa pergi tanpa aku. Aku juga adalah putri mereka! Kakak juga jahat padaku!."
[Tidakkah kamu sudah cukup mengesalkan?]
"Aaaaaa—, kenapa! kenapa!!."
[Anak bodoh]
[Harusnya kamu hidup dengan baik, harusnya kamu bahagia dengan Rukia, bukan?]
"Rukia."
"Rukia ... Rumei ...."
Yumei menatap ke ruang kosong, "Katakan padaku, apa, apa yang bisa membantu orang tuaku dan kakakku?."
[Berbahagia]
"Apa? Jangan bercanda."
[Serius. Berbahagialah]
"Bagaimana ... bahagia ... aku ...."
Berbahagia dengan kepergian keluarganya?
Yumei tidak pernah berani berpikir tentang hal itu, selama ini selain Rukia, keluarganya adalah yang paling dia rindukan.
Sekarang, perlahan bayangan mereka memudar, mereka pergi ....
Air mata Yumei menetes tidak terbendung.
Rukia melihat keadaan Yumei seperti ini bertanya-tanya.
__ADS_1
"Apa yang membuat kamu menangis dalam ketidak sadaran kamu?"
"Rukia ... Rumei ...."
Rukia terkejut mendengar suara Yumei.
"Yumei, sadarlah." Rukia memeluk erat tubuh Yumei. "Kita akan menjemput Rumei saat perang usai, bangunlah."
"Rukia ... Rukia ...."
"Disini, aku disini, Yumei."
"Aaaaa—!."
"Yumei! Kamu kenapa?!."
Tubuh Yumei kesakitan dan dalam tidurnya itu, dia seperti tergores oleh pisau tajam.
Sakit.
Sangat sakit.
[Menyerah sekarang?]
"Tidak! Aku belum kalah!"
[Haiz, buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Baik itu alviss atau dia ... keras kepala]
Yumei menerima tantangan dari sosok misterius itu. Dia tidak ingin menyerah, keluarganya dipertaruhkan disini dan dia masih memiliki Rukia dan Rumei.
"Tidak akan menyerah. Kamu harus patuh padaku!."
[Anak yang tangguh, sejauh mana kamu bertahan?]
"Bisa, aku pasti bisa menciptakan kehidupan untukku sendiri."
[Hehehe]
"Ayah, Ibu, Kakak. Aku pasti akan jadi kuat, aku pasti akan bahagia dan menemukan jalan untuk kalian."
Bayangan samar seakan menyentuh bahu dan kepala Yumei.
Yumei menatap bayangan itu, dikanan kirinya ada ibu dan kakaknya, usapan hangat di kepala Yumei membuat air mata kembali menetes.
Ayah ....
"Aku bisa. Pasti bisa! Aku tidak akan menyerah!!."
__ADS_1