
Rukia tidak menyerah mencari Yumei di seluruh pelosok hutan. Para prajurit pun merasakan kesedihan Marshal mereka.
Oh , Malaikat kecil... Dimana kamu?
Rukia tidak berani berpikir lagi, matanya semakin merah dan merah, jadi dia hanya berteriak, "Yumei, di mana kamu? Keluar, jangan menakut-nakuti Kakak!"
Matanya memerah merah karena air mata, dan urat-urat di dahinya berdenyut.
Hanya Ming dan Yao yang tahu pesan terakhir Yumei. Keduanya pun sibuk mencari dimana Yumei. Rukia semakin marah dan tiba-tiba muntah darah lalu jatuh tidak sadarkan diri. Yao bergegas menopang tubuhnya.
Yumei yang melihat dari jauh ingin berlari mendekat tetapi langkahnya terhenti.
[Tidak Boleh]
"Tapi kakak muntah darah , aku ..."
[Sudah sejauh ini, mau menyerah?]
"Meiyu , hatiku sakit melihatnya putus asa"
[Alas. Kamu seperti ini , mau bantu Rukia apa? Setidaknya kembalilah dulu , isi energy baru datang lagi]
Yumei tidak punya pilihan selain mengubah mulutnya dengan senyuman, "Kakak peri , bolehkah aku juga pulang?". Kakak, dia pasti sangat menyalahkan diri sendiri sekarang, bukan?
Seakan Rukia mendengar suara itu, dengan suara lembut dia menjawab, "Pulanglah bersamaku"
Yao tertegun mendengar gumam Rukia, tatapan sedihnya tidak dapat ditutupi lagi.
__ADS_1
"Marshal , jika kamu sembuh , putri pasti kembali"
Perlahan membuka mata, "Yeah, dia pasti kembali padaku" Tersenyum, "Jika tidak, walau seluruh dunia , aku pasti menemukannya"
Sayang, tidak bisakah aku membuat kesalahan? !
“Brengsek!”
Kepanikan dan ketakutan yang belum pernah terjadi sebelumnya menghantam jantungnya, sehingga dahi dan punggungnya dipenuhi keringat dingin. Ketika dia dijebak, pelanggaran fitnah dalam kerajaan yang tak terhitung jumlahnya membanjirinya, dan dia dipaksa untuk keluar dari lingkaran kerajaan, dia tidak pernah merasa seperti itu.
Rukia memutuskan untuk kembali ke mansion.
Sedangkan Yao dan Ming diperintahkan menuju istana. Raja sangat terkejut mendengar laporan bahwa Rukia sedang sakit. Terlebih lagi Yumei menghilang. Ming mengatakan tujuan kedatanganya dan seketika , Raja berlutut seakan menerima titah dewa.
Ming melompat kesamping Yao yang menahannya terjatuh.
"Raja ... ini bukankah ..."
"Ini ... putri Yumei hanya berkata pesan itu untuk raja dan barang titipan ini..."
"Itu adalah artefak saint, yang dibuat dari darah suci saint. Yang kalian berdua pakai juga terbuat dari satu inti yang sama. Yumei ... melindungi negeri ini untuk Rukia"
Seluruh menteri dan bangsawan yang hadir turut bergetar mendengar hal itu. Perlindungan Dewa, itu adalah hal besar yang paling di idamkan kerajaan yang berdiri di bumi ini. Itu sama saja dengan satu nyawa perlindungan.
Pada akhirnya mereka pun ikut berlutut seperti sang Raja.
Yao dan Ming menarik nafas dalam-dalam. Ternyata naskah dinding di reruntuhan perpustakaan kota kuno benar adanya. Keduanya saling memandang.
__ADS_1
"Sungguh , kedatangan kalian bedua sangat membahagiakan aku. Terima kasih"
"Ehem ... Jika begitu , ini pesan dari putri Yumei, yaitu Tiga kristal suci kepada kerajaan ini"
"Berkat sang dewa selalu menyertai kerajaan ini selamanya"
Suara bersahutan melayang di udara. Seperti sebuah mantra perlindungan untuk kejayaan negeri.
Di mansion.
Rukia berjalan perlahan melewati koridor mansion. Kekosongan di hatinya tidak dapat di obati.
"Hey. Ini baru satu bulan aku membuka mata tanpa melihatmu tapi kerinduanku seakan seribu tahun. Bagaimana ini?"
'Kakak , kita tanam bunga lili ya ...'
'Kakak!' Bayangan Yumei melambaikan tangan menyambutnya.
'Sungguh ? aku ingin sebuah kamar dengan pemandangan laut'
Berdiri di depan kamar Yumei. Rukia memanggil pelayan, "Kamu, pelayan khusus Yumei bukan?"
"Benar yang mulia"
"Jaga kamar ini selalu bersih , jangan merubah apapun tanpa ijin dariku"
"Baik yang mulia"
__ADS_1
Rukia pun berjalan memutari ruangan itu beberapa kali dan duduk di meja kerja Yumei.