
"Mama."
Yumei menatap Maelys dari kejauhan. Dia melihat Ryuurei menghampiri ibunya lalu memeluk tubuh ibunya erat. Terlihat kesedihan di wajah ayahnya.
"Maelys, jangan menyalahkan dirimu lagi."
"Mengapa ... Mengapa dewa harus menghukum anakku seperti ini. Kenapa tidak aku saja?."
"Ini hukuman Yumei. Dia menantang maut untuk nyawa Rukia. Apa salahnya dirimu?."
"Yumei masih muda. Tidak tahu mana benar mana yang salah."
"Begitu juga dirimu."
Maelys memukul dada Ryuurei.
Ryuurei melepas pelindung sihirnya, dan membiarkan kepalan tangan Maelys Menghantamnya.
Yumei terkejut.
"A ... Ayah ... Ternyata seperti itu ... Ternyata aku juga telah jahat pada mama."
Yumei menangis dan jatuh duduk ditanah, menyandarkan kepalanya pada dinding jendela. Menangis.
Yumei tidak pernah tahu masa lalu Maelys dan Ryuurei. Kakak tertuanya juga tidak berkata apapun. Seluruh keluarga seakan merahasiakan masa lalu ibunya.
Baik itu bibi pertamanya maupun bibi adik dari mamanya.
Mereka sangat misterius.
(The Desperate Love story - welcome you to read them.) 😘
Mereka selalu menghilang dan kembali setelah waktu berlalu begitu lama. Yumei tidak pernah bertanya ataupun meski dia bertanya, mereka tidak akan menjawabnya.
Tetapi Yumei sangat ingat amarah mereka. Ketika mereka tahu dirinya memberikan darah abadi pada Rukia.
Bibi Alettenya, yang selalu tersenyum. Seperti iblis yang telah terbakar amarah dan dendam.
Seluruh keluarganya—Murka!
__ADS_1
Yumei masih tidak tahu apa yang salah. Dia hanya ingin menyelamatkan kekasihnya. Tetapi sekarang dia tahu, sedikit rasa penyesalan mulai merasuki dirinya perlahan.
"Mama." Yumei menangis pilu, "Mama, maafkan Yumei. Ketidaktahuanku menyakiti mama. Rukia ... Rukia ...."
Di halaman altar.
"Jangan menangis, lihat, tanganmu terluka."
"Tidak perduli."
"Sayang. Tolong jangan menangis, aku ikut sedih melihat kami seperti ini."
"Kenapa dewa sangat kejam kepada keluarga kita."
"Karena kita telah melewati banyak reinkarnasi dan darah."
"Yumei masih muda. Jalan darah ini tidak akan sanggup dia lewati."
"Apa kamu yakin?."
Maelys menatap Ryuurei terkejut, "Apa maksud kamu?."
"Mereka masih punya kita." Ryuurei meraih telapak tangan Maelys dan menciumnya. "Harga apapun yang akan mereka tanggung. Takdir mereka, bisa kita bayar."
Yumei bangkit dari kesedihannya, berlari menuju kolam cermin jiwa.
"Rukia ...."
Yumei menyebut nama Rukia berkali-kali seolah itu adalah mantra ketengan di hatinya.
Kerajaan.
Rukia gelisah, entah apa yang membuat hatinya gelisah. Dia merasa ingin menenangkan seseorang.
"Rukia ...."
Yumei melompat ke pelukannya, Rukia bahkan tidak perduli dia datang dari mana.
"Rukia ...."
__ADS_1
"Yumei ... Sayangku, kenapa menangis? Siapa yang buat kamu menangis?."
"Rukia ... Rukia ... Aku, aku berbuat jahat pada mama."
"Apa!?."
"Aku membuat mama terluka, sedih dan kecewa."
"Sayang, jelaskan padaku detailnya. Apa yang terjadi."
Yumei kemudian menceritakan seluruh kejadian di altar batu suci kepada Rukia. Berulang kali wajah Rukia berubah.
Rukia menyentuh wajah Yumei dengan kedua tangannya.
"Yumei, kamu sangat bersalah tentang hal ini?."
"Rukia."
Yumei membenamkan wajahnya di dada Rukia dan mulai menangis.
"Bila aku jadi mama. Aku pasti pecat kamu menjadi anak."
Hiccup!
Tubuh Yumei membeku.
"Menolongku jika itu menyakiti dirimu, itu adalah salah."
"Aku ...."
"Memberikan aku darah berharga kamu, itu adalah salah."
"Rukia, aku ...."
"Meninggalkan anak kita, menyakiti ibunda. Itu juga salah."
"Huwaaa —, aku tahu diriku bersalah, tapi aku takut kehilangan kamu."
"Tidakkah kamu berpikir aku juga sama? Melihat dirimu terbaring dalam pelukanku, perlahan vitalitas tubuh kamu hilang. Tangis Rumei memanggil kamu."
__ADS_1
"Aku bersalah ... Bersalah ... Maafkan aku ...."
Rukia menghela nafas, ini bukan kali pertama Yumei seperti ini. Namun Yumei harus belajar dalam kehidupan ini.