
BAR Pinggiran ibu kota
Lu Yao bergegas menemui Ming , "Sudah selesai, kita pergi menemui marshal."
"Marshal belum bangun."
Lu Yao memandang langit dari jendela Bar."Benar juga, Marshal tidak pernah tidur nyenyak sejak putri menghilang".
Rukia berbaring dengan tenang, tubuhnya dalam kondisi baik dan kekuatan mentalnya tenang, tetapi matanya masih tertutup dan dia bahkan tidak menggerakkan matanya.
Ming mengulurkan tangan dan menepuk dahinya, dan ada keraguan di matanya, "Seharusnya tidak. Putri berkata , air dari kristal itu akan membantu Marshal menyatu dengan kepribadiannya yang lain."
Lu Yao sedikit khawatir, tetapi tidak cocok untuk bertindak gegabah saat ini, jadi dia hanya bisa menunggu dan mencari tahu alasan komanya.
“Bagaimana pemeriksaannya?” Luo Fei bertanya.
Lu Yao berwajah serius, "Tidak ada masalah yang terdeteksi."
Ming memandangi wajah tegas pria itu, dan berkata perlahan, "Tunggu dan lihat, dia akan baik-baik saja."
“Kita hanya bisa menunggu.” Luo Fei juga bingung harus berbuat apa.
Yumei yang saat ini sedang duduk santai di kastil Henrietta sambil membelai lembut bayi dalam perutnya , memandang Rukia yang sedang koma dari cermin. "Jadilah ayah yang baik, kamu akan segera sembuh setelah meminum ramuan itu."
Yumei menghela nafas, "Kapan kamu akan bangun?"
Pada malam hari, Yumei merasa lapar. Dia menutupi perutnya yang menggerutu dengan ekspresi bingung, “Kenapa aku masih lapar?”
__ADS_1
Alis mata Yumei berkerut menjadi bola. Suplemen nutrisi pill ada di mulutnya dan dia tidak bisa menelan makanannya, dan dia tidak tahan untuk memuntahkannya. Dia hampir muntah. Yumei memiringkan lehernya dengan ekspresi menyakitkan, membuat gerakan menelan yang sulit, dan kemudian menjulurkan lidahnya dengan putus asa, "Mengapa ini sangat buruk!?"
Yumei mulai putus asa, untungnya setelah bulan ke-9 ,Dia sudah bisa sedikit makan secara normal. Hingga Rukia akhirnya bangun secara ajaib.
"Yumei ..."
"Marshal , akhirnya anda sudah bangun"
"Dokter ! mana dokter disini !!"
Ming dan Yao mulai sibuk memanggil dan memastikan kondisi Rukia. Namun yang ada di pikiran Rukia saat ini adalah keberadaan Yumei. Rukia melihat sudut kamar bahkan menantikan esok hari , sosok Yumei tidak terlihat.
Beberapa hari berlalu seperti itu ...
Diam-diam Yao meminta muridnya untuk mencari celah pergi ke kuil virgo dengan alasan berdoa untuk inspirasi medis. Tetapi makin lama ,kecurigaan Rukia makin bertambah.
Suatu malam di malam purnama , Rukia memukul pingsan murid Yao dan memakai seragam miliknya. Setelah itu dia pergi ke altar Virgo untuk mencari tahu.
Sigh. "Ini hari terakhir aku bisa memberimu giok ini , mengerti?"
Cough Cough Cough
Tubuh Rukia membeku, suara yang dia cari selama ini , ada dihadapannya. Dengan tubuh kecil dan suara seraknya , Rukia tidak akan salah mengenali pemiliknya , Yumei.
__ADS_1
"Ibu--!"
GASP!!
Anak ?! Apakah ini anak kita , Yumei?
"Rumei, ibu baik-baik saja. Bukankah kamu ingin bertemu ayahmu? Paman ini akan mengantarmu bertemu dengannya. Senang bukan?"
"Ibu--"
"Tolong bawa dia pada Rukia. Bilang padanya maaf terlambat memberitahunya"
Cough Cough
Pakaian putih Yumei kini bernoda merah karena darah , putra kecilnya menangis disebelahnya. Dengan lembut Yumei membelai kepala anak kecil itu.
"Ayahmu orang yang hebat. Kamu tumbuhlah dengan kasih sayangnya , Rumei ..."
Tubuh Yumei tiba-tiba terhuyun-huyun seakan mau jatuh menghantam lantai. Rukia berlari menangkap tubuhnya serta memeluknya. Keseimbangannya juga goyah , air matanya membuat kabut di mata Rukia.
Yumei penuh dengan darah ditubuhnya namun Rukia tidak ingin melepaskan pelukannya. "Awalnya , aku tidak benar-benar mengenalmu tapi seiring berjalannya persahabatan ini , aku mulai ingin lebih dekat denganmu. Awalnya aku hanya berharap bisa jadi saudara yang mengajakmu dalam kebaikan namun lingkungan sekitarku memaksaku berlumuran darah. Yumei ... Yumei ... Bangunlah untukku"
"Ibu ... ibu ..."
__ADS_1