
"Rukia, kamu adalah satu-satunya yang bisa membawa sejarah kerajaan ini. Jika saja mungkin, aku ingin kamu untuk hidup. Ini bukan permintaan seorang Raja tetapi sebuah permintaan seorang ayah."
Rukia memejamkan matanya saat mendengar perkataan Raja, ada sedikit rasa sakit dihatinya yang menghujam dan membuatnya susah untuk bernafas. Bayangan Yumei dan Rumei terlukis di ingatannya. Tetap hidup ....
"Saya mengerti, ayah. Saya akan berusaha tetap hidup."
Rukia lalu bangkit memberi hormat dan berlalu pergi dari aula istana utama. Perasaan serta tekadnya sudah bulat. Berperang dan bertahan hidup. Kalau hal ini adalah Rukia sebelum bertemu Yumei dan memiliki Rumei mungkin dia akan bertarung sampai mati. Sayangnya ... Ini telah di hadapkan kepada Rukia yang telah merasakan bahagia sebuah keluarga, dia harus tetap hidup.
"Yang Mulia ...."
"Hmm..." Dia menatap pemuda yang berdiri secara diagonal di depannya dengan tak percaya.
Wajah pemuda itu seperti batu giok mahkota, dengan senyum seperti angin musim semi di wajahnya, tetapi senyum itu tidak mencapai bagian bawah matanya. Pupil pemuda itu sangat gelap, dan tempat dia berdiri hanya menghalangi cahaya, dan bagian bawah matanya seperti jurang yang tak terlihat.
"Yang Mulia ... Saya ...."
"Kenapa kamu tidak berbicara? Apakah kamu tidak puas dengan penangananku?"
__ADS_1
Pemuda itu jatuh berlutut didepan Rukia. Dia menjadi pucat lagi, dia dengan paksa menahan rasa takut dan gemetar: "Saya tidak berani."
“Saya pikir Anda sangat berani.” Rukia sedikit menyipitkan matanya dan menatap pria yang berlutut di tanah. "Kamu ingin tahu apa yang aku bicarakan dengan kaisar? Juga ingin protes untuk apa yang telah aku lakukan untuk menghadapi mutant itu?."
Pria itu terdiam.
"Apakah kamu tidak mendengar apa yang baru saja saya katakan?."
Pria itu memandang kaisar yang berdiri di belakang pemuda itu dengan harapan terakhir, dan hatinya sedikit demi sedikit tenggelam.
"Apa yang terjadi dengan pangeran? Mengapa kamu tidak bisa melihatnya?"
Semua orang tertegun sejenak, terlambat untuk memikirkan bagaimana kaisar muda tiba-tiba muncul di sini, dan buru-buru memberi hormat. Mereka yang berhati hati bahkan menunjukkan kelebihannya dengan rukuk.
Disisi Ryuurei.
"Kamu dapat menantu yang baik bukan?." Maelys tersenyum.
__ADS_1
"Hah! Baik memang baik. Tapi hasil akhirnya belum tentu baik." Ryuurei memalingkan wajahnya, pura-pura tidak senang meski ada sebuah senyum terlukis disana.
"Ara ara, kakak ipar memang suka begitu. Xavier, apa kamu yakin bisa menang dari kakak ipar."
"Menang belum tentu. Tapi kasih sayangku padamu setara dengan kasih sayang kakak ipar pada istrinya. Kakak dan kamu adalah kekasih pilihan terbaik."
"Rupanya ada yang punya pikiran sama." Ryuurei merangkul pundak Xavier dengan senang.
Jika dia lebih berani, dia mau berjuang untuk dirinya sendiri untuk melindungi orang terkasih!
Kembali pada Rukia yang sangat tidak bahagia....
Melihat kaisar muda yang akan dikelilingi oleh wanita selir cantik, warna gelap di mata pria itu secara bertahap semakin dalam. Dia berlutut di tanah menyaksikan dengan ngeri pemandangan di depannya.
Tiba-tiba, untuk beberapa alasan, firasat buruk yang kuat muncul di hatinya.
Mata suram dan penuh makna menyapu mereka, tubuh mendadak lemas dan gemetar.
__ADS_1
Dalam menghadapi hidup dan mati, di mana mereka bisa peduli tentang hal-hal lain, mereka hanya berharap untuk bertahan hidup sekarang.