Hidup Untuk Kamu

Hidup Untuk Kamu
Ch. 133


__ADS_3

"Itu hal yang wajar istriku, Yumei. Jika itu aku yang ada di posisi kamu, mungkin aku tidak akan sanggup berdiri lagi."


"Rukia ...."


Rukia menyentuh lembut wajah Yumei dan tersenyum, "Baby, bukankah aku hidup untuk kamu?."


"Ya ...." Yumei memejamkan matanya dan membiarkan wajahnya berada di telapak tangan Rukia.


ROAAARRR !!


Rukia dan Yumei menatap ke langit, sosok raksasa terbang mendekati mereka berdua.


"Mama ... Papa ...."


"Rumei!."


Rumei melompat dari punggung naga dan keduanya mendekapnya erat.


"Mama ...."


"Gadis cantik, jangan menangis." Yumei mencium pipi Rumei.


"Hey, sudah besar begini masih suka menangis?."


"Papa."


Alette yang melihat hal itu tersenyum. Xavier memeluknya dan semua tampak berwajah penuh rasa lega dan haru.


"Yumei."


"Bibi Alette, aku ...."


"Tidak ada yang perlu di katakan, aku sudah mengetahui hal itu."


"Bibi juga tahu tentang lingkaran takdir itu?"


"Ya. Aku ingin mengakhirinya, tapi aku masih lemah."

__ADS_1


"Jangan berkata begitu, bibu dan semuanya telah berusaha dengan keras, hanya aku ... Hanya aku yang terlambat menyadarinya."


Alette menggelengkan kepalanya, "Ini semua harapan orang tua dan kakakmu."


"Maaf?."


"Mengulang dan berulang kali melewatu hal yang sama, kamu pikir berapa kali mereka melewati kejadian ini?."


"Bibi, jangan katakan kalau ...."


"Yumei, ini semua adalah ilusi yang terus berputar di sekelilingmu. Lingkarang rasa sakit ini sudah terjadi beberapa kali dan kejadian ini bukan yang pertama."


"Bibi ... Alette ...."


"Baik itu peperangan ini, kematian manusia ini, kemunculan zombi dan mutan ini, kebangkitan memori kamu ... Semua ini telah terjadi berulang kali, putri kecilku ... Harusnya kamu sudah benar tersadar kali ini bukan?."


"Bohong! Kalau semua ini benar sudah berulang, bagaimana bisa ... Bagaimana bisa aku ...."


"Aku sedikit kecewa ketika Alviss berkata akan membantu kamu bangun dari ilusi ini. Alviss harus membayar mahal karena kamu. Rukia dan Rumei ... Akankah kamu korbankan mereka juga kali ini?."


"Tidakk! Mengapa bibi berkata seperti itu? Aku dibenua ini tidaklah lama ... DEG!!."


Alette memejamkan matanya, air bening perlahan menetes di pipinya.


"Hanya sebentar ... Aku disini hanya sebentar ... Bibi, benar kan ?."


Yumei menatap Alette dengan mata keraguan dan tidak percaya.


"Yumei, bangunlah. Rukia dan Rumei memerlukanmu, jangan buat mereka bernasib sama dengan kalian berdua. Cukup kami dan kalian yang rasakan. Rumei masih sangat kecil, bukan?."


Yumei meraih pergelangan tangan Alette dan jatuh di lantai sambil terus bertanya - tanya.


Mimpi?


Ilusi?


Yumei berpaling tiba-tiba dari kehampaan dan menatap Alette dengan mata melebar, "Rukia, Rumei, bibi ... Dimana mereka?."

__ADS_1


"Yumei oh Yumei, sudah bersediakah kamu bangun putri kecilku?."


"Bibi, bawa aku pulang. Bawa aku kembali pada mereka."


"Ya ... kita pasti pulang, iyah."



"Aaaaaa~!."


Yumei menangis di pelukan Alette. Semua yang ada di belakang Alette hanya mampu memandang kerapuhan diri Yumei tanpa berkata apa-apa.


Ilusi tanpa ujung ini akhirnya dapat berakhir, meski hal ini bukan akhir yang sesungguhnya.



"Kakak, bukalah pintu untuk putrimu. Dia telah memahami kesalahannya."


{Alette ....}


"Kakak kedua, keponakanmu berharap untuk kembali."


{Maaf merepotkanmu, Alette}


"Aku juga bibinya, kalian berdua telah mencoba hal yang tersulit untuk di pecahkan, aku hanya melengkapi puzzle yang kalian bangun."



Alette berpaling dan mengulurkan ke arah Yumei, "Saat kamu kembali nanti, jangan menyalahkan diri, okey? Kami semua punya tugas masing-masing. Begitu juga dirimu, Yumei."


Beberapa waktu kemudian ....


Mansion.


"Sudah berapa lama, aku masih tidak paham. Mengingat wajah sedih Rukia, melihat tangis Rumei, bibi Alette ... Ini masih mimpi atau nyata?."


{Yumei ... Hiduplah untuk dirimu.}

__ADS_1


__ADS_2