Hidup Untuk Kamu

Hidup Untuk Kamu
Ch. 132


__ADS_3

"Apa ini semuanya?" tanya Yumei


'Tidak'


Sebuah suara yang dia kenali terdengar di sampingnya.


"Mama ...." Yumei berbalik dan ingin berlari memeluknya tapi dia menembusnya. "Mama!."


'Hehehe, apa yang membuatmu terburu-buru.'



"Mama ... Mama ...."


"Kamu terbawa ilusi, Yumei." bayangan menahan diri Yumei.


"Anakku, bangunlah." harimau hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah Yumei.


'Hey, sebagai anakku ... Janganlah lemah ....'


Bayangan Maelys pun berbalik dan banyangan ingatan baru berputar....


Dalam memori itu, Wangyao adalah seorang iblis dan ibunya seorang pendeta. Sekali lagi tragedi terjadi.


Penduduk negeri itu menahan Maelys hanya untuk memaksa Wangyao berlutut menyerah. Yumei melihat bayangan sosok bibinya, Alette dibelakang Maelys, melepas ikatannya.


"Jangan datang! Jangan!."


"Maelys, menjauhlah!."


"Ini jebakan Wangyao, pergilah!." teriak Maelys putus asa. "Menjauh dan pergilah Wangyao."


Suara tawa dan seruan penduduk makin meninggi saat melihat Wangyao yang melesat ke arah Maelys.


"Berikan tombak itu dan siapkan panah iblis."


"Ya, Yang mulia."


Raja lalu memantrai tombak yang dipegangnya dan bersiap melemparkannya. Maelys yang merasakan pusaran energy bergetar, dengan sisa energy yang dia punya, Maelys melesat ke pelukan Wangyao.


Melihat kegelisahan Maelys, Wangyao merasa ada yang tidak beres.


"Wangyao! Ah ...."


Jlebb!


"Wanita bodoh, kalau tidak ada kamu, apa arti hidupku."

__ADS_1



"Hehe, Wangyao, bagiku juga sama...."


Keduanya tersenyum dan membiarkan darah mereka mengalir hingga akhir.


'Untukku, ayahmu sangat berharga, putriku. Kamu dan kakakmu juga berharga. Jangan mencari kami ... Hiduplah untuk diri dan pasanganmu.'


"Mama ...."



'Hadiah terakhir yang bisa ibumu ini berikan'


Maelys menggunakan kertas mantra yang dia simpan dalam kenangan itu.


'Kembalilah, sebelum penyesalan mencarimu.'


"Mama!"


Maelys melihat ke arah bayangan dan harimau lalu pada naga yang menyatu pada Yumei.


'Kalian berdua sudah bekerja terlalu keras, bukankah sudah waktunya tidur?'


"Tidak masalah buatku, asal bersamamu."


'Naga kecil, jaga putriku dan keluarganya.'


"Madam, jangan khawatir. Aku akan bersamanya."


'Terima kasih.'


Yumei kembali ke medan perang, ketika kesadaran mulai fokus, dia melihat Rukia terluka.


"Yang Mulia Pangeran!."


"Tidak apa, aku masih bisa bertarung."



"Rukia!." Yumei segera berlari ke arah Rukia dan meraih tubuhnya yang lemah.


"Yumei, kamu sudah kembali?."


"Jangan bicara dulu, pulihkan diri kamu."


"Tidak akan mati, aku belum memenuhi tugasku sebagai suami dan ayah."

__ADS_1


"Banyak bicara, pulihkan dulu." Yumei merasa kesal dengan ucapan Rukia. "Jika ingin menebus, hiduplah. Aku hanya punya kamu dan putri kita."


Air bening menetes dari sudut mata Yumei.


"Apa maksudmu?."


"Bibi dan keluarganya akan membantu kita berperang, sedangkan mama ...."


Rukia mengenggam erat tangan Yumei, "Aku disini. Aku bersamamu, jangan menangis."


"Ya."


Memeluk tubuh Rukia dan menghunuskan pedang ke musuh, Yumei menguatkan diri untuk bertarung.


"Kedamaian di dapatkan dari perjuangan, tanpa itu ... Hanyalah ilusi."



"Seluruh penghuni benua ini membayar mahal untuk sebuah cahaya kedamaian."


Lingkaran sihir terbentuk di hadapannya, air mata Yumei sudah tidak tertahankan dan menetes, tapi wajah Yumei menjadi beku.


Emosinya sangat menakutkan.



Kiaaaaaakkk——


Suara phoenix melengking menyebar ke seluruh pelosok.


"Tidurlah, wahai jiwa - jiwa penuh ketidakberdayaan. Lahirlah kembali dikehidupan selanjutnya dan raih kebahagiaan."



"Yumei."


Yumei menggelengkan kepala dan tidak menjawab Rukia.


"Aku sangat takut."


"Apa—."


"Mengapa aaku sangat lemah, Rukia. Aku takut pada kematian tapi aku sangat takut kehilangan kalian."


Rukia memeluknya, membiarkan air mata dan isak tangisnya memenuhi kekosongan dalam keheningan akhir dari perang.


Penduduk yang selamat hanya bisa terduduk dan menangis.

__ADS_1


Ada yang tertawa hingga menangis, merasa hidup penuh arti....


__ADS_2