Hidup Untuk Kamu

Hidup Untuk Kamu
Ch. 87


__ADS_3

Rukia diam-diam mengikuti langkah Yumei menuju kamar istirahat Alviss.


Dengan langkah pelan Yumei berjalan menuju kamar itu dan masuk menemui kakaknya.


Di tempat tidur, Alviss seakan terlelap dalam tidur abadi.



"Kakak."


"Kapan kamu akan bangun?."


"Ayolah bangun, seseorang selalu berkata bahwa dia akan menjelajah dunia lain satu per satu, kan."


"Kakak juga berkata, manusia yang tidak ingin kekuasaan dan kekuatan sangat langka."


"Akan tetapi, entah kenapa, aku sudah terbiasa ...."


"Kakak, aku sangat membenci perpisahan...."


"Awalnya aku tidak menganggap negeri ini sebagai tanah kelahiran. Sama seperti aku tidak percaya ayah adalah ayah kandungku."


"Jadi sebenarnya, aku tidak punya penyesalan saat itu."


"Kekuatan yang dapat memanipulasi makhluk sangat di cari para ahli sihir. Meski begitu, aku hanya akan menggunakannya sekali seumur hidup."


"Meski itu artinya aku harus pergi dari sini selamanya."


Secepat mungkin....


Tapi ada satu hal yang tidak bisa aku tinggalkan.


"Mengapa semua jadi seperti ini, kakak."


"Ini sangat tidak normal."

__ADS_1


Yumei duduk memeluk lututnya di bawah tempat tidur Alviss.



"Menjadi penerus, itu sangat cocok untuk kamu kakak, bukan aku."


"Jika bukan karena aku, Jika bukan karena aku ada disini. Kamu tidak akan berada dalam kondisi ini."



Yumei tahu kenyataan ini dengan sangat baik. Tahu apa yang harus dia lakukan tapi meski begitu, dia masih tidak dapat meninggalkan tempat ini.


Karena tidak boleh mati disini sekarang!


Jika kamu mati disini, bagaimana aku bisa ....


"Apa yang akan kamu katakan padaku, kak?."


"Bagunlah ...."



"Kakak pernah berkata bahwa kita tidak ada hubungan satu sama lain dan memiliki takdir yang berbeda."


"Hanya satu yang menghubungkan kita adalah darah ayah dan ibu."


"Dulu kakak pernah berkata bahwa itu adalah kesalahan membuat kakak menyelamatkan aku."


Tidak akan seperti itu.


Aku tahu.


Dengan kondisi seperti ini, kakak tidak akan pernah bangun.


Semua yang bisa aku lakukan hanyalah seperti sekarang ... menemani dirinya di tempat tidur dan tetap berharap suatu saat dia akan bangun.

__ADS_1


Hanya itu.


"Mungkin sekarang aku tidak dapat melakukan apapun bahka hingga aku mati."


[Kamu menangis lagi bayi kecil]


"Apakah itu sangat terlihat?."


[Ya, matamu bengkak]


"Awalnya, saat bertemu papa dan mama. Aku mengira kami akhirnya bersama selamanya ketika kakak datang."


"Aku mengira, semua akan berkumpul lagi."


"Kakak, sepertinya aku harus mengambil keputusan yang sama. Seperti dimasa lalu, atau masa kini. Yang aku tahu, hanyalah mencari kalian satu per satu."


"Kakak, jika ada kesempatan sekali saja. Mari kita bertemu satu sama lain sekali lagi, kakak."



Karena ini adalah kebohonganku saat berkata aku tidak menyesal.


Jadi mari kita bertemu, berpelukan dan bercerita tentang perjuangan dan derita yang kita lalui untuk satu sama lain.



"Aku percaya kamu akan kembali sadar, kakak."



Yumei menatapnya dan tidak berani bergerak.


Yumei ingin Alviss mendengarkan suaranya, dia hanya bisa merentangkan tangannya yang gemetar dan meletakkannya dengan ringan pada sepasang tangan putihnya. 


Yumei terus meyakinkan dirinya sendiri untuk tidak percaya sepatah kata pun dari kata-kata bayangan saat itu. Tapi kata-kata itu tidak bisa dihilangkan, setiap kata seperti burung pemakan bangkai yang mengingini mayat, berputar-putar dalam bayang-bayang dan berlama-lama.

__ADS_1


Yumei bangkit lalu pergi dengan putus asa, berjalan di koridor yang gelap, dan akhirnya sampai di ruang tamu kamarnya dan duduk di sana.


Sepanjang jalan, ide yang sangat kecil dan sangat beruntung tumbuh di hatinya.


__ADS_2