
aku. azkia nurfadillah, aku bukan aib uang harus di sebunyi kan. mereka juga bukan ahli surga yang maha suci sehingga berhak untuk tak menganggap dan menghinaku.
"hei se**n, jangan tempati tempat ini.. ini tempat aku dan aulia" ku rasakan rambut dan mukenah yang ku pakai di tarik oleh seseorang yang suaranya sangat aku kenal. kegiatan shalat sunah sebelum shalat isya ku pun terhenti oleh jambakannya.. ku balikkan badan agar aku bisa melihat wajahnya.
"maaf. tadi aku baru datang dan ku lihat shaf d sni kosong. jadi aku beniat shalat di sini" ucap ku seperti tak mngenalinya.
"dasar manusia tak punya malu, seenaknya saja mau menempati tempat orang" sontak setiap mata para jama'ah yang begitu ramai untuk menunaikan shalat isya dan tarawih di mesjid itu tertuju pada kami.. ku tinggalkan tempat itu dan mencari shaf yang masih kosong. tanpa sengaja aku menempati shaf bersisian dengan teman ku yang bernama utari..
"gila betul ya si heni. main jambak kau yang lagi shalat saja. ini kan mesjid bukan rumah orang tua kalian. siapapun boleh shalat disetiap tempat di mesjid ini. tuh liat, dia memperlakukan si aulia seperti adik kandungnya" ucap utari sambil melirik ke arah heni dan adik pacarnya itu..
"sudah lah ri, yuk shalat.. itu imam sudah memulai shalat isyanya.."
__ADS_1
********
seperti biasa setelah shalat tarawih selesai aku tadarus dulu sebentar sebelum pulang. sesampai di rumah aku lansung di hujani pertanyaan oleh kakak laki laki ku..
"kok baru pulang jam sekarang ??" cercanya melihatku memasuki pintu rumah..
"ini kan masih seperti biasanya aku pulang dari tarawih bang. tadi aku tadarus sebentar baru pulang kerumah"
"ga tau bang. mungkin dia masih ada urusan di luar"
"loh. kayak mana kamu bisa ga tau. kalian kan sama sama kemesjid ?" aku tak menjawab pertanyaan kakak laki laki ku itu.. kami terdiam beberapa waktu.. aku memutus kan untuk masuk ke kamar..
__ADS_1
kulepas mukenah yang ku pakai. ketika melihat kebagian kepala terdapat cukup banyak rambut ku yang menempel di sana.
'pantas saja kepalaku sangat denyut di bagian yang di jambaknya tadi. ternyata segini banyak rambutku yang ikut di cabut paksa olehnya' ucap ku membatin..
*****
ku dengar suara gaduh di ruang depan yang mengganggu tidur ku. aku sudah tak heran atau pun bertanya itu siapa atau itu ulah siapa. karena di rumah ini pasti si heni lah yang bisa menciptakan kegaduhan. aku tak berniat untuk keluar dari kamar untuk melihat mereka. aku berniat untuk melanjutkn tidur ku. tapi seketika mataku membulat ketika si heni menyebut namaku. gegas aku turun dari tempat tidur untuk melihat mereka di ruang depan.
"dasar buruk rupa kau, ga senang kau sama aku jangan kau fitnah aku di rumah ini" hujatan si heni ketika melihat ku ke arah mereka. kulihat sudut bibir dan hidungnya mengeluarkan sedikit darah. dia pasti di hajar oleh kakak laki laķi ku.
"fitnah apa maksud kau hen ?? bagus dikit lah kau ngomong"
__ADS_1
"huhhh dasar manusia terkutuk kau, mati saja kau" ketika dia hendak menerkam ku, dengan sigap kakak laki laki ku menangkap tubuhnya dan membantingnya kesembarang arah. untung saja badannya mendarat di sudut kursi sofa di ruang depan. dia bangkit dan mulai melawan mengeluarkan sumpah serapahnya untuk aku dan kakak laki laki ku. begitu lah dia, yang tak pernah mau kalah. apalagi dalam urusan bicara. kita masih berkata satu kata dia sudah bisa seribu kata membalasnya.