Hinaan Dari Keluargaku

Hinaan Dari Keluargaku
menyalahkan.


__ADS_3

ketika kami memasuki rumah. tampak heni menangis segugukan dan terlihat emak dan ayah ku sedang menenangkannya.


"diaa... dia sudah menuduh alman yang bukan-bukan. sehingga alman memutuskan hubungan dengan ku." hardiknya terus menunjuk ke wajah ku. aku membola kan mata. karena terang sekali dia menyalahkan ku.


"sudah lah jangan berteriak begitu. malu di dengar orang.. dan kami kia, jangan selalu merusuhi hubungan kakak mu dengan laki-laki pilihannya" ucap ibu yang terus berusaha menenangkannya dan juga mengingatkan ku.


"tapi aku tak lakukan apa-apa mak.." aku menundukkan wajah.


"kau.. !! kau pergi seharian guna mencari ide untuk memfitnah alman kan ? dasar wanita ******. harusnya kalau kau suka pada alman kau katakan terus terang... jangan memfitnahnya yang bukan-bukan..!!" aku makin tak hanis pikir dengan ucapan heni, mengapa dia terlalu mengagungkan laki-laki yang menjadi pacarnya. aku geram, rasanya aku ingin menonjok wajah heni. tapi aku tak mungkin melakukan itu. aku hanya bisa mengepalkan tangan dengan kuat.


caaaassss...


terdengar suara tamparan, ternyata bang candra yang menampar wajah heni.


"hentikan kegilaan mu heni..alman itu sangat berbahaya !!" ucap bang candra dengan marah.


"ckkk.. berbahaya karena tuduhan itu keluar dari mulut kia dan kalian mempercayainya" sinis heni yang menatapku tajam sambil memegang pipinya yang memerah panas.


bughhh..


lagi heni mendapat pukulan.

__ADS_1


"jadi manusia itu jangan sampai menutup mata hati hanya karena kau iri." heni terus mendapatkan pukulan. entah apa yang dia pikirkan. walau ia mendengar semua apa yang di ucapkan oleh kedua saudara laki-laki ku itu. tapi ia seperti menutup mata dan pendengarannya untuk mengetahui yang sebenarnya. sementara ayah dan emak yang mendengarkan cerita dari bang candra tampak bergidik ngeri dan setelahnya mereka meninggalkan heni sendirian. aku pun gegas masuk ke kamar ku, membersihkan diri setelah itu aku merebahkan tubuhku yang terasa sangat lelah.


tapi belum lama aku tertidur, aku merasakan ada seseatu yang dingin tengah menyentuh permukaaan kulit lengan ku. karena rasa kantuk yamg sangat amat berat membuat ku enggan membuka mata apa lagi bergerak. ku rasakan lagi benda itu seperti bergerak, kini ia gerak menuju kaki ku. tiba-tiba saja aku ketakutan. dengan secepat kilat aku menggelindingkan tubuhku hingga jatuh dari tempat tidur ku setelahnya aku lansung menekan saklar lampu yang terdapat di sebelah lemari pakaian ku. mata ku terbelalak kala melihat apa yang kini tengah bertengger gagah di atas tempat tidurku. seketika pori-pori kulit ku serasa melebar dan seluruh bulu di tubuhku menggidik. aku harus bisa berlari lebih kencang membuka pintu dan keluar dari sini. ku atur nafas agar lebih tenang, karena jika aku tidak tenang dan membuat pergerakan yang dapat terbaca oleh sesuatu yang tengah menatap ku lekat dari atas tempat tidur. bisa-bisa aku menyandang gelar terakhir dari hidup ku ya itu 'almarhumah' tak ada yang nisa ku gerakan kecuali bola mata ku. sebentar kulirik benda itu dan sebentarnya lagi aku melirik pintu yang berada satu setengah meter dari ku. setelah lama ku pantau akhirnya benda itu mengalihkan pandangannya dari ku, gegas aku memutar kunci dan membuka pintu.. aku berhasil lari dari kamar. dengan masih terengah aku mencari keberadaan sesuatu yang bisa ku pergunakan untuk mengusir ataupun membunuh sesuatu yang mengerikan di kamar ku.


ketika aku ingin membuka pintu belakang bang teta juga keluar dari kamarnya.


"mau ke mana kamu kia. ini masih pukul 02.00" ucapnya, aku kembali mengatur nafas ku yang terengah. agar bisa mengucapkan kata-kata yang jelas di pendengaran bang teta.


"a-akku mau cari bambu bang. di kamar ku ada king kobra. aku hampir saja di gigitnya" jawab ku dengan masih terengah.


"king kobra ?" ucap bang teta nyaring. aku hanya menganggukkan kepala.


setelah mendapatkan bambu yang kami rasa bisa untuk di jadikan alat untuk mukul ular yang bisanya sangat mematikan itu kami gegas memasuki kamar ku. pintu sengaja kami biar kan tetap terbuka. hanya untuk berjaga-jaga. apabila tak memungkinkan untuk mengusir atau membunuhnya, maka kami bisa dengan mudah lari dari kamar ini. kami tak melihat ular itu di atas tempat tidur ku lagi. menggunakan lirikan matanya, bang teta memberi isyarat pada ku agar kami terus mencari dan hati-hati. aku pun menganggukkan kepala. dengan cermat kami memindai setiap sudut kamar, tapi tak juga kami temui. di atas tempat tidur sudah tak ada lagi yang berada di tempatnya. bed cover, sprei, guling dan bantal sudah melayang entah ke mana karena kami melemparnya sembarangan saat mencari keberadaan ular itu.


"yakin bang. tadi dia di situ" aku menunjuk tempat tidur.


"hati-hati.. kita lihat di kamar mandi mu.." kami pun melangkah pelan membuka pintu kamar mandi. benar saja, dia berada di kamar mandi. dengan gesit bang teta melayangkan bambu itu ke kepala ular yang sudah berdiri dan melebar seperti sendok besar. sepertinya ia siap menyemburkan bisanya.


pak..


puk..

__ADS_1


pak...


puk...


suara pukulan bambu yang mengenai ular itu. tapi tetap tak membuatnya lemah.


"kamu tunggu di luar kia. ruang gerak ku jadi terbatas kalau kamu di sini. ruangannya sempit." perintah bang teta. aku pun lansung mengikuti arahannya. terdengar lagi suara pukulan demi pukulan yang tak henti-hentinya di layangkan bang teta. hingga suara pukulan sudah mulai terdengar jarang. aku kembali melihat bagai mana dan apa yang terjadi di kamar mandi ku.


aku mengembuskan nafas lega. saat ku lihat bang teta baik-baik saja dengan sebatang bambu di tangannya. nafasnya terengah.


sementara si ular kepalanya sudah hancur. namun tubuhnya masih meliuk-liuk.


"dia sudah tak tidak bisa apa-apa. satu-satunya yang menjadi andalan umtuk menyerang lawan adalah bagian kepala..tapi kepalanya sudah hancur. dia tak akan berbahaya lagi." bang teta menyenderkan tubuhnya di dinding kamar mandi.


"haa ularrr !!!" teriak emak ku, sementara ayah terlihat kaget dengan ular yang sudah setengah mati di kamar mandi.


"jangan takut mak, dia sudah setengah mati mak.. jadi dia tak akan bisa menyerang lagi." ucap bang teta. kali ini sedikit lebih tenang.


"syukur lah sudah kalian atasi. sekarang ambilkan goni. dia harus di buang jauh dari rumah kita." ayah memerintahkan ku. dan aku pun bergegas mengambilkan goni.


setelah membuang ular yang entah akan mati atau akan tetap hidup itu bang teta kembali masuk kerumah.

__ADS_1


"dari mana ular itu bisa masuk ke kamar mu ?" tanya bang teta.


__ADS_2