Hinaan Dari Keluargaku

Hinaan Dari Keluargaku
13. tanpa judul


__ADS_3

kring kring kring..


suara dering di hp ku membuat ku menghentikan aktifitas ku yang sedang membersih kan rumah. terlihat nama gusti layar hp ku. namun ketika aku akan menggeser tombol hijau. panggilan tersebut berakhir. ada secercah kegembiraan dalam hati ku kala melihat nama gusti yang tadi menelfon ku. karena penasaran aku menelfon balik nomer gusti.


tuuutttt.. tuuuttttt.. tuttttttt.. tak ada jawaban. aku pun mencoba menelfonnya lagi. namun kembali ia tak menjawabnya. hufffttt.. ia benar- benar membuat ku bingung.


"ah, coba sekali lagi aja". gumam ku sambil menelfon nomor gusti..


tuuuutttt.. tuuuttttt..


"yaaaa" terdengar suara gusti dari seberang sana. tapi kenapa haru ketus begitu ??


"hemmmpp.. a- apa kabar gus ??"


"baikkk" lagi ia menjawab sekenanya saja. persekian menit kami hanya diam. saat ku lihat di layar hp ku terlihat panggilan ku masih terhubung. hati ku bak di remas menerima sikapnya kini terhadap ku.


"ya sudah. mungkin aku mengganggu mu. ku pikir aku masih berarti untuk mu. tapi nyatanya aku salah. ternyata aku yang ke geeran selama 3 tahun belakanga ini. maaffff !!!!" ku akhiri panggilan itu sepihak. ku lempar hp itu ke atas ranjang ku. ku buang nafas panjang. berharap beban di hati ini bisa terurai bersama helaan nafas yang ku buang.


ting..


terdengar suara nitifikasi dari aplikasi hijau.


[aku tak pantas untuk mu]~ gusti


[terserah lah. aku capek !!]~ aku


[jelas kamu merasa capek mengahadapi aku yang bodoh ini]~ gusti


[sudah lah jangan berkelit. aku tak cukup pintar untuk memahaminya. apa mau mu ??]~ aku


[aku tak mau apa- apa]~ gusti

__ADS_1


[ya sudah.. bye !!!]~ aku.


aku lansung mematikan paket data hp ku. percuma saja meladeni gusti saat ini. kini ia terlalu kekanakan, yang membuat aku tak mengerti, entah apa alasannya bersikap demikian terhadap ku. 6 hari ia tanpa kabar dan mengabaikan telfon dan chat ku. bukannya membaik malah bersikap bagai orang asing bagi ku.


☆☆☆☆


malam ini kami berkumpul di ruang tv. di sana ayah mengutarakan keinginannya untuk melanjut kan pendidikan ku ke jenjang universitas. tentu aku sangat senang. bahkan aku tak menolak ketika ayah mengatakan aku akan kuliah di kota yang sama dengan heni. ini ia lakukan agar aku dan heni bisa saling menjaga saat berada jauh dari rumah. tak ada alasan juga untuk ku menolak.


gusti ?? tidak.. ia tak lagi jadi prioritas ku. dulu memang aku bertekat untuk kuliah di kota ini saja. karena gusti juga kuliah di sini. dalam bayangan ku masa- masa manis kala masih di SMA ini kan tetap kami jalani di tingkat universitas. tapi nyatanya tidak semanis itu. gusti telah menunjukkan siapa aku baginya.


ting..


ku lirik sekilas hp yang dari tadi betah berada dalam kantong piyama yang ku gunakan,melihat siapa yang mengirim pesan yang barusan masuk hati ku ngeloyos malas. kembali ku masuk kan hp ku ke dalam kantong.


ting..


lagi- lagi notif dari aplikasi biru itu berbunyi. kali ini aku tak menanggapi, sebab aku tau. pasti dia lagi yang mengirim pesan pada ku. persekian menit aku terus mengaabaikannya. berbicara tentang rencana masa depan ku ternyata sangat menyenangkan. di sini aku jadi tau ternyata ayah sangat memiliki harapan yang tinggi terhadap ku.


"assalamualaikum"


deghhh..


aku sangat kenal dengan pemilik suara yang mengucapkan salam itu. benar saja, kondisi pintu depan yang tak di tutup membuat si pemilik suara lansung masuk. melihat keberadaan kami ia lansung berbagi senyum dan menyalami takzim ayah dan emak ku.


"sudah lama ga kelihatan gus" ucap emak ku berbasa basi.


"iya mak, sedang bingung menentukan mau kuliah di mana. jadi aku fokus mencari universitas yang terbaik" jawabnya sambil menghenyakkan tubuhnya duduk bersisian dengan ayah.


"jadi sudah di putuskan mau kuliah di mana ??" kali ini ayah yang bersuara.


"sudah ya"

__ADS_1


"di mana"


"di kota ini juga yah, aku gak bisa ninggali ibu ku jauh- jauh. sebab ibu tak ada yang menemani. semua saudara ku sudah beruma tangga. jadi ibu sendirian"


"oooo.. kalau si kia sudah di putuskan akan kuliah di kota yang sama dengan heni. cuma beda fakultas saja. heni fakultas kedokteran. sementara kia ia lebih memilih fakultas keguruan". tanpa di tanya ayah menjelaskan pada gusti. wajah gusti lansung terlihat masam. tak ada yang salah dari ucapan ayah ku, mungkin suasana hati gusti saja yang sedang melankolis. ia menatap sendu ke arah ku. dapat ku tangkap dari tatapannya. ia mungkin keberatan jika aku kuliah di kota yang berbeda dengannya. tapi apa urusannya ?? dia kan bukan siapa- siapa ku.


ayah dan emak pamit untuk ke kamar. katanya mereka sudah mengantuk dan aku mengajak gusti duduk di teras rumah saja. aku takut jika kami di dalam sini. orang- orang akan berfikiran yang jorok tentang kami.


"apa benar yang di katakan ayah ??" ia lansung mencerca ku ketika kami sampai di teras rumah.


"tentang ??"


"keputusan mu yang akan kuliah di kota yang sama dengan kakak mu"


"hu'um.. aku sendiri yang menginginkannya". ucap ku sambil menghenyak kan tubuh untuk duduk di sofa sebelahnya.


"aku mohon pikirkan lagi tentang keputusan mu itu yank"


"haahhh ??" aku kaget ketika ia kembali menyematkan kata 'yank' dalam memaggil nama ku. "maaf, keputusan ku sudah bulat. tak ada yang bisa mengganggunya lagi !!"


"tapiiii...."


"kamu terlalu labil gus, tanpa aku tau di mana salah ku kamu bersikap menjauhi ku. dan... kamu pikir isi pesan mu tadi siang bisa di terima baik di hati ku ?? sakit gus. aku muak dengan sikap mu. lalu mau apa lagi kamu ke sini ??" belum sempat ia menyelesaikan kata- katanya aku lansung memotongnya. sebab ia harus tau yang aku rasakan saat ini.


"m- maaf" jawabnya singkat.


"ha ha ahh.. lucu ya. ternyata kamu punya kepribadian yang sulit ku tebak. ternyata 3 tahun dengan mu tak membuat ku sepenuhnya mengenal mu. ke mana sikap angkuh mu tadi siang gus ?? ke mana ucapan mu yang mengatakan bahwa kamu tak layak untuk ku ?? pulang lah gus, aku tak ingin berdebat dengan mu" aku tertawa melihat sikapnya. tapi yakin lah, sebenarnya aku sangat sedih saat ini.


"kiaaa.. aku mohon maaf kan aku. aku tau aku salah. aku demikian karena merasa tak sepadan dengan mu. sebagai laki- laki aku merasa malu kamu kalah kan dalam tingkat prestasi. sebelumnya selalu aku yang jadi ranking 1 umum dan kamu yang ranking 2 umum. namun kali ini posisinya kebalik. aku merasa minder kiaaa"


degghhh..

__ADS_1


__ADS_2