
kita isi bahan bakar dulu ya. mumpung lagi ada yang jual. takutnya nanti kita kehabisa bahan bakar. sementara dari sini menuju jalan utama masih jauh ucap andri seolah memberitahukan pada ku dan kiki.
"dari mana nak ?" tanya sang penjual bensin pada andri.
"itu pak, saya nggak tau tadi itu nama daerahnya. tapi yang jelas dari sini menempuh hampir tiga jam perjalanan"
"ooo.. apa ada saudara mu di sana ?" tanya sang penjual lagi.
"oh tidak pak. tadi kami hanya ingin memastikan sesuatu sama penghuni rumah yang di perkebunan karet"
"hahhh ?? jadi kalian jumpa dengan mereka ?" dari suara sang penjual terdengar kalau ia sedikit kaget. aku yang tadi duduk sambil bersender di sandaran jok yang ku duduki kini mengganti posisi duduk tegap agar bisa mendengar lebih jelas percakapan mereka.
"jumpa pak. tapi tak sempat duduk di rumah mereka" terang andri padanya.
" mereka memang sangat tertutup. ketika suaminya meninggal pun tak banyak yang melayat. mereka mengusir orang-orang yang datang ingin melayat. terkesan ada yang di tutupi"
"benarkah ?" andri menautkan alis matanya.
"iya nak.. ada juga yang bilang. mereka itu pelarian dari aceh. mereka di buru karena terlibat dalam pemberontakan yang dulu sangat meresahkan. bahkan mereka selalu membunuh dengan sadis." tak terdengar lagi pembicaraan di antara mereka. setelah selesai membayar andri pun kembali melajukan mobilnya.
__ADS_1
"kamu tak lapar kia ?? kalau kamu lapar kita bisa cari tempat makan untuk mengisi perut" aku tak menjawab, karena aku sekarang benar-benar kepikiran dengan ayah dan emak ku yang kini satu rumah dengan pelaku kriminal itu.
"kia.. kia.." aku terkesiap saat mendapatkan andri menyentuh tangan ku.
"fokus ke jalan aja an.."
"kamu melamun ya ? ada yang kamu pikirkan ?" kali ini wajah andri menatap jalanan di depannya.
"aku kepikiran ayah dan emak ku an. bisa saja sekarang mereka dalam bahaya. alman.. sudah berani membawa mobil ayah ku ke tempat tadi dan melakukan aksi pembunuhan. aku.. aku.. takut ayah ku mendapatkan masalah" tangan ku sedikit bergetar. aku benar-benar di landa ketakutan.
"sabar ya.. ku usahakan secepat mungkin akan tiba di rumah mu" andri mulai melaju kan mobilnya di atas rata-rata. walau mobil berjalan kencang tapi sedikit pun kiki tak terbangun dari tidurnya. 'dasar kebo'.
ceklek...
aku kaget saat bang teta dan bang candra yang membukakan pintu untuk ku.
"dari mana saja kalian ? apa pantas perempuan baik-baik pulang jam segini ?" bang teta memasang wajah garang padaku.
"ma.."
__ADS_1
"maaf bang. tadi kami bertiga pergi mencari kebenaran" ujar ku. sengaja aku tak membiarkan andri berbicara. sebab aku takut ia menjadi bahan amukan kedua saudara laki-laki ku.
"kebenaran apa yang kalian inginkan ha ?" kali ini bang candra yang bersuara sambil menyipitkan matanya ke arah ku.
aku tak ingin salah bicara, sebab aku tau. mereka begini karena ingin menjagaku. berkali-kali aku minta maaf dan setelah ku lihat wajah mereka tak segarang waktu pertama kali membukakan pintu tadi. aku mengajak mereka duduk di di teras rumah. aku pun menceritakan semua yang aku tau dan aku lalui hari ini. kedua saudara laki-laki ku manggut-manggut saat mendengar cerita ku.
"dia sudah pergi.. tadi sore dia meminjam uang sebesar lima belas juta pada ayah. dia bilang bapaknya meninggal. ia butuh uang cash untuk tiket pesawat dan biaya pemakaman bapaknya. di kerenakan setibanya di sana dia pasti sibuk mengurus semua keperluan dan sudah pasti belum bisa mendatangi bank guna mengurus kartu anjungan tunainya yang tertelan mesin ATM." aku membeliakkan mata saat mendengarkan bang candra bercerita.
"serius bang kalau dia sudah pergi?" ucap ku tak percaya.
"yaa.. hape kami juga hilang semua. sebab itu kami tak bisa menghubungi mu"
"hi-hilang bang ? kenapa bisa hilang?" ucap ku kian terkejut.
"tak tau.. yang pasti terakhir kami memegang hape di kamar masing-masing" sambung bang teta.
"maaf bang.. bukan saya lancang. apa mungkin pelakunya alman ?" ucapan andri ada benarnya juga. tak pernah kami kehilangan barang di rumah ini. "karena kehilangannya bertepatan perginya alman dari rumah ini. aku yakin ia lah pelakunya !" Andri memberi penjelasan yang memperkuat asumsinya. sementara kiki hanya menjadi pendengar. katena dia memang tak berani banyak bicara di hadapan kedua saudara laki-laki ku ini.
"bisa jadi... aku takut ayah akan mendapat masalah karena mobilnya di pakai alman waktu itu untuk melarikan diri sehabis membunuh saudaranya sendiri." bang teta berkata geram. terlihat rahangnya mengeras.
__ADS_1
"kurang ajar sekali dia.. dia sudah menipu kita semua" sambung bang candra tak kalah geramnya. tak sengaja aku melihat gordyn jendela bergerak seakan-akan baru saja di singkap oleh seseorang. aku tau, heni tadi menguping pembicaraan kami.