
"apa dia bilang berasal dari mana dan apa pekerjaannya ?"
"dia bilang dia berasal dari aceh, tapi kakaknya ada di kecamatan tetangga kita. tepatnya di desa meranti hulu rumahnya di dekat perkebunan karet paling ujung."
"baik lah.. terimakasih atas informasinya" kami pun pergi meninggalkannya. kebetulan juga andri sudah kembali berkumpul dengan ku dan kiki. kami gegas ke lokasi yang zia katakan.
perlu menempuh waktu tiga jam di perjalanan baru lah kami tiba di desa meranti hulu. ternyata desa ini sangat minim penduduknya, jalannya pun tidak ada yang di aspal, setelah setengah jam menyusuri jalan. kami baru menemui perkebunan karet. kami terus berjalan agar bisa menemukan alamat yang zia berikan. tapi perkebunan karet ini ternyata sangat panjang. ingin rasanya memutar balik, tapi kami sudah terlalu jauh hingga saat ini. dengan mengumpulkan keberanian kami bertiga tetap berjaga-jaga selama melanjutkan perjalanan. bukan tidak mungkin adanya perampok atau tindak kriminal lainnya terjadi di tempat yang lengang ini. hampir satu setengah jam kami melaju mencari ujung perkebunan ini. tapi sepertinya masih juga belum kami temukan titik akhirnya.
"gi mana nih.. kok hingga sekarang kita belum menemui ujung perkebunan karet ini ya ?" ucap ku yang mulai merasa gusar.
"kita cari saja ya kia. udah kadung juga nih." andri yang duduk di bangku kemudi seketika menoleh ke arah ku yang duduk di bangku penumpang belakang. sementara kiki duduk di sebelahnya.
"jelas dia masih mau lanjut. orang dia betah banget ngelirik kamu dari kaca spion tuh.." ucap kiki sambil memancung kan bibir menunjuk kaca spion. sementara andri berusaha menyembunyikan wajah malu-malunya.
"apaan sih ki. orang lagi serius lihat juga.." sanggah andri.
"masih nggak ngaku, tuh pipi udah kayak tomat mateng merahnya" goda kiki. andri kelihatan makin salah tingkah dan menatap lurus ke arah jalanan. sementara aku hanya tersenyum simpul melihat tingkah andri yang malu-malu.
"sepertinya itu ada rumah.." tunjuk andri ke arah rumah yang berdiri di antara pepohonan karet.
"tapi.. itu masih di dalam perkebunan karet ndri. bukan di ujung perkebunan." ujar ku yang tak yakin jika itu alamat yang zia katakan. andri tetap keluar dari mobil dan membuka pintu belakang kemudi.
"tapi apa salahnya kita coba tanya dulu. yuk turun" ucap andri sambil memberikan tangannya pada ku seolah-olah ia ingin aku menggenggam tangannya saat itu juga. aku terdiam sesaat. tapi tiba-tiba andri menggamit jari tangan ku.
"yuk ah. jangan takut, tak akan terjadi apa-apa" selanya saat aku mengikuti ajakannya untuk turun. sementara tangan ku masih ia genggam erat.
"udah ah lepas. kayak mau nyebrang aja pakek pegangan tangan. ada orang di sini hoi.. bukan dunia milik kalian berdua" pekik kiki yang membuat aku dan Andri sama-sama melepaskan tautan tangan kami. wajah kami juga mendadak gugup. apalagi jantung ku, rasanya berdetak tiga kali lebih cepat dari biasanya.
__ADS_1
tok tok tokk....
pintu rumah itu kami ketuk.. tak ada sahutan dari dalam.
tok tok tokk...
kembali pintu itu kami ketuk.
"cari siapa ?" ucap seorang anak-anak yang terdengar bukan dari dalam rumah, melainkan datang dari arah belakang kami. sontak kami bertiga membalikkan badan.
"cari yang menempati rumah ini dek" ucap andri.
"saya yang menempati rumah ini bang."
"sama siapa kamu tinggal di sini dek ?" tanya kiki padanya.
"memangnya ayah kamu ke mana ?"
"ayah sudah meninggal kak. dia di bunuh oleh adiknya sendiri, tapi kami tak bisa membuat laporan ke polisi. sebab ayah kami juga sedang dalam pencarian polisi." jelasnya sambil menangis. anak berusia 13 tahun itu sepertinya banyak tau tentang orang tuanya.
"dek.. nama kamu siapa ? kamu tenang ya. jangan nangis. sebagai laki-laki kamu harus bisa kuat" ucap andri menghiburnya.
"kalau boleh tau kenapa bisa ayah mu jadi buronan polisi dek ?" aku mencoba lagi mengorek cerita darinya.
"ayah di tuduh sebagai anggota yang memberontak di aceh kak. tapi kata ibu sebenarnya ayah tidak ikut-ikutan dalam pemberontakan itu. yang menjadi anggota pemberontakan itu." ia masih tersedu.
"kamu tau dari mana ayah mu di bunuh oleh adiknya ?"
__ADS_1
"aku lihat sendiri kak. di sini.. ya, di sini ayah di bunuh" tunjuknya tepat di depan pintu yang kini kami berada di posisi itu. buku kuduk ku bergidik mendengar ucapannya.
"waktu itu masih subuh. kami masih tidur, tiba-tiba pintu rumah kami di ketuk. ayah yang sudah bangun saat itu membukakan pintu. aku mendengar suara ayah berdebat dengannya dan waktu aku lihat ayah ku sudah roboh dengan luka tusukan yang sangat banyak di tubuhnya. aku menjerit hingga ibu ku bangun. melihat ku menjerit dia lansung melarikan diri dengan mobil dan melaju kencang.
"mo-mobil ?" ucap ku mulai takut akan kejahatan alman.
"iya kak, mobil itu berwarna abu-abu. jika aku tak salah baca. di belakangnya ada tulisan paje*o sport dan di kaca belakang ada gambar wanita berhijab.
degghhh...
"astagfirullah.." ucap ku spontan. melihat wajah ku memucat andri lansung menyentuh pundakku. ku paksakan sedikit tersenyum padanya sebagai isyarat kalau aku baik-baik saja.
"apa orangnya seperti ini ?" aku lansung merogoh benda pipih di kantong celana jeans ku. sejenak aku mencari sesuatu di layarnya dan menyodorkan ke arah anak itu.
"ya kak.. itu dia.. dia adik ayah. dia pernah benerapa kali datang ke sini, hanya sekedar bertamu dan pernah menginap juga. ayah bilang itu adiknya." ucapnya mantab.
"hendriiii !!" pekik seorang wanita yang kami bertiga tak tau dari mana datangnya. iaa sedang menggendong anak balita. dari raut wajahnya tampak kalau ia tak suka dengan keberadaan kami di sini. dia mendekat dan menarik tangan anak itu lalu membuka pintu dan kembali menyeret anak itu untuk masuk. lalu menutup pintu dengan membanting.
buarrrr....
kami bertiga terjingkat karena suara bantingan pintu itu sangat keras.
kami putuskan untuk pergi dari sana. di sepanjang perjalanan meninggalkan rumah itu mata ku selalu tertuju ke luar jendela mobil.
"kia... apa kamu baik-baik saja ?" tegur andri pada ku.
"ya.. aku baik-baik saja. aku hanya sedikit gelisah. ada orang yang sangat berbahaya di rumah ku." aku tertunduk, seketika bayangan dari setiap ucapan anak itu tadi terus saja berlalu lalang di benak ki..
__ADS_1
'ternyata dia bukan TNI seperti yang di banggakan heni' lirih batin ku.