
POV. Alman ( kekasih Heni)
tepat pukul 17.20 kaki ku sudah menginjak di tanah kelahiran Heni. ada rasa bangga yang tersemat gagah di hati ku. bagai mana tidak, dengan mudah aku bisa mendapatkan hati Heni. sebenarnya aku sangat penasaran dengan wajah kia yang Heni ceritakan. walau Heni mengatakan dia buruk rupa, tapi aku tak yakin. bagai mana mungkin Heni merasa tersaingi dengan wanita yang buruk rupa ??. untuk memastikan benar atau tidaknya aku memilih opsi ini yang tentunya di setujui oleh Heni.
setelah mendapatkan taksi, aku meminta di antaranya ke alamat yang di berikan Heni.
kini aku sudah sampai di alamat tujuan. tanpa menunggu lama aku lansung turun dari taksi dan wooowww.. ternyata benar dugaan ku. orang tua Heni adalah orang berada. terbukti dari rumah yang mereka tempati terlihat sangat mencolok di bandingkan dengan rumah- rumah yang ada di sekitarnya.
tok tok tok...
"assalamualaikum.." ku ucap kan salam untuk menarik perhatian tuan rumah.
"walaikumsalam.." jawab seorang wanita yang jika di taksir sudah berumur 50 tahun.
"Bu.. apa benar ini rumah orang tua Heni ??" aku membuka kaca mata hitam yang ku pakai saat berbicara dengan wanita tersebut.
__ADS_1
"iya.. kamu Alman ya ??"
"iya Bu.." aku mencium tangan wanita itu takzim.
"masuk nak. saya emaknya Heni. mari.. ayah dan saudara- saudara Heni kebetulan lagi di belakang" ucap emak Heni menginterupsikan agar aku mengikutinya.
sepanjang perjalanan di dalam rumah aku mengamati semua gambar- gambar yang di bingkai di dinding- dinding rumah itu. saat mata ku menangkap foto seorang gadis yang umurnya tak jauh dari Heni aku yakin kalau itu adalah foto kia. benar saja dugaan ku, kia tak buruk rupa seperti yang Heni katakan. jika di bandingkan dengan Heni, kia nampak jauh lebih cantik natural. Heni juga sangat cantik. tapi tak natural, ia sangat suka melakukan perawatan dan sedikit melakukan perombakan pada wajahnya.
"sore semuanya.." sapa ku saat tiba di tempat di mana keluarga Heni berkumpul hanya sekedar bersantai menikmati suasana sore.
"oh ya nak Alman, itu seta anak saya yang nomor satu, di sebelahnya Candra anak saya nomor dua, Heni nomor tiga, adalagi kia anak saya nomor empat dan itu Rizal anak saya nomor lima dan itu nume anak saya paling kecil" ucap ibu Heni memperkenalkan satu persatu anggota keluarga mereka. sementara ayah Heni hanya duduk dan tersenyum.
"keluarga besar ya Bu.."
"iya nak.. banyak anak kan banyak rezeky.." ibu Heni berlalu ke dalam rumah dan keluar dengan menenteng berupa wadah yang berisi makanan.
__ADS_1
"ayo di makan dulu.." ucap ayah Heni mempersilahkan ku sebagai tamunya. aku pun dengan sigap memakan nasi dengan lauk ayam kampung yang di masak bumbu kental serupa rendang. tapi masih sedikit berkuah. rasanya sangat enak. tak seberapa lama semua makanan yang ada di piring ku sudah kandas ku pindahkan ke dalam perutku semua.
"terimakasih Bu . makanan ya sangat enak" ucap ku yang memuji makanan yang tadi ku makan.
"biasa aja nak. kalau kamu capek silahkan ke kamar tamu. ibu sudah siapkan nak.."
"baiklah.. yang mana kamarnya Bu ??
"itu jalan saja kedepan. di setiap pintu terdapat foto masing- masing pemilik kamar. kamar tamu yang tak ada foto di pintunya nak" ibu heni menjelaskan padaku. tanpa menunggu di suruh lagi aku segera melangkahkan kaki mencari kamar tamu. setelah menemukan kamar yang tidak memiliki foto di pintunya aku segera membuka pintunya. namun sebelum melangkahkan kaki memasuki kamar, aku melirik pintu kamar yang bersebelahan dengan pintu kamar ini. di pintu itu melekat foto yang ku yakini adalah kia. setelahnya dengan cepat aku melangkah ke dalam kamar. aku takut jika ada seseorang yang mendapati aku sedang mengagumi foto kia.
ku rebahkan tubuh ku ke atas ranjang yang tersedia di kamar ini. lamunan ku mulai melayang- layang jauh. sampai di sini aku mulai ingin membenahi diri. di sini juga aku mungkin bisa mencari tempat untuk memulai aktifitas ku tanpa harus takut keberadaan ku di ketahui oleh kepolisian.
sebenarnya aku bukan anggota TNI. seragam yang ku kenakan ini hanya untuk mengelabuhi mangsa ku, dengan berseragam TNI ini terbukti aku dengan mudah menaklukkan wanita manapun yang aku mau. hidup sebenarnya tak pernah tenang, di mana setiap waktu aku slalu was- was akan statusku yang masih buronan kepolisian. aku adalah ex gerakan Aceh merdeka (GAM) yang dengan tanpa rasa kasihan membantai warga- warga yang tak berdosa. sebenarnya aku sudah tak tau di mana keberadaan keluarga ku. orang- orang yang ku kenal kan pada Heni sebenarnya adalah orang- orang suruhan ku untuk berpura- pura menjadi keluarga ku. melihat kondisi kampung halaman Heni membuat ku bertekat akan menetap di sini. tentunya aku akan memilih kia. sebab kia lebih menarik dan juga nampak sangat di sayangi oleh ayahnya. dengan begitu sudah tentu nantinya apapun yang di minta kia pada ayahnya akan slalu di turuti. aku pun bisa menumpang hidup darinya tanpa harus susah- susah lagi seperti ini.
'kiaaaa.. aku akan merebut hati mu'
__ADS_1