
POV Heni
"kak, sepertinya sekarang kia sudah bisa move on dari Gusti.. sia- sia Dong usaha kita" laporan orang kepercayaan ku dari telepon itu membuat ku sedikit kecewa.
"apa kamu yakin ??"
"yakin kak.. bahkan sekarang kia berhasil membuat Gusti malu di hadapan banyak orang. kia membuat Gusti konyol menghina maaf darinya. tapi kia menolak keras. dan kini kia sangat menikmati hidupnya"
"hah ?? kok bisa ?? bantu aku buat memikirkan jalan lain buat menghancurkan hati dan hidup kia" aku menggeram saat mengucapkannya. tanpa menunggu jawaban orang kepercayaan ku telepon itu aku akhiri sepihak. rasa gelisah dan muak terus saja menyeruak dalam pikiran ku.
'aku harus bisa menghancurkan kia' seru batin ku.
semua usaha ku selama ini tak boleh sia- sia. KIA harus bisa aku singkirkan dari hidup keluarga ku kapan perlu dari dunia ini kia akan ku singkirkan. aku tau Gusti adalah orang yang membuat dia bahagia walau aku dan dua adik ku terus melancarkan aksi kami. sehingga aku merusak Gusti yang awalnya hanya laki- laki lugu dan minim pengetahuan berhubungan intim menjadi orang yang tergila- gila akan kenikmatan surgawi itu. hanya sekali mengenalkannya dengan kehangatan tubuhku, ternyata dia benar- benar jadi yang aku mau. ku pikir itu akan bisa memukul mental kia dan membuat nilai semesternya hancur dan ia terpuruk dalam kesedihannya. tapi ternyata aku salah, kia tetap menyandang prestasinya dan tak bersedih sama sekali. itu adalah kabar buruk bagi ku. selama ini aku muak melihat perlakuan khusus ayah dan kedua kakak laki- laki ku terhadapnya. setiap kata- kata yang mereka ucap kan hanya kia kia dan kia.. seolah- olah aku dan kedua adik ku tak terlihat kehadirannya di sana. aku dan kedua adik ku berfikir jika kami bisa membuat kia terlihat buruk di mata mereka, maka kami akan ssedikit di hargai di sana.
"aaarrrrggggghhhhh !!"
aku berteriak karena otak ku seakan- akan buntu pada saat ini.
Ting tong..
bersamaan dengan suasana hati ku yang kacau ternyata Alman kekasih ku datang menemui ku.
"ahh syukurlah kau datang sayang.. aku benar- benar butuh tempat bercerita" aku membukakan pintu untuknya dan lansung memeluknya. ia tak menjawab, hanya alis mata sebelah kanannya saja yang mengernyit melihat ku. "kamu dari mana kok jam segini baru datang ??" timpal ku lagi sambil menyeretnya masuk ke dalam kamar ku.
"aku tadi tugas dulu sayang" ucapnya sambil mengecup kening ku.
"sumpah.. aku lagi sebel banget. rasanya aku mau makan orang aja saat ini"
"sini biar aku makan kamu. pasti kamu nggak akan sebel lagi" ucapnya sambil memulai mencumbu ku dan kami mengarungi bahtera surgawi. rasanya mendapat pemuasan dari Alman membuat ku melupakan semua masalah ku.
__ADS_1
Alman ia lah pria yang aku kenal sejak beberapa hari aku di kota ini. walau kami kenal di club malam. tapi sejauh ini ia sangat melindungi dan menyayangi ku. bahkan tak pelak ia menuruti semua kemauan ku. wajahnya yang tampan di tambah lagi ia adalah seorang anggota TNI, ini lah yang jadi nilai tambahan seorang Alman di mata ku. ia juga tak pernah segan membawa ku dalam lingkungan keluarganya. rasanya kini aku jauh lebih beruntung di banding kan kia. tapi misi ku untuk menyingkirkan kia tetap tak boleh kendor. sampai mati pun aku akan kejar dan merusak mentalnya. rasa benci ku terhadapnya sudah mendarah daging.
"kenapa masih melamun ?? apa kesal mu belum hilang hmmmm ??" alman berucap sambil menoleh hidung ku yang membuat aku tersadar dari lamunan ku. setelah bercinta tadi kami memutuskan untuk duduk di teras rumah yang kami kontrakan ini.
"eh enggak kok. tapi..." aku tak melanjutkan ucapan ku.
"tapi apa ?? ayo cerita kan pada ku. mana tau aku punya solusinya"
"solusinya nggak ada, masalah ini terlalu pelik. aku tak tau siapa yang bisa bantuin aku"
"aku bisa bantuin kamu"
"yakin.. ??" aku memandangnya dengan mengernyitkan alis mata ku.
"termasuk melenyapkan seseorang ??" ucap ku untuk memastikan
"apapun untuk kamu sayang" ia berkata enteng dan merengkuh tubuh ku kedalam pelukannya. di sini lah aku mendapatkan angin segar. bak di buai dalam rasa manis yang menggiurkan setiap yang mengecapnya. seperti itulah yang ku rasakan saat ini.
aku menceritakan semua keluh kesah ku pada Alman. ia mendengarkan dengan sabar. hanya sesekali ia memberi tanggapan. tak peduli apapun tanggapan dan pandangannya pada ku nanti yang jelas ia harus tau secara detail hal sekecil apapun tentang rasa benci ku terhadap kia.
"hhhhhmmmmm.. jadi yang ingin kamu lenyapkan itu adik mu ??" ia mulai memastikan apa yang di dengar dari Carita ku.
"tepatnya orang yang menumpang hidup di rumah orang tuaku. aku tak pernah menganggap dia adik ku"
"oke... nanti kita cari waktu yang tepat buat mulai bertindak. kita tak boleh gegabah. kalau bisa, aku ingin menjajal dan mendekatkan diri terlebih dahulu dengan keluarga mu. termasuk si kia itu"
"baik lah.. nanti aku akan atur semuanya. tapi berjanjilah untuk tidak tergoda dengan kia. sebab dia sangat pandai menggoda laki- laki. setiap pria yang dekat dengan ku pasti ujung- ujungnya jatuh cinta pada kia. itu yang membuat aku makin membencinya.."
__ADS_1
"tenang saja honey.. Alman mu ini tak akan tergoda oleh wanita manapun." ia makin mengeratkan pelukannya.
2 Minggu setelahnya aku membuat pengaturan akan kunjungan Alman kerumah ayah. bagai mana pun ayah dan emak beserta keluarga ku harus kenal dengan Alman. sebab kami berkomitmen setelah pendidikan ku selesai kami akan menikah. sebelum itu terjadi tentu aku akan menyingkirkan kia terlebih dahulu.
"halo hen.." terdengar suara ayah bersaut dari ujung telepon.
"halo yah. apa kabar ayah ??"
"Alhamdulillah baik. kamu di sana baik- baik aja kan ??"
"baik yah.. aku perlu uang tambahan yah buat praktikum"
"ya sudah. kamu perlu berapa ??"
"6 juta yah. adakan uangnya yah ??"
"insya Allah ada.."
"oh iya yah, ada yang mau kenalan dengan ayah dan keluarga kita. kalau nggak ada halangan sore ini dia sampai di rumah kita.. nama dia Alman yah.."
"kok mendadak sih ?? kan emak mu blom ada persiapan" ayah terdengar ragu.
"iya yah. nggak perlu repot- repot kok."
"ya sudah. kami mau berkemas dulu. malu kalau ada tamu sementara kami tak punya persiapan.." ayah mengakhiri telepon ku.
aku tersenyum penuh kemenangan. sudah di benak ku, ayah dan emak pasti sangat bangga pada ku yang mampu mendapatkan TNI untuk ku jadi kan suami.
__ADS_1