Hinaan Dari Keluargaku

Hinaan Dari Keluargaku
bagian 19


__ADS_3

tring..


dengan cepat ia juga membalasnya.


[maksud kamu apaan yank ??]


sudah ketahuan boroknya pun ia masih tak mengakuinya. dasar laki- laki !!! aku mengabaikan balasan pesan yang ia kirim. aku perlu mendamaikan hati ini terlebih dahulu.


'jangan sedih kiaaaaa... dia bukan yang terbaik buat mu' aku mensugesti diri sendiri.


namun nihil. sekuat apa pun aku meyakin kan diri. air mata tetap tak bisa aku bendung, hati ku jelas sedang tidak baik- baik saja.


walau di abaikan, Gusti terus menelfon ku. melihat namanya di layar hp ku rasanya aku benar- benar muak. ia yang selama ini ada di setiap kegundahan ku, pemberi semangat dan juga tempat ku menuangkan segala hiruk pikuk dunia ini. namun kini justru dia lah sumber rasa pedih di hati ini.


tring..


terdengar ada sebuah notifikasi pesan di hp ku. ternyata itu dari Gusti.


[selama hidup di kota besar kamu benar- benar berubah kia.. terus lah seperti itu, jujur saja aku muak dengan sikap mu]


hah yang benar saja. di sini aku yang mendapatkan ia yang bermasalah. tapi mengapa seolah- olah ia tak menyadarinya dan mengatakan aku lah yang bermasalah.


[nggak usah memutar balikkan fakta. kamu yang berbuat. jangan melemparkan kesalahan mu padaku] ku balas pesannya dan tak lupa juga aku kirim screenshoot foto beserta caption Meri di akun sosial medianya.


[itu kah kesetiaan mu Gus ?? itu kah yang kamu bilang adik angkat mu ?? pantas saja aku selalu menangkap rasa curiga tiap dia ada di kamar kost mu Gus.. mulai sekarang aku bukan siapa- siapa mu !!]


setelah mendapat pesan terakhir ku ia kembali menelfon ku. tak peduli jika aku tak menerima telfonnya, ia tetap bertubi- tubuh menelfon ku.


[tolong lah kia, beri aku kesempatan buat menjelaskan yang terjadi] begitu lah isi pesan yang ia kirim setelah ratusan telfonnya tak ku terima. tetap ku abaikan pesannya. mulai sekarang. aku akan belajar menghapus nama, bayangan dan kenangan Gusti di ingatan ku.


 


hari terus berjalan. tak terasa enam bulan sudah aku di kota ini. dan kini aku sudah menaiki jenjang kuliah semester 2. berat memang untuk terlihat baik- baik saja setelah mendapatkan penghianatan Gusti. tapi aku harus kuat. ada cita- cita ku yang jauh lebih penting dari rasa kelu yang selalu menggelayut di hati ini. saat ku pijakkan kembali kaki ku di tanah kampung halaman, ada rasa yang membuat ku was- was..


aku takut bertemu dengan Gusti.. aku juga takut akan luluh saat ia memohon padaku. masa liburan ini ku lalui hanya berdiam diri di rumah.


"kia.. yuk ikut emak ke pasar. emak mau belanja untuk keperluan dapur" ucap emak yang terlihat sudah rapi dan di tangannya meneteng tas anyaman yang biasa ia bawa kepasar untuk wadah barang- barang belanjaannya nanti.


"bentar ya Mak. aku mau pakek jaket dan jilbab dulu" aku bergegas mengganti pakaian ku. tak sampai 5 menit aku keluar kamar dan mendapati emak tengah duduk di kursi di depan kamar ku.


"kamu mau kepasar atau mau ke Medan perang ??" emak tampak bingung dengan pakaian yang ku pakai.


"MMM... itu Mak. cuacanya terik sekali. takut nanti kulit ku kebakar aja."

__ADS_1


"hiaaaa sejak kapan kau takut matahari. bilang aja kamu takut jumpa sama Gusti. makin hari kok makin nyeleneh aja kamu. dah lah pakai celana panjang. ********** legging lagi, baju lengan panjang, pakek jaket lagi. terus itu tuh masker kamu. nggak ada virus kok di pasar itu" emak mengomentari penampilan ku.


"dah dah dahhh... jadi nggak ni ke pasarnya ?? kalau nggak jadi biar aku masuk ke kamar lagi !!" mendengar ucapan ku emak lansung menyambar tangan ku dan kami sama- sama ke teras samping rumah di mana kami biasa memarkirkan kendaraan kami.


sesampainya di pasar aku membuntuti emak ke mana pun ia pergi. agak riweh sih.. maklum lah. namanya juga emak- emak. kalau belanja pasti nawar, kalau nggak di kasih dengan harga yang di tawar lansung pergi ke pedagang lainnya.


ketika emak tengah memilih ikan aku melihat Gusti berboncengan dengan nefiya lewat di depan ku. ada rasa kaget saat melihat dia. ia tak menatapku sama sekali. mungkin ia tak tau kalau yang bersama emak hari ini adalah aku.


"ngapai di lihatin ?? itu pacar barunya. kata emaknya si nefiya sih udah satu tahun pacaran mereka.. !!"


deeggggghhh....


tiba- tiba ocehan emak membuat ku kembali mengingat berapa lama kami tak lagi berkomunikasi. yaaaa.. ternyata selain dengan Meri, Gusti juga terlebih dahulu punya hubungan dengan nefiya.


'dasar laki- laki bangsat !!" rutuk batin ku. bukan hanya dengan wanita ingusan itu ia menghianati ku. bahkan dengan keponakan ku pun ia sanggup menikam ku. yang lebih tak masuk di akal lagi kenapa nefiya mau- mau saja menghianati aku yang dalam hubungan darah adalah bibinya karena Ima ibunya nefiya itu kakak sepupu ku.


setelah mendapatkan semua yang emak perlukan kami pun pulang kerumah. setibanya di rumah aku lansung masuk ke kamar dan membuka sosial media milik ku. walau bayangan Gusti yang tengah berboncengan dengan nefiya tadi masih mengusik pikiran ku. entah mengapa saat aku membuka sosial media yang ku cari terlebih dahulu ialah profil Gusti. dengan ringan jari ku menelusuri dinding milik profil Gusti.. tak ada yang aneh.. hanya saja ada aku wanita yang menulis sesuatu di dindingnya


'kembalilah pada ku bang. aku selalu setia menunggu Abang.. i love u....'


degggghhh....


hati ku kikuk saat melihat postingan itu di tulis pada 7 bulan yang lalu. tepat 2 hari setelah aku memutuskan hubungan dengan Gusti..


'ya Allah.. mengapa aku masih mencintainya.. ??' lirih batin ku..


"bismillah.. mulai saat ini aku tak akan mengenali mu Gusti.." ucap ku memantapkan hati. ku hapus pertemanan dengan akun Gusti, aku juga memblokir nomornya dan juga tak lupa ku hapus semua foto beserta semua yang pernah ia berikan padaku akan aku bakar. kali ini aku benar- benar akan menghapus rasa cinta ku untuknya. aku tak akan menghindari bertatap muka dengannya. sebab jika aku menghindar. di situ lah aku terlihat lemah.


 


masa liburan ku masih tersisa 7 hari lagi. aku ingin menghabiskan sisa hari liburan ku dengan penuh suka cita. menikmati pemandangan, makan- makan, dan juga berkeliling kampung halaman ku. tentunya aku tak sendiri. aku masih punya beberapa teman dekat yang tentunya siap menerima keluh kesah ku dalam hal apapun. mereka juga teman dari masa kecil dan masa sekolah dulu.


semua aktifitas ku, ku bagi kan dalam akun sosial media ku. bukan tanpa alasan, walau aku menghapus pertemanan dengan Gusti. tapi aku tak menghapus pertemanan dengan teman- temannya. ketika mereka melihat postingan ku, pasti salah satu dari mereka akan mengatakannya pada Gusti. hal itu akan lebih mempermudahkan aku untuk menunjukkan padanya kalau aku tak putus asa setelah di khianati olehnya.


malam ini aku dan teman- teman ku memutuskan untuk nongkrong di sebuah kafe . di sana kami berlima yang terdiri dari aku, Kiki, Nisa, Meilia dan Utari. karena menurut mereka suara ku saat menyanyi sangat menentram kan hati. mereka memintaku untuk menyanyi di kafe tersebut. tanpa di minta pun sebenarnya aku ingin menyalurkan bakat menyanyiku yang sudah begitu lama aku kubur.


tak lupa saat aku menyanyi aku siar kan di akun media sosialku. ada ribuan yang menonton di akun ku dan juga mendapat respon baik dari semua pengunjung kafe. tentu aku sangat senang dengan respon di dunia Maya dan juga dunia nyata saat ini.


tepat ketika aku ingin kembali bergabung dengan teman- teman ku. ada seseorang yang memanggil nama ku. tapi aku tetap acuh..


"kiaaaa.. kiaaa..." semua teman- teman ku menoleh ke arahnya. aku tak memperdulikannya. aku tetap memilih duduk dengan teman- teman ku.


"kiaa.. itu Gusti manggilin kamu tuh dari tadi" Kiki menunjuk Gusti dengan mengerucutkan bibirnya.

__ADS_1


"hu'ummm.. biarin aja. aku nggak punya waktu buat manusia seperti dia" kami pun tertawa bersama. kami lanjut bersenda gurau..


"kiaaaa.." tiba- tiba Gusti mendekat dan memegang pundak ku dari belakang.


"apaan sih ?? jauhkan tangan kamu dari tubuh ku !!" aku membuang tangannya.


"kiaaa.. aku mau bicara.."


"bicara apa hemmm ??"


"aku tak bisa bicara di sini kia... aku mohon mari ikut dengan ku. aku ingin bicara dengan mu" wajah Gusti tampak memelas.


"bicara saja di sini Gus. karena aku tak Sudi ikut dengan mu. bisa- bisa kamu mutilasi aku karena kamu kan orangnya serakah. inginkan aku dan kamu juga ingin dengan wanita lain juga. atau, nanti aku akan di labrak oleh nefiya. pacar kamu sekarang. dia pasti takut aku merebut kamu. kayak dia dulu pacaran diam- diam sama kamu.. ya kan ??" aku sengaja melontarkan kalimat- kalimat yang sebenarnya itu adalah isi hati ku yang sebenarnya.


"kiaaa.. aku tak ada hubungan apa- apa dengan nefiya. d-dia keponakan mu!!" Gusti mulai berdusta.


"oh yaaa ?? lalu untuk apa dia menulis seperti itu di dinding mu. dan juga belanja buat acara apa kalian kemarin di pasar ??" aku menatap wajah Gusti dengan tajam.


"d-dia hanya iseng.. mana mungkin dia tak menghargai mu. selain dia keponakan mu. dia kan masih sekolah kia. mana mungkin dia mau dengan ku yang sudah kuliah.." aku hanya mengernyit kan dahi mendengar ucapan dusta dari mulut Gusti..


"masih sekolah ya ?? terus apa bedanya dengan Meri ?? kecil- kecil sudah pintar bikin anak bukan ?? begitu juga tentunya dengan nefiya. sudah cukup Gus.. pergi lah.. bukti foto mu yang sedang sama- sama telanjang dalam posisi berpelukan di postingan Meri itu sudah membuktikan kalau kamu bukan Gusti yang selama ini aku kenal. jangan egois Gus. nefiya sudah setia menunggumu putus dari ku. jadi.. lupa kan aku.."


"tid- tidak kia.. aku mohon. beri aku kesempatan. tolong lah. maaf kan aku." ia meneteskan air mata.


"aku sudah memaafkan mu Gus.. sekarang pergi lah.." namun bukannya pergi. Gusti malah tetap berdiri di belakang ku sambil segugukan menangis. lama- lama aku risih jadi tatapan mata setiap pengunjung kafe dalam keadaan Gusti menangis begitu. akhirnya aku memutuskan untuk pergi tanpa sepatah katapun padanya.


sesampainya di rumah aku menghempaskan tubuh ku ke atas ranjang ku. rasanya tubuh ini sangat lelah. tapi hati ku sedikit merasa lega. aku berhasil membuat Gusti terlihat konyol. sumpah demi apapun, aku tak akan kembali padanya.


[Bu.. ibu sudah di kampung kita ya ?? aku mohon. jangan ambil Gusti dari ku]


aku menaikkan alis sebelah kanan mataku saat membaca pesan dari nomor baru. di lihat dari penuturannya aku bisa menebak kalau pemilik nomor baru itu adalah nefiya.


[tenang djeng.. aku tak pernah memungut sampah yang udah di lalerin. makan aja tu sampah] dengan sigap aku mbalas pesan itu.


[ya iya lah.. orang kamu di sana juga jual diri kan ?? makanya nggak merasa memerlukan Gusti lagi] wowwww.. sepertinya Gusti sangat berharga di mata nefiya..


[ha ha ahh.. tak apa jual diri. bisa menghasilkan uang. dari pada kamu yang geratisan !!]~ aku


[prettttttt.. Gusti bilang anu mu nggak enak.. wekkkk]~ nefiya


[ha ha ahh.. jelas lah dia bilang nggak enak. orang dia nggak pernah merasakan anu ku. bukan kayak anu mu yang dah melar selebar mulut ember]~ aku


[helleehhh.. dasar pelacur.. !!]~ nefiya

__ADS_1


[yuk mari kita sama- sama periksa ke dokter yuk. kita buktikan siapa di antara kita yang pelacur. kalau nanti terbukti anu ku belum pernah di masuki batang mana pun. aku jebloskan kamu ke hotel prodeo.. biar bisa ngik ngik sama jangkrik di sana.. ha ha ahh] aku sengaja tertawa mengejeknya. karena ia benar- benar kehabisan akal karena laki- laki bangsat itu. hingga ia tak lagi memandang pertalian darah di antara kami.


setelah ku ancam akan membawa tuduhannya ke jalur hukum nefiya tak lagi membalas pesan terakhir ku. hebat memang rayuan Gusti terhadap Meri dan nefiya. terbukti mereka tak memikirkan nama baik mereka. Meri dengan gamblang memposting fotonya yang tengah bugil berpelukan dengan Gusti di media sosial. jika ia tak hilang akal pasti ia tak akan berani demikian. terus si nefiya demi laki- laki hina itu ia tak menghargai ku yang sejak ia lahir kedunia ini adalah bibinya. matanya di tutupi kabut cinta. hingga ia buta mata hati.. beruntung aku tak memberikan kesucian ku pada Gusti. jika aku tak berkomitmen tak ada **** sebelum menikah. mungkin hingga saat ini aku akan tetap bertahan walau pun berulang kali di sakiti oleh Gusti.


__ADS_2