
kini hinaan yang aku terima tentu berkurang sejak heni melanjut kan pendidikannya di kota lain. sepertinya adik laki- laki ku jika tidak ada heni ia tak sedikit pun berani mengejek atau menghina ku. jangan tanya kalau adik perempuan ku. ada atau tidak nya heni di rumah ini ternyata tak berpengaruh baginya. hampir di setiap ada kesempatan ia melontar kan kata- kata hinaannya untuk ku.
"kau pikir suara mu itu bagus ?? hampir rusak ni gendang kuping ku dengar suara mu yang cempreng. memalukan !!" nume dengan santai menggelontor kan ucapannya seolah- olah kata- katany itu biasa saja baginya.
"ohh yaaaaaa ?? trus saya pikirì gituuh ??" aku pun membalas dengan ucapannya dengan mempermain kan emosinya.
"nggak ada otak ya gitu. ku kerok nanti tu tenggorokan mu supaya kau tak pede lagi nyanyi di acara hajatan orang !!"
"ha haahh.. emosi bu ?? slow down dong.. nah nah nahhhh silah kan kalau kau berani" aku menantang nya agar ia buktikan ucapannya. tapi ia hanya mengepalkan tangannya dengan kuat dan berlalu pergi. aku yang melihatnya begitu hanya bisa mencicit kecil sambi menggeleng- geleng kan kepala. betapa aku heran dengan usianya yang masih tergolong anak- anak bagai mana bisa ia punya kelakuan demikian. padahal tak ada yang salah dari didikan emak dan ayah kami. semua orang suka dengan suara ku ketika menyanyi. hanya dia yang merasa terganggu. suara ku atau kupingnya yang bermasalah !!.
sejak aku menduduki kelas 1 SMA aku sudah memiki pacar yang hingga sekarang aku sudah kelas 3 hubungan kami baik- baik saja. sebelum kejadian aku tertuduh menggoda hanan pacar ku tak pernah datang ke rumah. kami hanya bertemu di sekolah. itu pun karena kami satu kelas dan duduk bersisian. gaya pacaran kami masih yang sewajarnya. kami tak pernah berduaan atau ngedate seperti orang- orang kebanyakan. bahkan kini ia yang sudah berani datang ke rumah juga tak pernah ku ajak masuk. kami hanya duduk di teras rumah. itu pun beramai- ramai dengan teman- teman yang lainnya. aku berani mengenal kannya pada keluarga ku karena aku tak mau lagi mereka mengira aku menggoda pacar mereka karena aku jelek. aku juga buktikan kalau ucapan dan hinaan mereka pada ku itu hanya bualan semata. terbukti aku bisa membuat laki- laki idola 1 sekolahan memilih ku untuk jadi pacarnya. hanan ?? hanan tidak ada apa- apanya jika di bandingkan gusti pacarku.
banyak yang mencoba menggoda gusti. tapi sepertinya ia tak merespon godaan cewek- cewek padanya. itu lah yang membuat hubungan kami bertahan hingga kini.
"dah ahh.. kita ke kantin yuk. aku lapar, udah siang juga. ga baik menunda jam makan". ucap gusti sambil menyusun buku- buku ku dan memasukkannya ke dalam tas.
"huu'umm ayukk.." kami pun berjalan bersisian, sebelum kami sampai di kantin banyak mata yang mengarah pada kami.
"mau- maunya dia jadi alarm buat si kiaa.." terdengar suara sumbang salah satu pemilik mata yang mengarah pada kami.
mendengar ucapan itu gusti lansung mengambil tangan ku dan menaut kan jari- jari kami. dan melanjut kan langkah kami menuju kantin. awalnya aku kaget dengan gerakannya yang menariķ tangan ku tadi. tapi selanjutnya aku tersenyum- senyum sendiri melihat wajah para pemerhati kami semakin patah hati.
'mengapa semakin lama sikapnya semakin manis saja ??' lirih batin ku sambil meliriknya yang berjalan di sisi ku tanpa melepas kan tautan tangan kami.
*****
__ADS_1
dering suara panggilan di hp ku terdengar jelas kala aku sedang mencuci piring. telefon itu tak bisa ku angkat sebab cucian piring ku belum selesai. setelah selesai baru lah aku membuka kata sandi di hp ku. ku lihat ada 3 panggilan tak terjawab dari gusti dan beberapa chat darinya..
'yank, aku kerumah mu ya' ~gusti
mungkin karena tak ada balasan dari ku. ia mengirim kan beberapa chat lagi.
'yank..'
'yankkkk..'
beberapa detik setelahnya terlihat lagi chatnya.
'yank. aku mau jalan nih. tunggu aku ya'.
aku tersenyum sendiri melihat isi chat nya. gegas aku masuk ke kamar untuk memantas kan diri. walau nantinya kami hanya duduk di teras rumah. tapi aku tak mau kelihatan jelek di matanya..
'aku udah di depan yank. keluar dong!!'
tanpa membalasnya aku lansung keluar. ku lihat ia sudah duduj di kursi yang memang tersedia di teras rumah kami.
'penampilannya kenapa rapi sekali.. ?'
aku tak henti memandanginya. sertinya ia menyadari tatapn mata ku saat ini yang mengaguminya.
"eheeeemmm !!" ia mendehem yang membuat ku gelagapan salah tingkah..
__ADS_1
"ayah sama emak di mana yank ??" hah kok tumben sekali ia menanyakan keberadaan ayah dan emak ku. biasanya juga kalau kebetulan ayah dan emak ku muncul di teras baru lah ia akan menyalami takzim orang tua ku.
"yank... jangan bengong dong. ayah sama emak ada kan ??"
"haaahhh itu a- ada kok. mereka di ruang tv" ucap ku masih dalam mode heran.
tiba- tia saja ia bangkit dari duduknya dan berjalan menuju ke dalam rumah. walau tanpa di minta aku mengikutinya. aku mau tau saja ia mau apa sekarang ini.
"assalamualaikum mak, ayah..!!". ucapnya lalu menyalami takzim kedua orang tua ku.
"walaikum salam, eh ada gusti. udah lama datang nya ??" ucap ayah dengan ramah.
"belum yah, baru aja kok"
"kia, buat kan gusti minum gih" perintah emak pada ku.
"emmmm itu mak. ga usah repot- repot. sebenarnya aku kemari mu izin emak dan ayah buat bawa kia keluar. ga akan lama kok, cuma bawa dia ketemu sama ibu ku"
blusshhhhhh..
pipi ku memerah. rasanya tak percaya dengan yang ia ucap kan.
setelah mendapatkan izin dari emak dan ayah. kami pun pergi, tempat tinggalnya tidak terlalu jauh dari tempat tinggal ku. hanya memerlukan waktu setengah jam. sayup ku dengar suara hiburan dari kejauhan. semakin kemari semakin terlihat ada keriuhan beserta tenda dan pelaminan dan juga suara musik yang begitu tajam menyapa telinga.
'pesta siapa ini dan mengapa gusti membawa ku ke sini ?? apa ini rumah gusti ??' batin ku terus bertanya- tanya. jujur saja. hingga saat ini aku tak tau di mana rumah gusti. aku hanya tau nama daerahnya saja.
__ADS_1
setelah memarkir kan motornya kami tak lansung turun dari motor itu. ada rasa yang aneh dari dalam hati ku. detak jantung ku juga terasa semakin cepat.
aku deg- degan !!!