Hinaan Dari Keluargaku

Hinaan Dari Keluargaku
bagian 22


__ADS_3

sore hari itu aku sedang berbicara pada ayah ku dengan saluran telepon. di tengah serunya obrolan kami tiba- tiba terdengar suara emak yang mengatakan jika calon suami Heni sudah datang. tentu aku sempat heran..


'calon suami ?' lirih batin ku..


karena ada sedikit yang mengganjal di fikiran ku, aku bergegas mencari Heni ke kontrakannya. tak peduli dengan bagai mana responnya nanti. yang jelas aku akan mencari tau apa rencananya sekarang. kedatangan laki- laki itu ke rumah sudah tentu bukan tanpa alasan, apalagi ia datang dengan menggunakan seragam TNI. aku sudah meminta ayah buat diam- diam mengambil fotonya saat aku mengakhiri telepon tadi.


sesampainya di kontrakan Heni yang aku cari- cari tak aku temui. teman- temannya bilang kalau ia memang sering tak pulang. aku menautkan alis ketika mendengar penuturan teman- temannya. jika ia seperti yang di katakan teman- temannya lalu bagai mana dengan pendidikannya ? aku tak ingin berlama- lama di kontrakannya, aku lebih memilih kembali ke kost ku. namun ada satu hal yang menurut ku tak masuk akal. ketika aku sampai di kost, heni sudah duduk manis di depan pintu kamar kost ku.


"dari mana aja sih dek ?" ucapnya dengan senyum mengembang di bibir.

__ADS_1


degghhhh..


kata- kata yang ia ucapkan paling akhir rasanya sangat menyentuh relung hati ku. bagai mana tidak, selama hidup ku walaupun tinggal satu atap dengannya ia tak pernah sama sekali memanggil ku dengan ucapan 'dek'.. bahkan terakhir kali aku nertemu dengannya. ia mengatakan kepada teman- temannya kalau aku adalah anak tetangganya.


aku terperangah. rasanya telinga ku belum percaya atas apa yang ku dengar dari mulutnya. aku mendekat ke arahnya. ia lansung berdiri dan membawa tubuhku ke dalam pelukannya.


'ya allah.. rasanya aku ingin waktu berhenti berputar agar pelukan kakak ku ini tak pernah berakhir' lirih batin ku. beberapa saat kemudian ia mengurai pelukannya.


"oh.. an- anu a- aku dari kontrakan mu kak" dengar terbata aku menjawabnya. rasanya aku takut menyemat kan kata 'kak' itu untuknya. takut kalau ia akan merasa tersinggung atau tak nyaman dengan panggilan ku untuknya.

__ADS_1


"ayo masuk.. aku ingin lihat kamar kost mu" ia menaruk jari tangan ku sambil memintaku membuka kunci pintu kamar.


"masuk lah kak, cuma begini keadaan kost ku"


"tak mengapa, kenapa kamu tak minta fasilitas sama ayah ? padahal kalau kamu yang minta ayah pasti akan menurutinya loh"


"biar begini aja kak, biar nanti setelah lulus kuliah nggak repot- repot lagi bawa banyak barang pulang ke kampung.


"hemmmpp.. tapi nantinya kan bisa di jual kalau kamu kerepotan membawanya. tapiii.. kamar mu nyaman juga ya..." ucapnya sambil ia duduk di atas ranjang ku.

__ADS_1


kami larut dalam percakapan yang entah sejak kapan hatinya luluh atau bisa menerima keadaan kalau aku adalah adiknya. hingga ponselnya berbunyi dan ia pun izin keluar kamar ku untuk menerima telepon itu. aku tak menghiraukan ia menerima telepon dari siapa dan apa saja yang ia bicarakan. yang jelas aku sangat bersyukur karena ia sudah berubah. dan itu menurutku sangat manis..


'semoga ia akan terus begini ya allah.. terimakasih untuk kebaikan mu ya rab' tak henti- hentinya aku bersyukur.


__ADS_2