Hinaan Dari Keluargaku

Hinaan Dari Keluargaku
bagian 15


__ADS_3

hari ini aku mulai membeli perlengkapan untuk kamar kostku. dari penanak nasi, lemari, kompor, dan juga beberapa piring dan gelas. sesampainya. di kost aku gegas memanaskan daging rendang yang di bekal kan emak. wanginya menyeruak keseluruh ruangan kost.


'hmmmm.. masakan emak ku memang tak ada tandingannya' batin ku.


ku senderkan tubuh ku pada salah satu dinding kamar ini sambilku lirik jam di pergelangan tangan ku.


'sudah sesiang ini tapi heni tak juga memberi kabar' batin ku lagi..


ring.. ring.. ring..


ada nama ayah di layar hp ku. gegas ku usap tombol hijau untuk menerima panggilannya.


"assalamualailum yah" ucap ku.


"walaikumsalam. kamu tu ya, udah merasa paling pintar dan tau segalanya apa ?? sudah jam segini kamu belum juga memberi kabar ke kami. apa kami tak penting lagi bagi kamu ??" aku lansung di sembur dengan omelan emak. ternyata emak yang menelfon ku menggunakan nomor ayah.


"maaf mak. bukan gitu maksud aku. tadinya aku......."


"aku apa ?? kamu tu benar- benar sok tau. itu kota besar. jangan sok apa- apa sendiri. main pigi aja sendiri. ņggak tau apa kalau heni tu nunggui kamu seharian di sana dan hari ini d terpaksa bolos kuliah sebab kepalanya pusing ga tidur semalaman nungguin kamu di bandara!!!!" belum juga aku menelesaikan ucapan ku. tapi emak lansumg tap tup tap tup mengomeli ku kayak radio rusak.


"mak.. dengar dulu. aku udah nungguin heni beberapa jam di bandara. tapi dia nggak muncul. ya aku naik taksi aja sedirian."


"banyak cerita mu. udah sekarang kamu ke tempat heni. kamu bagi tu rendang daging sebagian buat dia. jangan kamu telan sendiri!!"


tutttttttttt...


panggilan di putuskan sepihak oleh emak ku. andaikan emak mau mendengarkan sedikit saja penjelasan ku. kesalahan ku hanya tak memberi kabar pada saat aku sudah di sini. itu aku lakukan agar mereka terlebih dahulu menanyakan ku pada heni. aku takut jika aku salah bicara, heni akan tambah membenci ku.


"hufftttttt" aku membuang nafas. pelik rasanya di posisi ku.


tak menunggu lama aku mengemasi apa- apa saja yang di titipkan emak untuk heni. dengan menaiki taksi aku meluncur ke tempat heni. setengah jam perjalanan taksi yang ku tumpangi berhenti pada sebuah rumah. menurut sopir taksi rumah ini adalah alamat yang aku berikan padanya nanti.


"assalamualaikum.."

__ADS_1


tok tok tok..


ku ketuk pintu rumah itu. tapi tak juga mendapatkan jawaban atas salam yang aku ucapkan. lelah berdiri aku memilih duduk di teras rumah itu. ku ambil hp ku lalu aku menelfon heni. hasilnya masih seperti kemarin. ia tak menerima panggilan ku. sementara orang- orang yang bermukin di sekitar rumah ini sangat ramai yang berlalu lalang. tapi satu pun tak ada yang bisa ku ajak bicara walau hanya sekedar memeritahikan ku penghuni rumah ini siapa dan ke mana.


3 jam aku di sini. baru lah seseorang mendatangi rumah ini. dengan lembut ia melempar kan senyum pada ku.


"cari siapa ya ?"


"aku lagi nyari kakak ku namanya heni" jawab ku mulai mengakrab kan diri.


"oooo heni ya ? mari masuk. kayaknya heni di dalam" ia membuka kan pintu dengan kunci yang ia bawa. ia menuntun ku ada sebuah kamar nomor dua dari depan.


"hen.. hennnnn.." ia menggedor pintu kamar itu. karena tak kunjung di buka akhirnya ia memutar handel pintu dan terbuka yang ternyata pintu itu tak di kunci. "ihhhhh dasar kebo. bangun uyyyyy, ada yang nyariin nih!!" ia menarik kaki heni. dengan malasnya heni duduk di pinggir ranjangnya. ia menatap ku yang masih berdiri di ambang pintu. tanpa aku bertanya pun aku bisa melihat dari tatapannya kalau ia sangat jengah melihat ku.


"mau apaan sih kamu kemari ??" dengan ketus ia berucap.


"hoiii sadis amat sih tatapan mata mu itu hen" sela seseorang yang tadi membukakan pintu untuk ku.


"bising!!" ucap heni sambil melemparkan bantal ke arahnya.


"bodo amat!!"


aku masih menatap mereka berdua yang sedang saling meledek. andai heni bisa bersikap semanis itu pada ku..


"hemmm.. ini ada rendang dan juga oseng kentang kirian dari emak" ku letakkan paper bag yang dari tadi ku teteng di tangan.


"tarok aja di situ. kalau nggak ada yang perlu lagi silahkan pigi" ia menunjuk nakas yang terletak di sisi ranjangnya. aku pun menuruti arah telunjuknya. tanpa berkata sepatah pun aku lansung balik badan meninggalkan kamarnya.


"dia siapa hen ??" temannya itu bertanya perihal ku pada heni.


"itu anak tetangga kami" celetuknya.


deggghhhhhh...

__ADS_1


aku mengehentikan langkah ku sejenak. ada rasa perih yang tiba- tiba melaju di ulu hati ku. dengan langkah gontai aku melanjutkan langkah ku meninggalkan kamarnya. tak terasa air mata ku mengembun di sudut mata. aku menahannya agar tak sampai jatuh.


"dengan jarak ribuan kilo meter dari rumah orang tua kita, kamu tetap tak menganggapku hen..' lirih batin ku.


---------


setelah membeli perlengkapan kuliah aku kembali ke kost ku. hp ku dari ku dengar selalu berdering. aku merogoh hp ku dan menerima panggilan itu.


"dari mana sih ?? kok sekarang kayaknya susah banget buat ngasih kabar ke aku ??" tanpa salam atau berbasa basi dulu gusti mencerca ku.


"aku dari tempat heni yank"


"begitu menyenangkan ya di sana sampai- kamu enggan berkabar dengan ku?"


aku tak menjawabnya. untuk sejenak kami terdiam. yang terdengar hanya isak tangis ku.


"haloo yank. kamu kenapa ??" suara gusti kini sudah melemah. "yank.. maaf kalau ucapan ku tadi menyinggung perasaan mu, aku tak bermaksud menyakiti perasaan mu dengan ucapan ku yank. tolong jangan menangis lagi"


"a-aku menangis bu- bukan karena it-tu yank" ucapan ku terbata sebab tertahan oleh sesaknya dada ku.


gusti mengganti panggilannya dari telfon biasa ke mode video call.


"lalu kenapa yank ?? ayo cerita kan pada ku. walau kini kita berjauhan, aku kan tetap jadi pendengar yang baik buat kamu yank"


"heni yank. D-dia tak mengakui ku. ia bilang pada temannya kalau aku anak tetangganya" tangis ku semakin menjadi. entah mengapa saat melihat wajah gusti di layar hp, perasaan sedih ku semakin membuncah. ia menatap ku dengn sendu, ku lihat rahangnya mengeras. aku terus menceritakan berapa jam aku menunggunya dan segala macam tingkahnya pada ku tadi.


"stop yank !! cukup!! aku tak tahan mendengar tingkahnya. kalau ia di kota ini akan ku pecahkan kepalanya saat ini juga!!" saat itu juga aku menghentikan cerita ku. aku tak mau gusti terseret emosi lebih parah lagi. kami kembali terdiam, saling menatap gambar di layar hp. aku menyeka air mata di sisa tangis ku.


"udah dong yank nangisnya, nanti kulit putih wajahnya terkikis air mata loh" selorohnya. aku masih bergeming.


"tu.. tu lihat hidung mu merah kayak hidung ollaf di kartun frozen itu yank !!" ia menggoda ku lagi.


"ejek trus hidung ku yang besar ini yank!!" aku mengerucutkan bibirkan pertana aku tengah merajuk.

__ADS_1


"ihh yank. hidung besar pun kamu tu sangat cantik tauuu !! awas bibirya nanti di entup tawon baru tau rasa kamu yank"


"biariiin lah. itung- itung menghemat biaya buat sulam bibir. weeekkkkk !!" aku mengejeknya dengan memeletkan lidah ke arahnya. kami sontak tertawa saling becanda. gusti paling nyaman untuk tempat ku berkeluh kesah. ia sungguh pendengar yang baik bagiku. sebab aku dekat dengannya lah yang membuat ku merasa tak perlu punya sahabat. dia sudah bisa menempatkan diri jadi apapun yang aku mau.


__ADS_2