
pov. kia
alman menatap ku dengan tatapan yang sulit ku artikan. tatapannya itu juga terlihat membuat heni sesekali melirik kearah ku yang juga berjalan di sebelahnya.
ku buang pandangan ku dari arah alman ke arah emak dan ayah ku yang sangat terlihat sumbringah akan kedatangan kami.
aku juga harus tetap terlihat biasa-biasa saja walau sebenarnya aku sudah tau kalau perubahan kakak ku hanya lah palsu. sebab aku mendengar obrolannya dengan pria yang kini sedang menatapku kala itu.
"mak.. ayah.. aku rindu !!" ucap ku sambil menghambur ke dalam pelukan emak dan ayah ku. sementara heni ia lebih memilih menghampiri kekasih hatinya itu.
"emak masak apa ? aku lapar."
"masak ikan baung sale di gulai dengan daun ubi. kamu pasti suka, gulainya pedas loh. full cabe rawit kesukaan kamu" ucap emak sambil mengurai pelukannya.
"wooww.. aku sudah lama tidak merasakan ikan baung mak. apalagi di sale.. hmmm.. yuk mak, cacing di perutku sudah demo" aku menarik tangan emak dan ayah untuk menuju dapur.
"heni dan nak alman ayok kita makan bareng" ajak ibu kepada dua sejoli itu.
di meja makan alman selalu mencuri pandang ke arah ku. walau aku risih. tapi aku mencoba untuk pura-pura tak tau dengan tingkahnya itu. aku menyantap makanan di piring ku hingga kandas.
"hmmmm.. masakan emak nggak ada lawan deh.." ucapku sambil mengusap perut ku. sengaja ku buat tingkah semenjijikkan mungkin agar alman merasa aku adalah wanita yang tak ada manis-manisnya sama sekali.
"iya.. tapi pedasnya nggak ketulungan. buat aku nggak bisa makan aja" ucap heni dengan wajah murung.
__ADS_1
"tapi emak juga masak semur ayam tuh buat kamu yang nggak suka pedas hen" tunjuk emak ku ke mangkuk yang berisikan ayam semur di atas meja makan.
"tapi aku kan juga suka ikan sale baung di gulai mak." heni terlihat ingin memulai perdebatan. begitu lah sifatnya. hal kecilpun akan ia besar-besarkan demi mendapatkan kepuasan dirinya.
"yaudah.. besok emak masak lagi ikan baung salenya. tapi yang nggak pedas ya kan mak" ucap ku menengahi. sebenarnya aku muak jika harus mendengar debat dari mulut heni.
"iya.. besok emak gulai dengan kacang panjang kesukaan mu. kamu kan nggak suka daun ubi, kamu bilang daun ubi nggak terlalu bagus untuk kesehata." suara emak terdengar sangat lembut saat membujuknya.
sesi makannya telah selesai, aku lebih memilih masuk ke kamar ku untuk beristirahat. tapi yang ada bukannya istirahat. pikiran ku menerawang jauh mencari cara untuk mengantisipasi akal licik heni dan alman. aku tau dari tatapannya seperti tersirat keinginan yang mendominasi ketertarikan terhadap ku.
kreettt..
aku mendengar pintu kamarku di buka. aku memejamkan mataku agar yang datang itu mengira aku tengah tidur. namun mata ku tak tertutup rapat. aku membuka sedikit celah agar aku bisa melihat siapa dan apa yang akan dia lakukan di kamar ku. dia heni.. walau hanya samar tapi dengan pencahayaan lampu kamar yang terang sangat terlihat sekarang ia sedang mengendap ke arah lemari pakaian ku. dengan cepat sigap ia memasukkan sesuatu yang ia ambil dari lemari ke dalam bajunya. setelah itu ia dengan cepat kilat keluar dari kamar ku. aku tersenyum setelah tau kalau yang ia ambil hanya satu stel baju ku. mungkin karena gaya hidupnya yang kini berbeda. ia tak punya pakaian yang sopan untuk ia pakai saat ini sehingga ia harus mengambil bajuku. setelah aku mandi dan berganti pakaian aku mendengar suara teman-teman ku yang sudah ramai memanggil nama ku dari luar.
"pasti mereka tau aku pulkam" ucap ku sambil tersenyum melangkahkan kaki keluar dari kamar.
"ya dong bestie, kami tau kalau kamu pulkam.." ucap kiki yang juga di angguki oleh mei, nisa dan utari.
"aku rindu kalian semua bestie.." aku dan empat orang teman ku saling berpelukan..
"heiii binatang.. lepaskan baju itu, lepasssss !!" sontak kami berlima menoleh ke arah pemilik suara. "apa ucapan ku kurang jelas ? lepas baju itu, kamu tak berhak memakainya !!" ucapnya lagi dengan suara lebih lantang.
"emangnya kamu pakai baju siapa kia ??" ujar meilia sambil memindai dari ujung kepala hingga ujung kaki ku.
__ADS_1
"oh astagfirullah.. aku tak tau kalau baju ini miliknya. aku tadi asal comot aja pakaian yang ada di koper yang aku bawa tadi" aku merasa konyol karena tadi tak memperhatikan baju yang aku pakai.
"dah.. yuk kita ke kamar mu. ganti tu pakaian mu. kita malam mingguan di luar." ajak utari sambil mendorong tubuh ku kembali masuk ke kamar.
"tuh.. kamu lebih cantik dengan baju mu sendiri.. jadi jangan lagi sentuh barang-barang milik rubah betina itu ya bestie" utari mulai menasehati ku layaknya seorang pemuka agama.
"eit.. tapi tunggu dulu.. aku seperti pernah lihat tuh baju yang di pakai heni tadi. tapi di mana ya ?" kiki terlihat mengingat sesuatu.
"itu kan baju ku yang ia pakai bestie.." ucap ku.
"haa yaa itu dia.. pantas aku merasa pernah lihat kamu pakai baju itu.. ga tau malu ya dia, pakai barang-barang mu seenak dia. barang-barang dia tak mau di usik. mana ngasih taunya sambil mempermalukan segala.." cerocos kiki sambil tertawa.
"namanya otak udang.. isinya ya cuma kotoran..!!" kami tertawa mendengar ucapan nisa.
benerapa saat kemudian kami berlima sampai di cafe tempat tongkrongan kami yang biasa. kami bersenda gurau layaknya tak punya beban sama sekali. tiba saatnya aku menyanyi menghibur pengunjung cafe. semua larut mengikuti lagu yang aku nyanyikan. di sini lah jiwa ku yang sebenarnya, bebas mengekspresikan dunia ku lewat alunan lagu. tapi aku juga tak pernah egois, ayah ku ingin aku menjadi seorang pendidik. jadi aku juga mengikuti kemauan ayah ku.
tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 22.00 malam. kami memutuskan untuk kembali pulang ke rumah masing-masing.
bugghhhh..
"auhhh.. maaf aku tak sengaja, tadi aku tidak melihat jalan karena aku buru-buru" ujar ku pada orang yang baru saja bertubrukan dengan ku.
"nggak masalah.. santai sajalah" ucap gadis itu dengan jutek.
__ADS_1
'aneh.. ngomongnya nggak masalah. tapi kok masang wajah jutek gitu' lirih batin ku. tatapan ku terus saja mengikuti kemana gadis itu berjalan. hingga tiba di pintu masuk cafe terlihat ia sudah di tunggu oleh seorang pria di sana. tapi pria itu.....
"ahhhh mungkin aku salah lihat. bodo ah.. mending pulang" aku pun lansung menstarter motor ku menuju ke rumah.