
Nancy syok berat melihat Darren memakai ikatan handuk yang melilit di area pinggangnya. Terlihat Amira yang sedang merapihkan semua bajunya ke dalam lemari. Dengan sulut emosi Nancy segera menuju ke arah Amira, Darren yang melihat hanya mengerutkan keningnya.
"Sayang, kenapa kamu tidak pergi ke kantor," ujar Nancy mengagetkan Amira yang sedang fokus merapihkan semua pakaiannya.
"Kau perempuan kampung, kenapa kamu bisa ada di sini, cepat bereskan semua barang-barangmu dari kamarku atau tidak! Aku yang akan menendangmu dari sini," pekik Nancy kembali menunjuk tajam ke arah Amira.
"Stop! seharusnya aku yang bertanya kepadamu Nancy. Dua hari ini semenjak aku ke negara A ke mana saja kamu hah," hardik Darren.
"Ak-ku, Nayra mana?" Tanya Nancy mengalihkan pembicaraan.
"Aku tidak ingin membahasnya," ujar Darren menatap tajam.
"Apa yang kamu katakan? Dan untuk kamu perempuan kampung pergi dari kamarku," titah Nancy.
"Maafkan aku, ta-pi," ujar Amira menundukan wajahnya. Amira tidak tahu bahwa Darren sudah berada di dalam kamar memakai handuk kecil yang melilit di area pinggang. Amira pikir Darren sudah berangkat ke kantor, Amira juga masih bertanya-tanya siapa Nayra.
"Cukup!" Hardik Darren.
"Sayang, kenapa kamu membentukku?" Tanya Nancy menghampiri Darren yang sedang menunjuk tajam ke arahnya.
"Sekarang Amira akan tidur di kamar ini denganku, karena ini kamarku dan dia istriku," pekik Darren dengan amarahnya.
"Kau kenapa sayang, setelah dua hari ini kamu tidak mengabariku sedikitpun bahwa kamu sudah pulang ke sini. Dan tiba-tiba saja kamu marah dan mengusirku dari hadapan wanita kampung ini. Aku yakin kamu pasti di guna-guna sama wanita sialan ini," ujar Nancy mencoba memeluk Darren.
"Kau habis dari mana?" Tanya Darren dingin.
"A-ku," ucap Nancy tidak melanjutkan bicaranya. Darren berhasil menepis pelukan Nancy, membuat Nancy geram.
"Kau pergilah, dan jangan pernah menginjakkan kakimu lagi ke rumahku," pekik Darren membuat Amira dan Nancy tercengang. Amira hanya bisa diam tidak berani bersuara karena Darren lagi emosi yang memuncak.
__ADS_1
"Sayang, kamu tidak waras lebih memilih perempuan kampung ini di banding aku," ujar Nancy mencoba memeluk Darren. Namun, pelukannya di tepis lagi oleh Darren untuk kedua kalinya.
"Pergi!" Titah Darren.
"Tidak mau, aku calon istrimu! Dan untuk kamu perempuan kampung, aku tahu kau yang meracuni otak calon suamiku hah," pekik Nancy berlari ke arah Amira. Rambut Amira berhasil Nancy raih. Nancy menjambak rambut Amira hingga Amira meringis kesakitan.
"Nancy apa-apaan kau ini," pekik kembali Darren.
"Kalau kamu berani mengusirku dari rumah ini, aku tidak akan segan-segan mencelaku istri sialanmu," ujar Nancy menyeringai.
Darren berpikir untuk membiarkan Nancy di rumah ini untuk sementara waktu. Darren akan memanas-manasi Nancy dengan Amira. Darren juga ingin tahu sampai kapan Nancy akan pergi meninggalkan dirinya.
"Oke baiklah, tapi lepaskan Amira dari tangan kotormu itu," titah Darren. Nancy tercengang mendengar ucapan Darren untuknya. Membuat Nancy semakin emosi.
Nancy segera mendorong Amira ke arah balkon jendela. Hingga Darren yang melihatnya syok, Amira sudah berada di tepi balkon, dan sedikit lagi akan jatuh ke bawah.
"Nancy kau sudah gila, kenapa kamu berbuat seperti ini," pekik Darren.
"Tidak, kaulah penyebab semua kekacauan ini Amira wanita kampung. Aku bisa saja melenyapkanmu dari muka bumi ini, semua berubah, Darren berani mengusirku dari hidupnya. Tidak aku mencintainya dia tidak boleh jatuh ke dalam pelukanmu," hardik Nancy menatap tajam sambil mengeratkan kembali jambakan rambut Amira.
"Tolong lepaskan Amira, dia bisa jatuh dari atas balkon," bujuk Darren.
"Tidak, cepat katakan, kenapa kamu berubah seperti ini," ujar Nancy menatap tajam ke arah Darren.
Tanpa pikir panjang, Nancy Darren dorong ke pinggir, dan berhasil menyelamatkan Amira dari amarah Nancy. Darren memel*k Amira dengan sangat erat. Entah mengapa Darren menemukan kedamaian di dalam dekapan Amira. Sebelumnya belum pernah Darren mendapatkan kenyamanan seperti ini.
Darren segera melepaskan pel*kannya dari Amira. Nancy yang melihat mereka berdua mengepal geram. Hatinya cemburu, ingin sekali Nancy membunuh Amira saat ini juga.
"Sayang, aku cintamu dan bukan Amira. Kamu berubah sekali, aku tahu wanita ini yang telah menyebabkan semua kekacauan di antara kita berdua," ujar Nancy.
__ADS_1
Nancy menghampiri Darren dan Amira yang sedang melihat ke arahnya. Nancy melihat vas bunga ada di sebelahnya, segeralah Nancy melemparkan vas bunga itu ke arah wajah Amira.
Praakk.
Vas bunga berhasil mengenai tangan Darren untuk melindungi Amira dari amukan Nancy.
Tangan Darren mengeluarkan banyak darah.
"Kamu berdarah," ujar Amira khawatir.
Nancy mengepal geram melihat Amira begitu panik dan perhatian kepada Darren. Sulut emosinya memuncak, dia segera mengambil pecahan vas bunga untuk melukai Amira kembali.
"Dasar wanita kampung sialan," pekik Nancy.
"Nancy," hardik Darren menatap tajam ke arahnya yang akan mencoba melukai Amira untuk kesekian kalinya.
"Aku mencintaimu Darren, kembalilah padaku, aku yakin wanita ini penyebab semua kehancuran di antara kita," ucap Nancy mencoba merayu Darren. Nancy berhasil mengeluarkan air mata palsunya untuk mendapatkan belas kasihan dari Darren.
Di satu sisi, Darren sedang mencari keberadaan anak aslinya yang sudah berhasil Nancy buang. Nancy menipunya dengan Nayra anak dari Jimy dengan Nancy. Darren benar-benar marah mengetahui semua kebohongan Nancy, dan masih banyak lagi info mengenai Nancy yang belum Darren ketahui. Saat ini Ken sedang mencari anak Darren yang berhasil Nancy buang.
JANGAN LUPA DUKUNG AUTHOR.
LIKE
KOMEN
VOTE
RATING 5
__ADS_1
HADIAH.