Hot Widower ( Terjerat Cinta Sang Duda )

Hot Widower ( Terjerat Cinta Sang Duda )
Ketakutan Darren


__ADS_3

Setelah selesai sarapan pagi, Clara di haruskan pulang terlebih dahulu, mengingat Ibu Farrah sudah tiba di bandara. Dua Minggu mereka berlibur di luar negri menghabiskan waktunya sebelum kedua anak kembar Clara masuk sekolah lagi.


"Aku pamit dulu, jaga Amira baik-baik Kak," ucap Clara memeluk Darren, Amira juga Aida.


"Itu pasti, hati-hati di jalan sampaikan salamku pada mereka berdua," pekik Darren. Clara pun tersenyum dan melambaikan tangannya sambil masuk ke dalam mobil.


"Sayang, hari ini aku tidak masuk ke kantor," ujar Surya sambil terus menyetir mobilnya.


"Kenapa?" Tanya Clara mengerutkan keningnya.


"Apa kamu sakit sayang?" Tanya Kembali Clara.


"Tidak, aku hanya ingin bersamamu seharian ini," goda Surya.


Clara hanya terkekeh, kehamilan anak ketiganya mereka, Surya selalu ingin ada di dekat Istrinya.


"Aku mencintaimu," seru Surya.


"Aku juga lebih mencintaimu juga anak-anak kita," sahut Clara. Di dunia ini Surya mungkin merasa lebih bahagia mendapatkan sosok Istri yang sudah bertahun-tahun bersamanya. Selalu ada dan menerima segala kekurangannya membuat Surya takut kehilangan Clara. Kelahiran anak kembar mereka menyisakan trauma di dalam jiwa Surya mengingat masalalu mereka saat Clara melahirkan Zico juga Zaki membuat Surya takut kehilangan Istrinya lagi.


Di rumah Darren.

__ADS_1


Amira sibuk dengan pekerjaannya, Aida pun ikut membantu membereskan bekas mereka sarapan. Amira yang melihat Aida membantu semua pekerjaan rumahnya membaut Amira tersenyum. Padahal ada pelayan di rumah mereka akan tetapi Amira sudah terbiasa melakukan pekerjaan rumah dengan sangat baik.


"Aida, kamu duduklah jangan ikut membereskan semua ini. Sebentar lagi juga akan segera selesai," ujar Amira lembut.


"Ta-pi," lirih Aida.


Amira tersenyum melihat Aida duduk kembali ke tempat duduknya di meja makan. Di dalam pikirannya hidupnya ini merasa lucu, usia Amira masih terpaut muda 21 tahun dan kini ia sudah menikah juga sudah mempunyai anak remaja.


"Aida kau sebut aku Mamah saja, itu bisa lebih akrab bagi kita. Apa kamu tidak keberatan?" Tanya Amira hati-hati.


"Mamah, aku suka, sudah lama aku merindukan sosok orangtua sepetimu. Terima kasih sudah menyayangiku menerimaku sebagai anak tirimu," ucap Aida menghambur pelukan Amira.


"Shuut, kau ini bukan anak tiri, kau anakku! Di antara kita tidak anak tiri atau Ibu tiri kau mengerti!" Seru Amira memeluk hangat Aida.


Amira menyadari kehadiran Darren di antara mereka membuatnya canggung dan ada rasa gugup untuk sekedar mengeluarkan sepatah kata kepadanya.


"Amira, Ken sudah mengurus semuanya. Lusa kita pergi ke persidangan, akan tetapi Nancy tidak bisa menghadiri sidang itu," ucap lirih Darren.


"Nancy kenapa Pah," tanya Aida melepaskan pelukannya pada Amira. Sebutan Nancy kepada orangtuanya sudah melekat di dalam hati Aida mengingat perlakuan mengerikan yang di berikan Nancy kepadanya membuat Aida merasa gesar. Selama hidupnya Nancy melarang Aida memanggilnya dengan sebutan Mamah atau Ibu, kalau pun Aida memaksa untuk menyebut nama Mamah kepada Nancy dia akan menyiksanya.


"Dia sakit, sekarang ada di rumah sakit," sahut Darren membuat Aida tercengang.

__ADS_1


Aida berusaha cuek kepada Nancy, untuk sekarang dirinya tidak mau mendengar atau melihat wajahnya itu akan membuat hati Aida terasa sakit.


"Apa yang harus aku lakukan, maafkan aku Amira untuk sekarang ini aku takut menyentuhmu karena Nancy terkena penyakit mematikan. Aku akan priksa keadaanku sekarang kepada Dokter," batin Darren.


Amira yang melihat Darren sedikit melamun, segera menghampirinya. Berusaha mendekatkan dirinya agar tidak terlalu gugup saat bersamanya.


"Apa yang kamu pikirkan? Aida kamu pergilah ke kamar, istirahatkan badanmu, keadaanmu belum pulih betul," titah Amira yang di angguki oleh Aida.


"Tidak, hari ini aku ada meeting penting, kau jaga diri baik-baik di sini jaga Aida. Terima kasih sudah menerima kita berdua ada di dalam hidupmu," ucap Darren memeluk Amira.


"Sudahlah, aku menerimamu sepenuh hatiku, kabari aku jika kamu sudah sampai," ucap Amira. Darren pun mengecup kening Amira dengan sangat lembut untuk pertama kali-nya Darren melakukan ini kepada Amira.


Darren pun pergi meninggalkan rumah, untuk pergi ke Dokter spesialis memeriksa keadaanya, apakah dirinya terkena penyakit yang sama seperti Nancy alami.


JANGAN LUPA DUKUNG AUTHOR.


LIKE


KOMEN


VOTE

__ADS_1


HADIAH


RANTING 5


__ADS_2